Aruh Film Kalimantan: Dirikan Layar Tancap, Intimkan Film dengan Masyarakat

PULUHAN tahun lalu, layar tancap menjadi ruang hiburan masyarakat menikmati sinema. Lamat-lamat, pertunjukan out door itu hilang ditelan zaman. Tergantikan oleh gempuran bioskop, kepingan VCD, serta mudahnya akses film lewat layanan internet.

UPAYA untuk membuka memori lawas itu kembali digarap Forum Sineas Banua (FSB). Lewat rentetan agenda Aruh Film Kalimantan 2018.  Bertempat di SDN 5 Sungai Miai, Jalan Cemara Ujung, Kelurahan Sungai Miai, Kecamatan Banjarmasin Utara, digelar pemutaran film lewat pola layar tajak (tancap), Jum’at (02/11/2018) malam.

Hiburan langka ini jelas tidak dilewatkan warga sekitar. Mayoritas pemutaran film dihadiri oleh ibu-ibu yang membawa buah hatinya. Seperti Maslika, misalkan.

“Jarang-jarang ada acara kayak begini, kebetulan lewat jalan sini, eh tahunya ada layar tancap.  Jadi setop sama anak saya buat nonton,” ujarnya kepada jejakrekam.com.

Total sebanyak tujuh film yang diputar dalam agenda pemutaran film. Dari genre drama, komedi, hingga action. Agar menyentuh lokalitas, seluruh film yang disajikan berasal dari karya sineas lokal Banjar.

Programmer Layar Tajak, Munir Shadikin menyebut pemutaran film lewat perkampungan ini digelar bukan semata-mata hiburan belaka. Lebih-lebih, Munir ingin acara ini menjadi ruang kebudayaan masyarakat supaya kembali dekat dengan film.

“Sekarang mulai jarang adanya layar tancap. Kita tahu, menonton film sekarang bisa mudah sekali dilakukan lewat ruang-ruang privat seperti di rumah yang atau tempat-tempat lainnya. Itu terkesan ekslusif,” ujar Munir.

Padahal, menurut dia, emosi penonton jelas lebih mudah terbawa ketika menonton bersama-sama. Apalagi, jika diusung dengan konsep layar tancap seperti yang mereka gelar.

“Semacam terjadi amplifikasi emosi. Jadi, ketika menonton film horror, takutnya lebih berasa. Begitu pula dengan film komedi,” kata Munir, memberi contoh.

Tak cuma memberi ruang untuk penonton, Layar Tajak merupakan ikhtiar  mengapresiasi karya-karya sineas lokal. Seberapa saja kualitas film yang dibuat, Munir ini menyebut  agenda ini merupakan proyek tolak ukur kualitas perfilman Banua. “Kualitas film masih di bawah standar, tapi inilah kita,” tegasnya.

Lantas, setelah ini apakah pemutaran film ini berhenti begitu saja?  Untuk jangka pendek, agenda layar tajak bakal kembali diputar di empat titik. Di antaranya, Kantor Kepala (Pambakal) Desa Lok Baintan, Tanah Lapang Sungai Baru, halaman Langgar Ukhuwah Islamiah Kuin Selatan, dan RPTRA Benua Anyar.

Setelahnya, Munir mengatakan mestinya pemutaran sinema dengan pola layar tajak bisa dilakukan lagi. Namun, dengan catatan perlu kedewasaan dalam memahami konten film yang bakal diputar. Terutama oleh pihak yang memberi izin pemutaran film di ruang publik. “Kita perlu dukungan oleh lembaga seperti itu,” tandasnya.

Hiburan Makin Canggih, Kebersamaan Kian Tersisih

Penggiat Seni dan Sastra Banjar, YS Agus Suseno mengatakan tempo dulu Banjarmasin sebenarnya penuh penuh dengan sajian layar tancap. Ambil contoh, Bioskop Kamaratih, Jalan Pangeran Antasari dan Layar Tancap di kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR) di sekitar Pelabuhan Trisakti.

“Keduanya tergolong bioskop misbar (gerimis bubar),” ujar Agus. Bioskop misbar sendiri merupakan istilah lain dari layar tancap yang melekat bagi warga, khususnya Kota Banjarmasin. Namun, beda zaman, jelas beda hiburan. “Kini orang bisa menghibur diri di bioskop full AC. Kalau malas keluar rumah, tinggal pencet remote. Segala macam film tersedia dalam TV kabel,” tambahnya.

Dirinya jelas tak terlalu menyalahkan perkembangan zaman.  Tetapi, bagi Agus, beda tontonan juga turut membedakan perilaku orangnya. Dalam sajian misbar/layar tancap,  komunalisme, kebersamaan, keakraban dan kepedulian antarwarga masyarakat tergolong lebih kuat terbentuk.

“Berbeda dengan yang sekarang, kini moda hiburan makin canggih. Tapi individualisme dan egoisme membuat kebersamaan kian tersisih,” ujar sastrawan yang sering menulis puisi berbahasa Banjar lewat laman media sosialnya ini.

Menurut Agus, bukan tak mungkin jika sajian layar tancap bisa digagas ulang secara rutin. Dia memberi opsi, lebih baik pemutaran dilakukan di wilayah pinggiran kota. Misalnya saja, Banjarmasi Selatan dan Banjarmasin Utara.

“Itu pun, kalau ingin bertahan, lebih memungkinkan yang gratisan. Kalau harus beli tiket, sulit. Orang lebih memilih untuk membelanjakan uangnya di Pasar Tungging, ketimbang beli karcis bioskop misbar,” ujarnya, berseloroh. (jejakrekam)

Penulis Donny Muslim
Editor Didi GS
Anda mungkin juga berminat
Loading...