Apakah Indonesia Sudah Benar-benar Direformasi?

BANJAR Public Initiative menggelar diskusi kilas balik 20 tahun reformasi. Setia Budhi dan Anang Rosadi Adenansi menjadi pembicara dalam refleksi 20 tahun tumbangnya rezim Orde Baru.

INISIATOR diskusi Rahmad Hidayat mengatakan, diskusi refleksi 20 tahun reformasi sebagai bentuk evaluasi terhadap tuntutan rakyat saat memperjuangkan reformasi pada dua dekade lalu, yang tidak terselesaikan dengan baik hingga saat ini.

“Indonesia sekarang bukan menerapkan demokrasi substansi, dengan artian demokrasi yang mensejahterakan rakyat tetapi demokrasi pesta pora yang berbiaya besar. Reformasi bukan tujuan akhir, tetapi sebuah awal yang baru,” beber mahasiswa Fisip Universitas Lambung Mangkurat ini.

Setia Budhi mengatakan, tuntutan reformasi diawali dengan gerakan mahasiswa yang tidak muncul begitu saja, tapi dimulai dengan diskusi dan gerakan dialogis di kampus-kampus dengan berbagai fenomena yang berkembang di masyarakat.

“Namun Reformasi hanya menumbangkan Soeharto. Saat ini belum memadai insfrastruktur ekonomi, sosial, politik dan budaya, serta ideologi partai politik yang tidak jelas,” ucap jebolan Universiti Kebangsaan Malaysia ini.

Iklan Samping 300×250

Ia mengatakan, sekarang dialog bernegara didominasi dialogis tentang kecemasan tentang rentetan peristiwa yang terjadi belakangan, misalnya hutang negara menumpuk, pertumbuhan ekonomi merosot, kebebasan berpendapat terkungkung. Jadi, sudah seharusnya gerakan mahasiswa muncul ke permukaan menjawab keresahan masyarakat.

Sementara, Anang Rosadi Adenansi menilai reformasi yang terjadi di tahun 1998 hanya “ganti baju” yang terpusat pada multi partai, namun hal-hal yang fundamental belum dilaksanakan sepenuhnya.

“Banyak orang berbondong-bondong masuk partai politik dan menjadikannua sebuah pekerjaan, bukan sebagai bentuk mendedikasikan diri mengabdi kepada masyarakat,” tutur mantan anggota DPRD Kalsel ini.

Ia menambahkan, tantangan mahasiswa sekarang adalah korupsi yang telah mendarah daging di semua lapisan masyarakat, dan menggilanya persaingan politik elektoral. Mahasiswa harus menjadi agent of change di tengah masyarakat.

“Saya menawarkan Piagam Borneo, yaitu membatasi transaksi uang tunai, mendaftar semua aset negara dan masyarakat indonesia, pemutihan dan pengakuan keabsahan kepemilikan, penerapan undang-undang pembuktian terbalik, dan penegakan hukum yang keras, tegas dan berwibawa,” tegasnya.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Andi Oktaviani
Anda mungkin juga berminat
Loading...