Sentuhan Tangan HM Arip, Sang Ketua Pedoman Besar Sarekat Islam Banjarmasin

DUNIA pergerakan para aktivis Islam dan nasionalis di Tanah Banjar era kolonial Hindia Belanda, tak terlepas dari tangan dingin seorang HM Arip. Seorang pedagang andal kelahiran Bakumpai (kini Marabahan, Kabupaten Barito Kuala) yang pulang pergi Banjarmasin-Surabaya. Pria yang bernama lengkap H Matarip atau H Muhammad Arif Bakumpai inilah yang membawa organisasi pergerakan seperti Sarekat Islam ke Kalimantan.

DIDIDIK sebagai seorang pedagang muslim yang kritis terhadap aksi penindasan penjajah dari ‘mahaguru’ H.O.S Cokroaminoto. Guru yang juga mendidik dan melahirkan tokoh nasional seperti Soekarno. Meski ketika itu, pemerintah kolonial Belanda menerapkan politik etis atau politik balas budi, setelah melihat penderitaan rakyat pribumi di tanah jajahan, toh tak sepenuh hati.

Politik etis pun ini muncul ketka Pieter Brooshooft, wartawan Koran De Locomotief dan C.Th. van Deventer, seorang politikus Belanda di Negeri Kincir Angin mengeritik pemerintah Kerajaan Belanda yang seakan tutup mata dengan nasi para bumiputera yang terbelakang, terutama di Hindia Belanda (kini Indonesia).

Hingga pada 17 September 1901, ketika Ratu Wilhelmina naik takhta, di depan Parlemen Belanda, sang ratu pun menuangkan panggilan moralnya dalam kebijakan politik etis sebagai panggilan moral dan utang butih (een eerschuld). Visi sang ratu pun terangkum dalam Trias Van Deventer mencakup pembangunan irigasi (pengairan), imigrasi serta edukasi dengan memperluas bidang pengajaran dan pendidikan di tanah jajahan.

Namun, tetap saja, kebijakan itu hanya setengah hati. Kalangan bumiputera tetap terbelakang, hingga akhirnya gerakan pendidikan dan penguatan kader-kader bangsa mengemuka. Salah satunya yang dilakoni murid pendiri Sarekat Islam, H.O.S Cokroaminoto bernama HM Arip, yang akrab disapa Haji Arip Bakumpai.

“Sosok HM Arip tak bisa dipisahkan sebagai pembawa Sarekat Islam ke Kalimantan. Dia juga yang menjadi Pedoman Besar Barisan Indonesia (BINDO) serta Pelindung Persatuan Pemuda Marabahan (PPM) yang berdiri pada 1 Maret 1929,” ucap peneliti sejarah, Wajidi Amberi kepada jejakrekam.com, Sabtu (7/4/2018).

Kehadiran Arip Bakumpai dalam dunia pergerakan juga mempengaruhi para pemuda dan aktivis di Kalimantan. Hingga organisasi seperti Sarekat Islam berdiri di berbagai kota seperti di Barabai, Amuntai, Marabahan dan Banjarmasin, tentunya. Sebagai pusat pergerakan Sarekat Islam, semua bermarkas di Gedung Cahaya Tatas.

“HM Arip juga merupakan  Ketua Pedoman Besar Sarekat Kalimantan yang berdiri di Marabahan pada tahun 1930. Dia juga yang menjadi Pelindung PNI Pendidikan di Marabahan tahun 1932. Sosoknya juga menjadi pendorong berdirinya perguruan Taman Siswa di Marabahan,” tutur Wajidi.

Iklan Samping 300×250

Kiprah HM Arip juga melahirkan para pedagang andal yang kritis seperti  H Abdussyukur. Putra H Abdul Aziz, seorang Wedana Bakumpai  (Demang Wangsa Negara) di era Kesultanan Banjar ini pun merelakan rumah mewah sekaligus gudang dagangnya di tepi Sungai Marabahan untuk menjadi markas Sarekat Islam Cabang Marabahan.

Bagi warga Bakumpai, khususnya di Kota Marabahan, kini mengenal rumah perjuangan itu sebagai Rumah Bulat.  Rumah yang berarsitektur tipe Joglo, laiknya rumah-rumah pedagang besar Tionghoa di Pecinan, Banjarmasin, dari sosok HM Arip melahirkan tokoh-tokoh pergerakan di Marabahan, Banjarmasin serta kota-kota lainnya di Kalimantan.

Dari sentuhan tangan HM Arip, pemuda Kalimantan juga membuka diri dalam dunia pergerakan. Sebut saja, usai Sarekat Islam, hadir pula Partai Nasional Indonesia (PNI) bentuk Soekarno,.

Bahkan, dedikasinya dalam pengajaran di bawah nasional Pendidikan Nasional, terutama di Marabahan, HM Arip merelakan anaknya menjadi guru pengajar bagi PPM, hingga akhirnya organisasi ini melebut dalam Sarekat Kalimantan pada 1930.

“Saat itu, Ketua Pedoman Besar Sarekat Kalimantan adalah HM Arip. Tujuan dari Sarekat Kalimantan adalah mendorong pencerahan pemuda dalam gerakan sosial dan perekonomian,” ucap Wajidi.

Hingga, dalam Kongres Sarekat Kalimantan II di Barabai, pada 1931-setelah sebelumnya Kongres I digelar di Rumah Bulat Marabahan- melahirkan keputusan untuk mengubah diri menjadi Barisan Indonesia (BINDO). Kembali lagi, mayoritas peserta kongres mempercayakan sebagai Ketua Pedoman Besar adalah HM Arip.

Gerakan HM Arip dalam dunia pengajaran juga terlihat dari terbentuknya pendirian Particuliere Hollandsche School (PHIS) pada 1929 di Rumah Bulat Marabahan. Dari sini, dunia pergerakan pun membuka diri, terutama para aktivis dari Pulau Jawa yang datang ke Tanah Kalimantan, bukan hanya PNI Soekarno, termasuk pula anggota Partai Republik Indonesia (PAR) bentukan Tan Malaka, serta organisasi pergerakan lainnya.

Dari produk pendidikan ala HM Arip, melahirkan para pejuang kemerdekaan yang merebut dan mempertahankannya dari tangan penjajah.(jejakrekam)

 

 

.

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.