jejakrekam.com

semua ada di sini

Sunday 21st January 2018

Film Pangeran Antasari di Mata Pemeran Utama Egy Fedly

Film Pangeran Antasari di Mata Pemeran Utama Egy Fedly

PEMUTARAN perdana Film Pangeran Antasari, Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing yang berlatar belakang Perang Banjar (1859-1905, berbeda dengan versi dokumen Belanda hanya berlangsung 1859-1863) di Stadio XXI Duta Mall Banjarmasin, Senin (1/1/2018), mengundang antusiasme penonton.

DARI tiket yang dibagikan gratis sebanyak 1.400, namun diklaim jumlah penonton film garapan PT Cahaya Kristal Media Utama, dengan bintang utama Egy Fedly sebagai Pangeran Antasari, dan Helmania Putri, serta pemain utama lainnya dari kalangan seniman Kalimantan Selatan, mencapai 1.500 orang.

Film yang disutradari Irwan Siregar secara garis besar menceritakan perjuangan pahlawan Tanah Banjar, Pangeran Antasari dan pasukan merebut Benteng Orange Nassau di Desa Pengaron, Kabupaten Banjar, yang merupakan simbol kekuatan kolonial Belanda. Berdurasi 90 menit, film ini pun menuai kontroversi. Ada yang merasa puas atau juga mengeritik film semi kolosal ini.

“Walau persiapan masih kurang dan dengan waktu yang singkat, saya tetap puas dengan hasil film ini,” ucap Egy Fedly, pemeran utama Pangeran Antasari kepada jejakrekam.com, seusai nonton bareng yang digelar Pemprov Kalimantan Selatan.

Aktor yang kini berusia 61 tahun ini berharap dengan dirilisnya film Pangeran Antasari, bisa dilanjutkan film-film daerah yang mengangkat sejarah dan kearifan lokal. “Saya kira banyak tema yagn menarik untuk diangkat menjadi film. Apalagi, cerita-cerita banyak belum diketahui publik,” ucap Egy Fedly.

Pria yang terakhir berperan di Film Pengabdi Setan (2017) ini mengakui dalam alur cerita Film Pangeran Antasari, justru banyak tokoh pejuang rakyat Banjar yang layak diangkat dalam suguhan film.

Satu kendala yang diakui pria yang bernama asli Eggi Fadli ini adalah masalah bahasa. Kendala ini diakui Egy Fedly, membuat penggarapan proyek film ini hampir tiga bulan lamanya. Padahal, beber dia, hampir tidak ada persiapan untuk ikut bermain dalam film bertajuk aksi heroik melawan penjajahan, terutama mempelajari Bahasa Banjar.

“Sepatutnya, kalau bikin film lagi, harus ada persiapan. Saya juga suka dalam film Pangeran Antasari ini melibatkan pemain-pemain lokal. Mereka cukup bagus menurut saya dan berkembang di daerah’’ kata Egy.

Berbeda dengan Egy Fedly. Salah satu penonton yang tidak ingin disebutkan identitasnya saat dimintai komentar jejakrekam.com mengaku kecewa dengan kualitas film Pangeran Antasari. “Ya, saya kecewa karena tidak sesuai dengan ekpektasi yang digemborkan selama ini. Ya, kelasnya seperti sinetron,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis : Ahmad Husaini

Editor   : Didi G Sanusi

Foto      : Dokumentasi

 

Tags: , , ,
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan