Ibnu-Arifin-Calon

Dituding Pakai Joki Saat Asesmen Lelang Jabatan Kepala SKPD Banjarmasin, Apiludin: Saya Lemah IT

0 383

TEKA-TEKI di balik sosok pengguna ‘joki’ dalam lelang jabatan kepala SKPD di Pemkot Banjarmasin akhirnya terungkap. Nama yang bersangkutan mencuat saat awak media mencoba melakukan penelusuran ke sejumlah pihak terkait. Hasilnya, figur yang dimaksud yakni Apiluddin Noor.

PERLU diketahui, Apiluddin saat ini menjabat sebagai Camat Banjarmasin Utara. Dirinya menjadi salah satu dari lima peserta yang menginginkan kursi Kepala Satpol PP dan Damkar Kota Banjarmasin lantaran sudah lama kosong.

Saat dikonfirmasi kepada yang bersangkutan, Apiluddin tak membantah bahwa dirinya yang selama disebut-sebut menggunakan joki saat lelang jabatan memasuki proses asessmen.

“Saya jujur saja, IT (informasi teknologi) memang saya lemah. Saya ini kan orang lapangan,” ungkap Apiluddin dengan nada polos, Jumat (7/8/2020).

Mantan Kepala Bidang (Kabid) Penertiban Umum (Tibum) Satpol PP Banjarmasin ini juga menyebut, bahwa pada persyaratan sebelumnnya tidah ada mengatur setiap peserta wajib melek IT.

“Seandainya itu dari awal ada syaratnya harus bisa IT dan tidak boleh membawa operator. Pasti saya tidak jadi ikut karena memang tidak bisa IT,” ujarnya.

Selain itu, Apiluddin menegaskan bahwa yang dianggap sebagai joki itu merupakan keluarga dekatnya. Joki tersebut ditegaskannya hanya membantu di bidang IT. Bagian menjawab pertanyaan diserahkan kepada Apil sepenuhnya.

“Tidak ada kesengajaan untuk memakai joki. Bahkan setelah selesai proses asessmen itu, saya langsung ditelpon panitia untuk dimintai keterangan,” tuturnya.

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan Diklat Kota Banjarmasin, Syafri Azmi pun buka suara soal kejadian tersebut.

Menurutnya, seluruh peserta lelang telah diberikan ruang untuk berkonsultasi terlebih dulu sebelum tahapan assesmen dilaksanakan.

“Cukup lah waktu dua hari itu untuk belajar. Sebenarnya sederhana saja. Setelah login tinggal mengetik seperti biasa,” ucap Azmi saat dijumpai di Balai Kota, Jumat (7/8/2020) sore.

Azmi mengakui memang tidak menyediakan orang IT untuk membantu peserta lemah dalam hal tersebut. Sebab, mereka berasumsi bahwa semua peserta sudah menguasai.

Terlebih lagi, di setiap SKPD juga ada orang yang mengerti IT, dan bisa dimintai bantuan ketika terjadi masalah.

“Jika bermasalah saat login boleh saja minta bantuan. Tapi kalau didampingi saat menjawab soal itu tidak boleh, karena harus sendiri,” tuturnya.

Persoalan ini pun juga sudah disampaikan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Banjarmasin, Hamli Kursani kepada Ketua Tim Panitia Seleksi (Pansel), Prof. Dr. H. Abdul Hafiz Anshari saat rapat Tim Pansel digelar di ruang Sekda, Jumat (7/8/2020).

Hafiz mengatakan, laporan dugaan kecurangan salah seorang peserta tersebut akan menjadi bahan pertimbangan Tim Pansel sendiri. Meski ia menyebut bahwa kebenaran dugaan kecurangan itu masih belum terbukti.

“Tadi waktu rapat saya sudah terima soal laporan ini dari Pak Sekda langsung. Kita lihat sampai proses selesai, tapi paling tidak memang akan jadi bahan pertimbangan,” ujarnya secara terpisah.

Hafiz mewakili Tim Pansel lain mengatakan, pihaknya masih belum berani memvonis yang bersangkutan telah melakukan pelanggaran. Pasalnya, kini pihaknya belum menemukan bukti yang absah mengarah pada kecurangan benar terjadi atau tidak.

“Karena informasi yang didapat juga bermacam-macam. Ada yang hanya sebatas membantu sebagai IT. Kalau tak sampai ke materi bisa dimaklumi. Tapi kalau sampai ke pembuatan makalah, apalagi sampai menjawab soal berarti kan tingkat keterlibatannya sudah terlalu jauh,” ujarnya.

Selain itu, adanya kasus ini membuat panitia penyelenggara dan Pansel melakukan pertimbangan ke depan. Apakah selanjutnya masih tetap menggunakan penilaian jarak jauh berbasis online atau dikembalikan ke manual.

Pertimbangan ini dilaksanakan untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Khususnya terkait kecurangan penggunaan jasa joki.

“Tapi ini masih pertimbangan. Sebab ada beberapa posisi, tetap online tapi ada di ruangan. Atau manual pakai kertas. Karena disisi lain online ini lebih efektif, dalam penilaian. Kalau ajak harus satu-satu lagi menilai,” pungkasnya. (jejakrekam)

Penulis M Syaiful Riki
Editor Ahmad Riyadi
-  I K L A N  -

- I K L A N -

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.