Para Aktor di Balik Karpet Merah

Oleh : Muhammad Uhaib As’ad

DALAM perspektif analisis politik, yang paling penting dipahami bukan yang ada di atas karpet merah atau di permukaan, karena biasanya sekadar kamuflase.  

CELAKANYA, pada umumnya hal permukaan tidak sesungguhnya tidak merepresentasikan realitas sosologis dan kondisi obyektif yang menjadi harapan publik. Puzzle-puzzle itu terkadang menjebak publik pada hal itu, hanya sekadar formalitas atau rekayasa sebagai pementasan wajah demokrasi semu (false of democracy).

So that, sociological imagination atau imajinasi sosiologi, menjadi penting digunakan, demikian kata Blumer (sosiolog kontemporer) bahwa di balik karpet itu atau di bawa karpet itu jauh lebih penting karena di situ ada sejumlah tumpukan kepentingan impossibel hands (tangan-tangan gaib) yang saling melambai dan saling bersenggama di antara tangan-tangan gaib itu.

Ya, itu kata Blumer. Akan berlaku siapa yang mendapatkan apa. Saya dapat apa dan kau dapat apa. Ini namanya perselingkuhan atau bahasa ilmiahnya politik transaksional.

BACA : Ketika Partai Politik dalam Pusaran Lingkaran Setan Korupsi

Dalam dunia politik, tidak mengenal istilah makan siang gratis. Dalam dunia polutik tidak mengenal rumus ikhlas. Yang ada adalah kepentingan dan logika perburuan rente (rent-seeking behavior). Para aktor itu menyelinap atau bersembunyi di balik karpet dengan modus operasi senyap (silence operation).

Selanjutnya, pada perjalanan berikutnya, para aktor yg terlibat dalam arena itu, akan memposisikan diri sebagai Brahmana, Shadow State atau Shadow Government (meminjam istilah yang dipopulerkan oleh Barbara White/ ilmuwan ekonomi politik).

For elected people, orang-arang yang terpilih dalam kontestasi politik atau dalam kontestasi apa saja, mereka sekadar sebagai klien dari patron yang memperjalankannya dalam perebutan kekuasaan.

BACA JUGA : Kontestasi Politik dan Perebutan Simpul Basis Patronase

Oleh karena itu, si penguasa itu akan selamanya tersandera oleh sang patron. Kebijakan yang dibuat pun harus seiring dengan kepentingan sang patron (shadow government) itu. Is this called contaminated democracy?

Bila narasi ini dilihat dalam perspektif lembaga pendidikan maka hal serupa juga akan terjadi. Secara ideal, pilar substansi lembaga pendidikan adalah: how to build democracy values, academic liberation values, human being liberation values. Adakah nilai- nilai ini terbangun di Uniska yang kini sudah menginjak usai 38 tahun.? Atau masih memelihara struktur feodalisme (cartel, oligarcy, dan black market of academic)?

BACA JUGA : Tuhan dalam Gemuruh Erotisme Kontestasi Politik

Selamat buat FKIP, pada hari ini melakukan pemilihan pimpinan dekanet. Semoga rational choice atau pilihan rasional menjadi prioritas bukan mempertahankan academic oligarchy (oligarki akademik) dan cartel academic (kartel akademik). Salam dari jauh dari orang yang mencintai FKIP Uniska.(jejakrekam)

Penulis adalah Dosen FISIP Uniska Banjarmasin

Direktur Center for Politics and Public Policy Studies, Banjarmasin