ACT

Guru Tuha Ponpes Darussalam, Pejuang Gerilya dan Pendiri NU di Kalimantan

0 719

ULAMA berpengaruh di kalangan Pondok Pesantren Darussalam Martapura sekaligus pendiri ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU) Kalimantan Selatan, haul ke-42 KH Abdul Qadir Hasan atau Guru Tuha diperingati di kediamannya, Jalan Masjid Agung Al Karomah, Desa Pasayangan Utara, Martapura, Minggu (17/3/2019).

GURU Tuha sendiri wafat pada hari Sabtu, tanggal 11 Rajab 1398 Hijriyah/17 Juni 1978 Masehi dan dimakamkan di Kubah Jalan Masjid Agung Al-Karomah, Pasayangan Utara, Martapura.

Semasa hidupnya, Guru Tuha merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam, Martapura periode keempat (1940-1959), sesudah KH Kasyful Anwar, KH Hasan Ahmad dan Tuan Guru H Djamaluddin.

Lahir di Kampung Tunggul Irang, Martapura pada 1891, Guru Tuha merupakan tangan kanan KH Kasyful Anwar dalam pembauran pendidikan di Ponpes Darussalam. Selain berguru ke Tuan Guru H Kasyful Anwar, ada beberapa guru yang tercatat tempat KH Abdul Qadir Hasan menimba ilmu seperti Tuan Guru H Abdurrahman (Tunggul Irang, Martapura), KH Cholil (Bangkalan, Madura) dan KH. Hasyim Asy’ari (Tebuireng, Jombang), pendiri ormas Islam NU serta beberapa guru di Haramain, Makkah dan Madinah.

BACA :  Hassan Basry Pencetus Peristiwa Tiga Selatan, Soekarno pun Dibuatnya Marah Besar

Dari Hadratusy Syekh Hasyim Asy’ari, Guru Tuha pun dipercaya untuk mendirikan NU pertama di luar Pulau Jawa yaitu di Martapura, Kalimantan Selatan, usai mengikuti Muktamar NU pertama pada 21 Oktober 1926 di Surabaya.

Saat itu, Guru Tuha menjabat Rais Syuriah NU Kalsel dengan katib (sekretaris) Tuan Guru H Husin bin Syekh Ali al-Banjari berkedudukan di Martapura. Sedangkan, kantor sekretariatnya di Ponpes Darussalam atas izin muassasah KH Kasyful Anwar.

Dari Ponpes Darussalam ini pula cabang-cabang NU berdiri, seperti di Banjarmasin. Apalagi, saat menjadi Rais Syuriah NU Kalsel, Guru Tuha rajin menggelar pertemuan di lembaga pendidikan Islam tertua itu. Sedangkan, kegiatan bahtsul masail dan lailatul ijtima’ digelar di kediaman atau di rumah sekretaris KH Husin.

BACA JUGA : Berawal dari Dalam Pagar, Lahir Pondok Pesantren di Tanah Banjar

Di masa revolusi kemerdekaan, Guru Tuha pun bertindak sebagai sepuh gerakan gerilya di Kalimantan. Dorongan semangat dan kekuatan moril diberikan Guru Tuha bagi para pejuang untuk mengusir tentara Belanda yang mendompleng NICA, dengan misi ingin menjajah kembali Indonesia yang sudah merdeka.

Bersama Tuan Guru H Zainal Ilmi dari Dalam Pagar, Guru Tuha pun aktif memulihkan keamanan dari berbagai rongrongan para pemberontak dan gerombolan di saat usia Indonesia masih belia.

Sejarah hidup Guru Tuha ini pun dibacakan dalam peringatan haul ke-42, yang dihadiri Bupati Banjar H Khalilurrahman, Ketua MUI Banjar KH Fadhlan Asy’ari, anggota DPR RI dari PPP Syafullah Tamliha, anggota DPRD Kabupaten Banjar Gusti Abdurahman, serta para habaib, guru ponpes dan masyarakat.

Prosesi haul diawali dengan pembacaan Maulidurrasul, surah Yasin, tahlil dan doa yang dipimpin Bupati Banjar H Khalilurrahman, berlangsung secara khidmat.

BACA LAGI : Dari Halaqoh, Terbitlah Ulama Besar di Tanah Banjar

Dalam sambutannya, Bupati Banjar yang akrab disapa Guru Khalil mengatakan KH Abdul Qadir Hasan merupakan seorang pejuang dan pendiri Organisasi Nahdatul Ulama (NU) di Kalimantan.

“Sosok KH Abdul Qadir Hasan adalah seorang pejuang dan juga pemimpin. Usai belajar di Darussalam, beliau melanjutkan pendidikannya kepada KH Hasyim Asy’ari. Jadi, beliau ini adalah pembawa NU ke Kalimantan. Jasa KH Abdul Qadir Hasan patut kita hormati,” ucap Guru Khalil.

Terpisah, Guru Zayadi bin Ahmad Mursyidi bin Abdul Hakim bin Abdul Qadir Hasan mengatakan, KH Abdul Qadir Hasan merupakan salah satu pejuang yang dibuktikan oleh khadamnya di Darussalam.

“Sebelum kemerdekaan, beliau ikut pasukan perang gerilya. Kisah beliau itu juga disampaikan KH Idham Chalid kepada Syaifullah Tamliha hingga buyut beliau,” tutur buyut Guru Tuha.

BACA LAGI : Ibnu Hadjar yang Tersisih, Bangkit Bersama Rakyat Tertindas

Menurut dia, KH Abdul Qadir Hasan juga merupakan pimpinan pondok Pesantren Darussalam Martapura Periode pada tahun 1940 sampai dengan 1959 atau pimpinan ke-4 setelah KH M. Kasyful Anwar.

“Dalam masa kepemimpinan beliau sebagai pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Martapura, banyak guru yang dikirim ke seluruh Kalimantan di antaranya wilayah Sampit, Palangkaraya dan sebagainya,” kata Guru Zayadi.(jejakrekam)

 

Penulis Syahminan
Editor Didi GS

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.