Sempat Disoraki Pedagang, Nadjmi Tetap Kukuh Ingin Merelokasi Pasar Bauntung

RENCANA relokasi dan pembangunan baru Pasar Bauntung ke Stadion Mini Haji Idak Jalan Ro Ulin, Loktabat Selatan semakin digaungkan Pemkot Banjarbaru. Usai skema pendanaan disetujui oleh legislatif, Walikota Banjarbaru, Nadjmi Adhani berbarengan wakilnya akhirnya berani menyosialisasikan secara terbuka rencana pemindahan kepada ratusan pedagang, Kamis (29/11/2018) di Gedung Bina Satria.

PERTEMUAN ini berlangsung selama dua jam. Para pedagang diselimuti kekhawatiran dan sinisme jika usaha yang mereka geluti benar-benar dipindah. Bahkan, saat berbicara di hadapan forum, tak sekali Walikota Nadjmi diserbu sorakan dari ratusan pedagang.

Meski penuh diwarnai sinisme, Nadjmi kukuh tak mau lembek. Dia mengatakan relokasi merupakan pilihan tepat. Alasannya, kondisi pasar yang sudah ada sudah kelewat tak layak. Dari masalah kekumuhan hingga kemacetan.

Berharap mempermak pasar yang ada pun tak mungkin. Lantaran luas lahan dianggap terlalu sempit: 1,5 hektare hasil pengukuran dari Dinas Perdagangan Kota Banjarbaru

BACA: Walikota Silih Berganti, Pasar Bauntung Tetap Bagai Buah Simalakama

Selain itu, dirinya ingin memenuhi janji politiknya kepada masyarakat Kota Banjarbaru. Lebih-lebih kebijakan relokasi Pasar Bauntung sudah tercantum dalam Rencana Program Jangka Menengah Pembagunan Daerah (RPJMPD) Kota Banjarbaru Tahun 2016-2021.

“Ini bukan untuk kepentingan beberapa pedagang saja, Semuanya direlokasi, termasuk PKL. Kami memiliki niat baik. Tidak mungkin pemerintah tidak memiliki niat baik untuk masyarakatnya,” ujarnya dalam forum terbuka bersama para pedagang.

Bekas bangunan pasca relokasi nantinya juga digunakan untuk kepentingan publik, bukan untuk keuntungan segelintir pihak. Dalam ambisi Nadjmi, walau masih wacana dia berangan-berangan ingin membangun convention center di Kota Banjarbaru

Muncul kekhawatiran dari pedagang kalau wadah baru bakal sepi pembeli. Menanggapi ketakutan pedagang, Nadjmi malah yakin Pasar Bauntung versi lahan Stadion Mini Haji Idak bakal ramai pengunjung. “Kalau ternyata malah ramai pembeli bagaimana? Saya yakin akan banyak pembelinya karena punya tempat yang nyaman serta parkir yang sudah ditata,” katanya.

Dia mengajak para pedagang untuk tidak menaruh prasangka buruk terlebih dahulu kepada pemerintah kota sebelum pasar benar-benar dibangun.

“Masih ada waktu satu tahun lagi untuk proses relokasi. Ini belum apa-apa sudah ada penolakan. Jangan sampai ada provokasi di sini. Enggak boleh seperti itu,” harap Nadjmi.

Terkait banyaknya tudingan bahwa pemkot tak memiliki keberpihakan terhadap pasar tradisional atau pasar rakyat, Nadjmi tidak sepakat. Dia mengklaim pemerintah kota sudah mengeluarkan kebijakan-kebijakan seperti melakukan moratorium ritel, membangun pasar rakyat, dan mempermak pasar tradisional menjadi tampilan modern, termasuk Pasar Bauntung.

BACA JUGA: Pedagang Menolak Relokasi Pasar Bauntung, Walikota Nadjmi ‘Buka Mulut’

Lantas, bagaimana tanggapan para pedagang usai pemaparan walikota? Alih-alih setuju, mereka masih kukuh dengan prinsip awal: menolak pindah ke Stadion Mini Haji Idak. Pertimbangannya macam-macam, dari ancaman sepinya pembeli, hilangnya ingatan yang mendalam tentang Pasar Bauntung, sampai keinginan untuk mempermak pasar yang ada saja.

Seperti yang dilontarkan Tuty Rahayu, pedagang daging yang berjualan di Blok Sayur Pasar Bauntung. Menurutnya, ketimbang dana digelontorkan sepenuhnya untuk relokasi dan pembangunan pasar baru, Pemkot Banjarbaru disarankan mempermak pasar yang ada saja.

“Kalau beralasan kemacetan, macet yang mana? Saya dari berangkat pagi sampai pulang tidak pernah menemui itu. Yang bikin semrawut Pasar Bauntung ini cuma tidak tegasnya Satpol PP Kota Banjarbaru menindak PKL pasar yang hingga meluber ke jalan. Nah, apakah mereka ini ada izinnya?” tanya Tuty.

Pada kesempatan yang sama, pedagang beras Pasar Bauntung, Abdul Kadir penuh haru menyampaikan aspirasinya kepada Walikota Nadjmi. Dirinya mempersilakan pemerintah kota untuk membangun pasar tradisional modern. Namun, tidak untuk pedagang Pasar Bauntung.

Bukan tanpa alasan, menyebut dirinya sudah bertahun-tahun berjuang untuk memperoleh lahan dagang di Pasar Bauntung. “Sudah bertahun-tahun kami di sini. Ingatan yang mendalam itu yang sulit untuk dihilangkan,” kata Kadir dengan getir. (jejakrekam)

Penulis Donny Muslim
Editor Didi GS