Perjuangan Penuh “Keringat” Pastor Ventimiglia

Melacak Jejak Kehadiran Ajaran Katolik di Tanah Banjar (1)

Foto : Dok Keuskupan Banjarmasin

MENGINJAK usia Keuskupan Banjarmasin yang ke-80 tahun, hadirnya ajaran Katolik di tanah Borneo sebenarnya sudah dimulai berabad-abad silam. Tak sekadar gara-gara misi pewartaan Injil, munculnya doktrin gereja tak terlepas dari faktor militer dan perekonomian antara Kesultanan Banjar dengan orang-orang Portugis. 

DARI catatan sejarah milik Keuskupan Banjarmasin, sosok misionaris yang menyebarkan ajaran Katolik di Kalimantan bernama Pater Antonio Ventimiglia. Dikenal sebagai putra bangsawan asal Palermo, Italia, sejak usianya masih muda pastor kelahiran tahun 1642 sudah menyatakan menjadi biarawan serta mengikrarkan diri menyatukan hidup bersama Yesus (kaul kekal).

Saat memutuskan menjadi biarawan, Ventimiglia tergabung dalam biara St. Yosef yang dikelola oleh Ordo “Rohaniawan Regulir Penyelenggaraan Ilahi”.

Berpusat di Theate, Italia kelompok inilah yang menawarkan dirinya untuk melakukan pengabdian ke wilayah timur, khususnya Borneo. Ventimiglia jelas kepalang senang dengan ajakan para pastor. Lantaran dia memang mendambakan melakukan pengabdian ke daratan jauh.

Sebelum menginjakkan kaki di Borneo, Ventimiglia melewati perjalanan panjang daratan demi daratan dengan berlayar. Tercatat, dia mengabdi untuk Spanyol (Madrid), India (Goa), serta China (Macau) hingga tahun 1687.

Diwartakan oleh Misionaris Keluarga Kudus (MSF) Kalimantan, ekspedisi bertahun-tahun yang dilakukan oleh Ventimiglia melewati penuh risiko. Ambil contoh, saat dirinya mendengar kabar bahwa Borneo yang menjadi tujuannya masih penuh dengan orang-orang primitif, berangkat tanpa bekal apa-apa (hanya dengan sebuah salib), mengarungi lautan ganas, hingga ditentang oleh keluarganya sendiri.

Namun, Ventimiglia rupanya orang yang kukuh hati. Jawaban yang datang dari mulutnya simpel saja: “Orang yang menjalani tugas perutusan di daerah misi bersandar pada Tuhan demi keselamatan jiwa dan bukan pada hal-hal duniawi,” ucap Ventimiglia.

Akhirnya, tak disangka-sangka Jenderal Macau seperti Andrea Coelo Viera, Aloysius Francesco Cttigno, maupun Kapten Kapal Emmanuelle Araugio Graces, sama-sama ingin menjadi sponsor perjalanannya ke tanah Borneo. Penjelajahannya dimulai per tanggal 16 Januari 1688 dari Macau.

Undangan Menggiurkan dari Kesultanan Banjar

Kedatangan Ventimiglia menuju tanah Borneo tak terlepas dari kabar orang-orang Melayu asal Kalimantan. Tahun 1687, para Melayu menyandarkan kapal rombongan di Macau. Dari kabar mereka, Sang Pastor mendapat kabar baik: Sultan Banjar, Pangeran Suria Angsa  atau Sultan Amarullah (Amru’llah) Bagus Kasuma ingin menjalin hubungan dagang dengan Portugis.

Dalam kabar itu, Pangeran Suria Angsa menjanjikan timbal balik berupa tanah kepada orang Portugis. Tujuannya untuk membangun benteng pertahanan. Ditambah lagi Suria Angsa mengizinkan orang Portugis datang membawa seorang Pastor.

Ventimiglia jelas kepalang senang mendengar “undangan” dari Sultan Banjar. Dalam anggapannya, tawaran kesultanan merupakan celah besar untuk mengekspansi pewartaan Injil di Kalimantan. Berangkat dari tanggal 16 Januari 1688, pastor Ventimiglia tiba di Banjarmasin pada tanggal 2 Februari 1688.

Dikutip dari catatan MSF Kalimantan, Ventimiglia segera merasakan tantangan-tantangan penyebaran iman di tanah misi yang belum pernah disentuh oleh pewartaan iman Katolik. Karena keadaan politik di Kesultanan Banjarmasin tidak aman saat itu karena pengaruh peperangan, maka kapal Portugis yang ditumpangi Pater Ventimiglia tidak diperkenankan berlabuh.

Dengan kondisi kalut, pastor itu tetap bersikeras. Berdoa memohon bantuan dari Tuhan agar boleh bertemu langsung dengan penduduk asli Borneo. Gayung bersambut, kemudian datanglah beberapa perahu orang Dayak Ngaju.

Memasuki pelabuhan untuk berdagang dengan orang-orang Malaka. Keinginan untuk kontak langsung dengan penduduk asli ini akhirnya terkabul. Ketika dua orang diantara mereka mendekati kapal Portugis yang ditumpangi pastor. Atas permintaan Pater Ventimiglia, kedua orang ini bisa bertemu dengannya di kapal itu.

Ventimiglia mengajari dua orang itu doa Rosario dan diajari menghormati salib. Sikapnya yang ramah dan terbuka membuat orang-orang Ngaju berjanji mau meneladani Pater Ventimiglia. Mereka kemudian kembali ke pedalaman, sedang Pater Ventimiglia masih tetap di kapal.

Singkat cerita, dalam perjalanan serta perjuangannya hingga tahun 1689, pastor berhasil menjajaki kampung-kampung di pedalaman Kalimantan. Menurut buku biografi Mgr Piet Timang & Falsafah Diperkirakan sebanyak 1,800 -versi lain menyebut 3.000- orang Ngaju telah dibaptis.

Sepucuk Surat untuk Goa, Menghilangnya Ventimiglia

Pencapaian Ventimiglia dituliskannya dalam sebuah sepucuk surat yang ia tulis di atas sungai di Tanah Borneo. Dilayangkan kepada para pastor di Goa, India dengan dikirim melalui kapal Portugis yang hilir mudik. Isi suratnya dikutip dari MSF Kalimantan seperti ini:

Bapak yang sangat saya hormati dalam Kristus.

Pada kakimu aku berlutut. Aku anakmu menulis dari ujung dunia. Anakmu mohon berkat dari Bapak karena sudah memasuki tanah yang belum pernah dikunjungi. Bapak tentu sudah mendengar dari Bapak Perfektus, bahwa semuanya itu berkat penyelenggaraan Ilahi.

Pada bulan Februari 1688, saya tiba di Banjarmasin dengan maksud membuka misi baru yang dilakukan pater-pater kita. Namun banyak tantangan menghadang karena di Banjarmasin sudah memeluk agama Islam. Selain orang-orang Banjarmasin, masih ada suku lain yaitu suku Daya Ngaju yang tinggal di pedalaman. Saya tidak bisa mengatakan bahwa mereka menyembah berhala, karena tak ada yang berani masuk di daerah suku Daya Ngaju karena takut dipenggal kepala.

Saya tertarik untuk masuk ke daerah mereka. Setelah dua tiga kali bertemu dengan beberapa orang dari suku Ngaju di kapal, saya merasa bahwa pada masa yang akan datang akan terjadi sesuatu yang indah bagi kemuliaan Tuhan. Berhubung tidak diijinkan, saya kembali ke Macao.

Dan pada tahun berikutnya, Januari 1689 saya berlayar kembali ke Banjarmasin dan tiba di Banjarmasin pada bulan Pebruari. Saya mendengar bahwa pangeran Tomugon dan Daman bersedia menerima kedatanganku.

Akhirnya kedua pangeran itu dengan 100 kapal besar dan kecil bersama tokoh masyarakat datang menjemputku. Karena mereka sedang berperang melawan Sultan Banjarmasin maka rombongan seratus kapal itu tidak melewati batas kedua daerah ini. Mereka menunggu didaerah muara sungai suku Ngaju. Dua bulan lamanya mereka menunggu kedatangan saya dengan kapal Portugis. Saya diberi gelar Tatu yang berarti :Nenek suatu gelar kehormatan.

Demi kemuliaan Tuhan, saya menulis ini semua kepada Bapak yang mulia dan kepada Pater Perfektus Misi. Saya melaporkan, Tuhan yang akan dipermuliakan dan agama Katholik akan mendapat peluang besar untuk berkembang di tanah Borneo ini. Ladang ini daerah pedalaman Daya Ngaju, Islam tidak berpengaruh.

Sejauh penglihatan saya, Injil belum pernah diwartakan disini. Maka dengan rendah hati saya mohon agar Bapak mengirim bantuan sebelum terlambat. Ladang telah terbuka. Semoga parjurit-prajurit Theatin siap datang. Semoga mereka yang mau datang sungguh-sungguh memiliki kehendak untuk melayani Tuhan dan percaya pada penyelenggaraan Ilahi.

Saya juga tidak dapat melupakan jasa baik Bapak Luigi Franscesco Cottigno yang menjadi alat penyelenggara Ilahi hingga misi baru ini akhirnya terbuka. Ia seorang Portugis yang belum banyak mengenal saya tetapi mau mengantar saya ke Goa dan segala biaya ditanggungnya. Saya mihon Bapak memberikan penghargaan kepadanya sebagai sukarelawan sejati.

Bapak yang mulia, pada kakimu anakmu berlutut. Anakmu siap memasuki kerajaan dimana iman belum pernah diwartakan. Aku pergi sendiri. Tak seorang pater pun menemani. Aku mempunyai hati yang keras. Ya, aku sadari tidak mengerti dari mana datangnya kekuatan itu. Kekuatan itu yang membuat saya tidak takut dengan bahaya yang sangat banyak dan selalu mengancam saya.

Saya tidak mempunyai orang yang menasehati aku dalam kebingungan, seorang yang akan menolong dalam bahaya, seorang yang membantu dalam kesulitan. Saya sangat mengharapkan bantuan dari Goa kendati saya tahu bantuan itu tidak akan datang secepatnya.

Ketaatanlah yang membawa saya dalam pekerjaan yang sangat berat ini. Dan saya percaya, Penyelenggaraan Ilahi masih melindungi saya dalam kesendirian ini. Saya yakin, yang suci dan kudus akan menopang aku dalam doa. Tetapi hari ini secara khusus saya mohon Bapak membawa aku dalam doa, juga pater-pater lain ikut mendoakan saya.

Akhirnya, saya menyampaikan kepada Bapak, aku anakmu yang hina dan berdosa, mempersembahkan karya misi ini dengan perantaraan Bapak kita Kayetanus kepada Kemurnian Santa Perawan Maria. Maka saya mohon agar Bapak meresmikan misi ini dipersembahkan dibawah perlindungan Santa Perawan Maria dan Santo Kayetanus.

Pada kaki Bapak, saya menyerahkan seluruh tubuh dan jiwaku. Sudilah Bapak memberkati, memberi petunjuk dan perintah, apa yang harus saya pikirkan, ucapkan dan lakukan dengan ketaatan yang suci.

Berkatilah saya, Amin.

Dari Sungai Banjarmasin, di Pulau Borneo

13 Juni 1689,

Anakmu yang paling hina,

Antonio Ventimiglia Ch. Reg”

Sang Pastor menghilang sejak tahun 1690. Lantas, dikabarkan meninggal dunia saat tahun 1692. Padahal, saat itu Ventimiglia dipercaya sebagai imam pertama dari ordo “Rohaniwan Regulir Penyelenggaraan Ilahi” sebagai vikaris apostolik (jabatan layaknya uskup) untuk seluruh wilayah Kalimantan. Namun, tak dapat dijalaninya karena keburu menghilang dan meninggal dunia setelahnya.

Apa penyebab Ventimiglia meninggal dunia? Jawabannya masih sumir. Pertama, ada kabar dirinya meninggal karena dibunuh oleh Sultan Banjarmasin. Kedua, Ventimiglia meninggal karena dibunuh oleh orang Dayak Ngaju sendiri dengan panah beracun. Ketiga, ia meninggal karena terserang disentri. Terakhir, ia mati dengan wajar. Soal mana versi yang paling benar, keempatnya masih menjadi perdebatan.(jejakrekam)

Penulis Donny Muslim
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...