ACT

Hassan Basry Pencetus Peristiwa Tiga Selatan, Soekarno pun Dibuatnya Marah Besar

0 1.388

SIAPA Bapak Gerilya Kalimantan? Tentu jawabannya adalah Hassan Basry. Sang pahlawan nasional yang mengantongi surat keputusan (SK) Presiden RI bernomor 110/TK Tahun 2001, tanggal 3 November 2001 ini dikenal dengan keahlian militer serta sosok pendidik yang menjadi Rektor (Presiden) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin pertama.

PENELITI sejarah Banjar, Wajidi Amberi mengungkapkan Hassan Basry lahir di Padang Batung, Kandangan pada 17 Juni 1923. Dari segi pendidikan, Hassan Basry tergolong tinggi. Dia menamatkan Volkschool Padang Batung 1929-1932, HIS Kandangan 1940-1942, Tsanawiyah Al Wathaniyah Kandangan 1940-1942, Kweekschool Islam Pondok Modern Gontor Ponorogo 1942-1945, Al Azhar University 1951-1953, American University 1953-1955 dan SSKAD Bandung1956.

Menurut Wajidi, masa masa perjuangan, Hassan Basry merupakan aktivis PRI di Surabaya pada 1945. Begitu balik kampung dan menyeberang ke Kalimantan Selatan, Hassan Basry pun menjadi pemimpin Lasykar Syaifullah di Haruyan pada 1946.

“Hassan Basry juga merupakan pemimpin Banteng Indonesia 1946 dan Komandan Batalyon ALRI Divisi IV “A” Pertahanan Kalimantan 1946. Gara-gara ini, Hassan Basry dicap pemerintah kolonial Belanda sebagai ekstremis buronan di hutan belantara Kalimantan,” ucap Wajidi Amberi kepada jejakrekam.com, Kamis (31/5/2018).

Sosoknya yang kharismatik, membuat Hassan Basry menjadi pejuang yang paling dibenci sekaligus ditakuti Belanda, hingga disegani para pengikutnya. Menurut Wajidi, selama masa pergerakan perebutan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamasikan Bung Karno-Bung Hatta pada 17 Agustus 1945, Hassan Basry pun dalam kamus Belanda distempel sebagai biangkeladi ekstremis paling berbahaya di Kalimantan.

“Berbeda dengan para pejuang dan rakyat Kalimantan, Hassan Basry merupakan Bapak Gerilya yang paling dicintai dan kharismatik di zamannya. Bagaimana tidak, Hassan Basry merupakan Pimpinan Umum, Komandan, Panglima sekaligus Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan,” tutur Wajidi Amberi.

Pria yang pernah bekerja di Balitbangda Provinsi Kalsel ini mengungkapkan pada masa 1948-1949, berkat kepiawaian Hassan Basry dengan perlawanan bersenjata terhadap Belanda, membuatnya mampu menguasai sebagian besar wilayah teritorial di Kalimantan Selatan, minus kota-kota yang masih diduduki NICA.

Hari paling berkeramat dan bersejarah bagi perjuangan rakyat Kalsel adalah ketika pada 17 Mei 1949. Hassan Basry atas nama rakyat Indonesia di Kalimantan Selatan memproklamasikan Kalimantan Selatan menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Begini bunyinya :

“ PROKLAMASI “

Merdeka :
Dengan ini kami rakyat Indonesia di Kalimantan Selatan, mempermaklumkan berdirinya pemerintahan Gubernur Tentara dari “ALRI” melingkungi seluruh daerah Kalimantan Selatan menjadi bagian dari Republik Indonesia, untuk memenuhi isi Proklamasi 17 Agustus 1945 yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.
Hal-hal yang bersangkutan dengan pemindahan kekuasaan akan dipertahankan dan kalau perlu diperjuangkan sampai tetes darah yang penghabisan.

Tetap Merdeka !
Kandangan,17 Mei IV REP.
Atas nama rakyat Indonesia
di Kalimantan Selatan
Gubernur Tentara

Wajid mengungkapkani, penguasaan para gerilyawan itu atas sebagian besar wilayah Kalsel, akhirnya memaksa Belanda meminta bantuan pihak militer Republik dan UNCI sebagai penengah dalam perundingan dengan pihak ALRI Divisi IV.

Magister IPS Universitas Lambung Mangkurat ini menyebut perundingan pertama kali antara ALRI Divisi IV yang diwakili Letkol Hassan Basry dengan pihak Belanda yang ditengahi Jenderal Mayor R. Suhardjo Hardjowardojo dari misi militer Republik dan UNCI berlangsung pada 2 September 1949 di Munggu Raya Kandangan.

Selanjutnya, menurut Wajidi, setelah melalui beberapa pertemuan, perundingan resmi antara kedua belah pihak yang ditengahi oleh misi militer Republik dan UNCI tanggal 16/17 Oktober 1949 menghasilkan kesepakatan perhentian permusuhan secara resmi di Kalimantan Selatan.
Ketokohan Hassan Basry pun juga disegani secara nasional. Menurut Wajidi, pada masa Orde Lama, Hassan Basry merupakan tokoh yang teguh pendiriannya dalam menentang Partai Komunis Indonesia (PKI).

Bersama Letnan Kolonel M Yusi dan Gubernur H Maksid dan didukung oleh masyarakat Kalsel yang agamis, mereka dikenal sebagai tiga serangkai yang solid menentang komunisme.

“Ketika Hassan Basry menjadi Penguasa Perang Daerah (Peperda) Kalimantan Selatan, mengeluarkan keputusan untuk sementara melarang kegiatan Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam Daerah Kalimantan Selatan dengan Surat Keputusan Nomor 140/S/K.P/tahun 1960 yang berlaku sejak tanggal 22 Agustus 1960,” urai Wajidi.

Rupanya, sikap Penguasa Perang Daerah Kalimantan Selatan ini diikuti Daerah Sulawesi Selatan dan Sumatera Selatan, walaupun dua daerah ini tidak secara konkrit menuangkannya dalam surat keputusan.

“Peristiwa ini kemudian dikenal dengan Peristiwa Tiga Selatan. Apalagi, saat itu, Presiden Soekarno, selaku Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia menyatakan kemarahannya terhadap adanya keputusan Peperda Kalimantan Selatan dalam Pidato Kenegaraan tanggal 17 Agustus 1962 yang berjudul Tahun Kemenangan,” ungkap Wajidi.

Dalam pidato itu, Soekarno mengatakan masih ada satu daerah, yang belum dapat dibentuk Front Nasional Daerah, karena adanya orang-orang yang Komunisto Phobi. “Kepada mereka itu saya berkata : Suatu hari akan datang yang saya melihat segala usahamu gagal. Dan mungkin satu hari akan datang, yang engkau harus menebus kejahatanmu itu di dalam penjara, atau tiang penggantungan,” begitu pidato keras Bung Karno.

Oleh Presiden Soekarno, Kolonel Hassan Basry diminta penjelasannya dalam rapat para Ketua Peperda se-Indonesia. Namun, menurut Wajidi, saat itu Hassan Basry tetap kukuh meski kemudian bahwa tindakan yang diambil oleh Peperda Tiga Selatan akan diambil alih oleh Peperti untuk penyelesaiannya.

Wajidi mengungkapkan  ssatu minggu kemudian keluar pengumuman Peperti bahwa PKI dapat melakukan kegiatannya kembali di tiga daerah tersebut. Walaupun telah ada pengumuman Peperti, justru Kolonel Hassan Basry selaku Peperda Kalimantan Selatan tetap bertekad menghentikan kegiatan PKI dan ormas-ormasnya di Kalimantan Selatan.

“Pada awal September 1960, Kolonel Hassan Basry kembali dipanggil menghadap Presiden Soekarno dan meminta agar PKI diperbolehkan bergerak kembali, tetapi Kolonel Hassan Basry tetap pada pendiriannya menolak kegiatan PKI,” kata Wajidi.

Bahkan,  Presiden Soekarno sampai dua kali mengajukan permintaan ini, tetapi Kolonel Hassan Basry tetap pada pendiriannya sehingga Presiden Soekarno sangat marah. Hingga, setahun kemudian barulah PKI dapat aktif kembali.

Namun pendirian Hassan Basry yang tegas dan kokoh itu tetap dikenal rakyat Kalimantan Selatan. Hingga sang pahlawan nasional ini menghembuskan nafas terakhir di RSPAD Gatot Subroto Jakarta pada tanggal 15 Juli 1984. Esok harinya, jenazah Hassan Basry dimakamkan di Simpang Tiga Desa Liang Anggang Kilometer 25 Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.