Dirgahayu

Patahkan Mitos, Sunarto Berhasil Kembangkan Buah Naga di Lahan Gambut

BUAH naga tak harus tumbuh dan berkembang di atas tanah bertekstur pasir dan di dataran tinggi. Buktinya, dengan formula khusus, potensi lahan gambut pun bisa digarap untuk mengembangkan buah dari jenis kaktus dari marga Hylocereus dan Selenicereus.

BUAH yang berasal dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Serikat ini dan dianggap pembawa berkah dari tradisi Tionghoa itu berhasil dikembangkan Sunarto (40 tahun). Warga Kecamatan Pahandut, Kelurahan Panarung, Kota Palangkaraya ini terbilang sukses mengembangkan dragon fruit ini di atas median tanah gambut.

“Awalnya, saya hanya coba-coba, ternyata hasilnya cukup memuaskan. Makanya, saya beranikan diri menanam 2.000 bibit di atas lahan seluas tiga hektare ini,” ujar Sunarto berbincang dengan jejakrekam.com di Palangkaraya, Sabtu (18/3/2017).

Ia berani menjamin rasa daging buah naga yang dihasilkan dari lahan gambut, tak jauh berbeda dengan lahan berpasir dan berada di dataran tinggi. “Tumbuh buahnya juga sempurna. Bahkan, rasanya juga manis, bukan asam seperti yang selama ini dikhawatirkan orang,” ucap Sunarto.

Bibit unggul asal Banyuwangi, Jawa Timur pun didatangkan Sunarto untuk ditanam di atas lahan gambut. Namun, menurut dia, perlu perlakuan khusus untuk menyiapkan lahan gambut sebagai media tanam buah naga, seperti saat penanaman bibit yang harus diperhatikan adalah pupuk organiknya. “Selain pupuk organiik, tanah gambut juga harus ditabur kapur dan kalsium. Ya, agar bibit pohon buah naga dapat tumbuh subur dan sehat, dan tak mudah terserang penyakit,” ucap ayah dua anak ini.

Hasilnya, usai ditanam selama enam bulan, bibit pohon buah naganya berbungsa dan menghasilkan buah yang siap dipetik. “Terpenting adalah untuk mengembangkan buah naga di atas lahan gambut itu harus mengikuti prosedur yang sesuai. Soal kualitas buah naga asal Kalteng ini tak kalah dengan provinsi lain,” kata Sunarto.

Ia pun berhasil mematahkan mitos bahwa buah naga yang ditanam di atas lahan gambut itu akan gagal, bahkan hanya hitungan setahun pohon-pohon berdiri itu akan mati. “Malah pohon buah naga yang mirip kaktus ini justru ramah lingkungan. Sebab, sifatnya yang menjalar dan tidak seperti pohon biasa yang daunnya mengotori halaman, justru pohon buah naga ini lebih rapi terlihat,” tutur Sunarto.

Ketertarikan Sunarto untuk mengembangkan buah naga di atas lahan gambut di Palangkaraya, karena khasiat buah yang begitu besar seperti membantu menyembuhkan penyakit kanker karena kandungan vitaminnya yang kompleks, dengan kandungan vitamin C yang tinggi bisa mempercantik wajah dan kulit. Rasa buah naga yang manis bukan berasal dari glukosa, sehingga bisa membantu menyembuhkan penyakit diabetes. “Ya, segudang manfaat buah naga lainnya seperti bisa menjaga stamina dan kesehatan karena kandungan antioksidan dan vitaminnya yang tinggi, termasuk bisa mencegah penyakit osteoporosis atau pengapuran tulang. Termasuk, kandungan vitamin C, B1, B2 dan B3 dari buah jaga bisa menjaga kesehatan jantung,” tutur Sunarto yang terus memperlajari seluk-beluk buah naga ini.

Ini belum ditambah dalam tradisi budaya Tionghoa yang menempatkan buah naga sebagai buah yang penuh berkah. Dari setahun mengembangkan buah naga di lahan gambut, Sunatro pun mampu meraup untung cukup besar. “Dari 2.000 batang pohon buah naga ini dalam sebulan dapat menghasilkan 2 ton. Saya malah dua kali panen dalam sebulan,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis  : Adi Wibowo

Editor    : Didi GS

Foto       : Adi Wibowo