Berisiko Tinggi, Penambang Intan di Pumpung akan Dialihkan Jadi Peternak Itik

RENTETAN peristiwa yang menelan korban jiwa dari aktivitas pertambangan intan di Desa Pumpung, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, membuat pemerintah kota mulai berpikir untuk mengevaluasi keberadaannya. Walaupun, Desa Pumpung termasuk dalam destinasi wisata penambangan intan rakyat di Kalimantan Selatan, toh aspek keselamatan jadi pertimbangan.

WALIKOTA Banjarbaru Nadjmi Adhani mengungkapkan pemerintah kota sudah merencanakan untuk mengalihusahakan warga Desa Pumpung di Kecamatan Cempaka yang kebanyakan berprofesi sebagai penambang intan tradisional.

“Kami menyiapkan agar warga Desa Pumpung yang bekerja sebagai penambang intan untuk menggeluti usaha peternakan unggas jenis itik. Jadi, mereka bisa beralih pekerjaan yang terlalu berisiko tinggi itu,” ucap Walikota Nadjmi Adhani kepada wartawan di Banjarbaru, Selasa (10/4/2019).

BACA : Pumpung Kembali Telan Korban, Lima Pendulang Tertimbun Tanah Longsor

Ia menegaskan Pemkot Banjarbaru tidak melarang apalagi menutup pertambangan intan tradisional di Desa Pumpung, namun sebagai solusi awal adalah mengalokasikan anggaran untuk pengalihan pekerjaan warga desa tersebut.

“Nantinya, Dinas Pertanian Banjarbaru yang akan menangani untuk pengalihusahaan para penambang intan menjadi peternak itik. Ada ratusan warga yang terlibat dalam aktivitas pertambangan di desa tersebut,” tutur Nadjmi Adhani.

Ketua DPD Partai Golkar Banjarbaru ini mengatakan untuk modal usaha, pemerintah kota akan memberi 50 ekor bibit itik yang dibudidayakan, pembuatan kandang, pakan, obat-obatan dan lainnya.

“Sudah saatnya, aktivitas warga yang sudah bertahun-tahun dan turun temurun dialihkan ke pekerjaan yang tidak terlalu berisiko dan mengancam jiwa,” ucap Nadjmi.

BACA JUGA : Tertimbun Tanah Pendulangan Intan, 2 Orang Tewas, 3 Penambang Luka-Luka

Untuk data awal, mantan Camat Landasan Ulin mengungkapkan ada sekitar 600 warga Desa Pumpung yang sudah masuk program pengalihusahaan dari penambang intan menjadi peternak itik.

“Kami juga memberi pendidikan kepada warga, supaya pekerjaan sebagai penambang intan tradisional ini tidak turun-temurun. Sebab, anak di desa ini melanjutkan pekerjaan yang diwariskan orangtua. Jadi, dengan dasar pendidikan bisa memutus siklus itu,” ucap Nadjmi.

BACA LAGI : Gandeng PT Aneka Tambang-RMC Singapura, Galuh Cempaka Target 6.000 Karat Intan

Ia mengakui apa yang dilakukan Pemkot Banjarbaru sangat dilematis, namun hal itu merupakan solusi terbaik agar kasus longsornya area tambang intan hingga memakan korban jiwa tidak terus berulang.

“Kalau kami larang pekerjaan sebagai penambang intan, hal itu sudah berlangsung turun temurun dari generasi ke generasi. Inilah solusi yang kami tawarkan,” pungkasnya.(jejakrekam)

 

Penulis Balsyi
Editor Didi GS