Geopark Meratus, Amankah?

Penulis : Yulia Sari SH

PEGUNUNGAN Meratus menjadi idola di kawasan Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan. Menjadi kejaran para penikmat hasil tambang dan sekarang menjadi magnet baru industri Pariwisata.

SEBAGIAN kawasan Meratus telah menjadi Geopark. Kawasan yang akan dikembangkan sebagai taman bumi warisan geologi yang akan dipromosikan sebagai daerah wisata hijau baru berkelanjutan.

Hal menarik dari Geopark Kalsel ini adalah dengan adanya ofiolit atau batuan dasar samudera tertua di Indonesia. Dan juga didepan meratus ternyata ada lempeng kerak samudera. Hal ini adalah Potensi yang dapat dijual kepada wisatawan.

Kepala Badan Perencanaan daerah (Bappeda) Kalsel Nurul Fajar Desira menerangkan bahwa pengembangan Geopark yang mengarah pada pariwisata sejalan dengan rancangan pembangunan menengah daerah (RPJMD) Kalsel, yakni mengurangi ketergantungan perekonomian pada batubara dan hasil bumi lainnya.(prokal.com, 18/11/2018).

Tujuan utama dari penetapan status Meratus sebagai geopark ini adalah pariwisata. Sebuah bidang Industri yang sekarang menjadi primadona dalam meningkatkan pendapatan daerah ataupun negara. Maka tak lain target darinya adalah kapitalisasi terhadap kawasan pegunungan meratus. Kapitalisasi jelas hanya berorientasi keuntungan materi semata.

Mengambil manfaat sebesar-besarnya dengan mengabaikan resiko yang kemudian muncul. Sebagaimana yang dikemukakan UNWTO (United Nations World Tourism Organiation) dalam the International Recommendations for Tourism Statistics 2008, Industri Pariwisata meliputi; akomodasi untuk pengunjung, kegiatan layanan makanan dan minuman, angkutan penumpang, agen Perjalanan wisata dan kegiatan reservasi lainnya, kegiatan budaya, kegiatan olahraga dan hiburan.

Bisa dibayangkan jika kemudian meratus menjadi kawasan pariwisata. Meratus akan menjadi kawasan yang terbuka untuk siapa saja hanya dengan alasan berwisata. Secara kasat mata, pariwisata akan meningkatkan perekonomian rakyat sekitarnya. Tetapi tidak hanya peningkatan ekonomi. Tetapi juga termasuk peningkatan faktor resiko negatif lainnya.

BACA : Geopark Nasional Meratus Ditetapkan, Walhi Kalsel: Lebih Baik Akui Wilayah Adat

Berkaca pada kondisi pantai Bali, sepanjang enam kilometer garis pantai yang mencakup pantai populer seperti Jimbaran, Kuta, dan Seminyak disesaki berton-ton sampah. Begitu pula daerah geopark lainnya, seperti danau toba yang airnya tercemar karena sampah dan pembangunan rumah hotel. Kawasan Mandalika dan Gili Trawangan di NTB tidak hanya industri pariwisata yang berkembang tetapi juga termasuk fasilitas “esek-eseknya”.

Dibukanya arus pariwisata maka terbuka pula arus serangan budaya asing. Gaya hidup bebas alias liberal dan hedonis akan menjangkiti masyarakat sekitar. Kebijakan yang kemudian muncul adalah dikembangkannya even budaya meski itu adalah budaya yang berbalut tahayul dan kesyirikan. Asalkan mendapatkan pemasukan maka hal tersebut menjadi halal.

Dan hal terpenting lainnya yang justru termasuk pada rancangan pembangunan daerah adalah agar pendapatan daerah tidak lagi bergantung pada sumber daya alam.

Kalsel adalah penghasil batubara terbesar kedua di Kalimantan. Pariwisata dikawasan meratus jelas akan memalingkan perhatian masyarakat akan aktivitas pertambangan yang dilakukan oleh pihak swasta.

Masyarakat akan merasa tercukupkan dengan pengembangan ekonomi di bidang pariwisata. Tetapi mereka juga akan lebih dari cukup “kehilangan” sebuah potensi besar yang Allah berikan dalam rangka kesejahteraan yang harusnya dinikmati mereka. Dan bukan dinikmati oleh para penambang swasta, dimana keuntungan hanya beredar disekitar mereka yaitu para kaum kapitalis.

BACA JUGA : Raih Sertifikat, Pegunungan Meratus Resmi Berstatus Geopark Nasional

Standar kebijakan yang Kapitalistik akan selalu menyesatkan dan menyengsarakan mereka. Orientasi keuntungan selalu diukur berapa banyak nilai ekonomi yang dihasilkan. Rakyat sesungguhnya membutuhkan pemimpin yang benar-benar ikhlas melayani mereka. Memperhatikan kepentingan umat di atas kepentingan materi.

Persoalan Meratus selayaknya dipandang sebagaimana pandangan dari sang Pencipta kawasan Meratus itu sendiri, yaitu bersumber dari aturan-aturan yang Allah SWT tetapkan atas ciptaan-Nya, bukan berdasarkan pandangan Kapitalistik.

Allah SWT telah menetapkan Manusia sebagai pemimpin yang mengelola bumi ini sebaik-baiknya dengan standar Keridhoan Allah. Menetapkan kebijakan sebagaimana syariat Islam mengaturnya.

Islam juga menetapkan standar halal dan haram dalam pengelolaan pendapatan negara. Sumber lendapatan negara harus berasal dari kegiatan yang Allah halalkan.

Salah satunya yang harus negara kelola adalah sumber pendapatan yang berasal dari kepemilikan umum yaitu sumber daya alam yang jumlahnya melimpah.
Sedang pariwisata bukanlah sumber pendapatan negara apalagi jika kemudian didapati banyak kemaksiatan dan pelanggaran hukum syara’.

Rahmat Allah tidak akan hadir jika kebijakan negara melegalkan beredarnya makanan dan minuman haram, membiarkan praktek free seks, dan free gaul. Melestarikan budaya-budaya syirik dan klenik, dan mengabaikan pelestarian ekosistem.

Sungguh keberkahan akan turun jika menerapkan Syariat Islam sebagimana Allah janjikan dalam Surah Al A’raaf ayat 96 “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.(jejakrekam)

Penulis adalah ASN di PN Martapura dan tinggal di Martapura, Kabupaten Banjar.

Anda mungkin juga berminat
Loading...
Kata mereka tentang jejakrekam.comhttps://www.youtube.com/watch?v=JMpxvqUGSc4&t=28s