Refleksi Maulid Nabi

Oleh : Betty JN S.Pd

RABIUL Awal merupakan salah satu bulan istimewa bagi kaum muslimin. Sebab di bulan ini terjadi peristiwa penting dan istimewa. Yaitu lahirnya sosok mulia Baginda Nabi Muhammad SAW, tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal. Pribadi yang dipilih oleh Allah SWT diantar jutaan manusia, sebagai utusan terakhir pembawa risalah agung nan sempurna yaitu Islam.

HINGGA, saat Allah SWT katakan berakhir dunia ini beliau tetap menjadi uswatun hasanah bagi sesiapa pun yang menginginkan menjadi manusia seutuhnya, manusia yang berjalan di jalan yang lurus lagi diridhoiNya. Sebagai mana firman Allah SWT:

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS. Al Ahzab:21)

Meskipun Rasulullah SAW tak pernah sekalipun merayakan hari kelahiran, bahkan hingga beliau wafat. Namun kaum muslimin seolah tak ingin kehilangan momentum mengingat Baginda Nabi. Hingga setiap bulan Rabiul Awal tiba semarak maulid rasul diselenggarakan di setiap sudut kota. Seolah Ingin berlomba menunjukkan kecintaan dan kerinduan kepada Baginda Nabi. Shallu ‘ala Nabi.

BACA : Baayun Maulid Ungkapan Rasa Syukur Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Bagaimana agar peringatan maulid nabi tak sekadar ritual terkesan formalitas?

  1. Memperbanyak shalawat ke atas Nabi Muhammad SAW di bulan Rabiul Awal maupun disebelas bulan lainnya. Banyak disebutkan keutamaan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, diantaranya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits Dari Anas bin Malik ra, beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)(HR. an-Nasa’i)

Shalawat selain sebagai bukti cinta kepada Baginda Nabi, juga sebagai ibadah yang akan mengantarkan kita mendapatkan rahmat, pengampunan dosa dan pahala yang berlipatganda dari Allah SWT.

  1. Mendukung semarak syiar Islam. Meskipun Allah SWT punya caraNya agar Islam terjaga. Namun tetap ada tanggung jawab di pundak tiap kaum muslimin untuk mensyiarkan Islam. Memastikan Islam sampai kepada seluruh manusia. Juga sebagai bentuk kecintaan dan meneladani Baginda Nabi.

Tak terbayangkan seandainya syiar Islam tak sampai ke Indonesia, mungkin tak akan menjadi salah satu negeri  berpenduduk mayoritas muslim. Bersyukur ketika itu Sultan Muhammad I, Khalifah dari kekhilafahan terakhir kaum muslimin Turki Utsmani, mengirim utusannya ke Nusantara. Para utusan Khalifah inilah yang terkenal dengan sebutan Walisongo.

Setiap jengkal wilayah Indonesia yang terdapat penduduk beragama Islam tak lepas dari peran salah satu diantara para Walisongo. Sebagaimana tercatat dalam Kanzul Hum karya Ibnu Bathutah yang sekarang disimpan di museum Istana Turki di Istanbul.

Hari ini syiar Islam tetap diperlukan sebagai upaya mencerdaskan kaum muslimin dalam menyelesaikan setiap problematika kehidupan dengan solusi Islam. Maka setiap upaya mendukung terselenggaranya syiar Islam berarti berkontribusi mencerdaskan umat juga bagi tegaknya kalimatullah di bumi ini.

  1. Menjaga persatuan diantara kaum muslimin. Islam datang sebagai mabda yang satu dari Allah SWT yang Maha Esa. Nabi dan risalah yang satu untuk menyatukan manusia yang beragam ras, suku, warna kulit maupun bangsa dalam satu ikatan aqidah Islam.

Kaum muslimin tidak akan mudah terhasut untuk saling terpecah, saling sikut, bahkan berprasangka buruk. Sebagaimana firman Allah SWT,

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.(QS. Ali ‘Imran: 103)

  1. Menjaga toleransi antar umat beragama. Allah SWT dan Baginda Nabi SAW telah mengajarkan kepada kita untuk toleransi kepada pemeluk agama selain Islam. Jauh sebelum bergulir wacana toleransi yang saat ini marak di gaungkan. Islam datang sebagai agama yang tidak pernah memaksa siapapun untuk memeluknya.

Islam mengajarkan toleransi dalam makna cukup membiarkan orang lain beribadah sesuai dengan tuntutan agamanya. Tidak mengganggunya dan tidak melecehkan mereka. Tidak ikut dalam ritual ibadah mereka maupun syiar agama mereka. Sembari menunjukkan kemuliaan Islam melalui ajaranNya yang terlihat dari setiap sikap dan tingkah laku kita. Berharap mereka mendapatkan rahmat dan hidayahNya.

Toleransi juga tidak bermakna menutupi setiap ajaran maupun khasanah pemikiran Islam, meski yang bertolak belakang sekalipun dengan khasanah pemikiran agama selain Islam. Karena meski demikian Islam mengajarkan untuk tetap menjaga kerukunan antar umat beragama, hidup rukun berdampingan dengan mereka dalam keseharian.

BACA JUGA : Teladan Kepemimpinan Rasulullah; Refleksi Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Adapun ayat Alquran tentang batasan muslim dan kafir misalnya, bukanlah nash yang bersifat intoleran, tapi merupakan rambu-rambu bagi kaum muslimin agar tetap lurus aqidahnya dan murni berislamnya hingga kaffah.

  1. Meneladani Baginda Nabi dalam setiap aspek kehidupan. Setiap cinta perlu pembuktian. Pun juga pengakuan kecintaan kita kepada Baginda Nabi perlu dibuktikan, dalam perbuatan. Iyanya adalah meneladani beliau mulai dari sebagai pribadi berakhlakul karimah dan bagaimana beliau bertaqarrub ilallah. Sebagai bagian dari anggota masyarakat beliau peduli akan kejahiliyahan bangsa arab pra Islam, hingga mampu bangkit menjadi bangsa beradab dan menjadi mercusuar ketika Islam menjadi aturan.

Baginda Nabi juga mewariskan sistem pemerintahan yang berlandaskan Alquran dan hadits. Sebagaimana wasiat Baginda Nabi dalam hadits riwayat Abu Daud dan Tirmidzi “hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk oleh Allah.” Shallu ‘ala Nabi.(jejakrekam)

Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan Anggota Revowriter Kalsel

 

Anda mungkin juga berminat
Loading...
Kata mereka tentang jejakrekam.comhttps://www.youtube.com/watch?v=JMpxvqUGSc4&t=28s