Gerakan “Taspurun”

Oleh : Imam B Prasodjo

INISIATIF ini bermula dari rapat dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya pada 18 Mei 2018. Dalam rapat itu, Bu Menteri terlihat gemas, ingin sekali membangun gerakan lebih masif mengurangi sampah plastik yang selama ini semakin terlihat membahayakan lingkungan kita. Salah satu jenis sampah yang paling menyebalkan adalah sampah kantong plastik kresek yang banyak digunakan masyarakat sebagai pembungkus barang belanjaan. Sampah jenis ini disinyalir paling sulit didaur ulang sehingga menjadi salah satu pencemar utama tanah dan laut kita. Terbayangkah kita bila 10 tahun mendatang, seluruh kebun dan hamparan laut dipenuhi plastik?

SEKITAR seminggu sejak rapat itu, saya memutuskan berangkat ke Banjarmasin untuk mengunjungi sebuah kampung yang diberinama KAMPUNG PURUN. Letak Kampung Purun itu ternyata tak jauh dari Bandar Udara Syamsuddin Noer, Kalimantan Selatan, sekitar 8 kilometer dari sana. Kampung ini disebut “Kampung Purun” karena banyak warga di sana yang menggantungkan hidupnya dari ketrampilan menganyam dengan bahan baku batang atau daun purun untuk membuat tikar, tas, topi dan lain-lain. Batang pohon purun yang banyak tumbuh di rawa-rawa ini bentuknya seperti pensil lurus, memanjang hingga 2 meter. Kalau masih penasaran, datang saja ke Kampung Purun.

Dengan dukungan KLHK, saya datang ke kampung ini pada Jumat pagi, 25 Mei 2018. Setelah bersantap saur (karena ini bulan puasa), saya bergegas berangkat menuju ke Bandara Sukarno Hatta untuk terbang ke Banjarmasin. Saya sengaja mengajak teman lama saya, Risart Sungkono dan Virna, sepasang suami istri ahli desain grafis dan desain produk. Sesampainya di Bandara, seorang petugas Pemda menjemput kami dan langsung mengantar kami menuju Kampung Purun.

Saat mobil mulai memasuki Kampung Purun, saya melihat seorang ibu separuh baya tengah mengayuh sepeda tua. Rupanya, dengan sepeda tua itu, ia membawa beberapa ikat batangan pohon kering yang telah diberi pewarna alami. Pak Supir yang menghantar kami mengatakan: “Nah, seperti itulah batangan pohon purun yang siap dianyam.”

Melihat ibu ini, saya langsung meminta Pak Supir berhenti. Saya pun turun dari mobil untuk mengambil foto.

“Ibu apakabar?” Saya coba menyapa.

“Bolehkah saya ambil foto?” Si Ibu hanya tersenyum, pertanda tak keberatan.

Rupanya, rumah ibu ini tak jauh dari lokasi ini. Saya pun mengikuti sepeda yang dikayuh ibu ini hingga ke rumahnya. Kami dipersilahkan masuk. Saat masuk ke dalam rumah, rupanya ada dua perempuan muda yang tengah duduk di lantai sambil menganyam tikar dengan bahan baku daun purun. Saya mendekati kedua perempuan muda itu untuk mengamati jari jari tangan mereka yang begitu terampil menganyam batang-batang purun menjadi tikar.

“Ini anak-anak saya. Namanya Aminah dan Maemunah.” Ibu setengah baya itu memperkenalkan saya pada mereka.

Kami pun langsung menyerbu melihat-lihat beragam hasil anyaman yang tertumpuk di pojok ruangan. Saya melihat Risart dan Virna langsung berdiskusi membahas desain produk anyaman yang telah dihasilkan itu. Banyak perubahan perlu dilakukan, baik dari bentuk desain dan tata-letak warna. Kami hanya memerlukan waktu beberapa menit saja untuk saling berkenalan dan bertegur sapa. Selebihnya, kami sudah akrab bicara penuh tawa dan canda.

Rupanya, perempuan separuh baya yang tadi bersepeda itu, namanya Acil Salasiah, atau sering dipanggil Acil Sala. Ia seorang janda berumur 57 tahun, yang sejak suaminya meninggal berjuang sendiri membesarkan kelima anaknya dengan menganyam berbagai barang kerajinan seperti tikar, tas, tempat buah, topi dan lain-lain. Rumah tua Ibu Salah yang berada di Kampung Tanggul, Kelurahan Palam ini menjadi saksi bagaimana ia harus berjuang membesarkan kelima anaknya dengan menjual produk produk hasil anyaman yang ia buat siang dan malam.

Anak-anak Ibu Sala ada lima; tiga laki-laki dan dua perempuan. Kini, mereka telah dewasa, semua telah berkeluarga dan telah memberi tujuh orang cucu. Walau anak-anaknya telah berkeluarga, namun mereka sehari-hari masih terus berkumpul di rumah tua ini untuk menganyam. Empat dari lima anaknya terlihat terampil, mewarisi keahlian menganyam. Bahkan kini, tiga cucu Ibu Sala yang masih kecil, terlihat mulai belajar menganyam.

Saat kami asyik bercengkrama, hujan di Kampung Purun tiba-tiba turun dengan lebatnya. Atap seng tua rumah Bu Sala mengeluarkan bunyi begitu nyaring tertimpa air hujan. Kami tak dapat lagi berbicara karena suara lumat tertelan bunyi hujan. Aminah, salah seorang anak Ibu Sala, tiba-tiba lari ke arah dapur. Rupanya ia mengambil ember kecil untuk menampung tetesan air dari atap yang bocor. Rumah dengan atap seng tua itu memang sudah terlalu banyak yang bocor.

Saya melihat tetesan air jatuh di sana sini. Salah satu lobangnya, tepat berada di atas kepala saya. Aminah, dengan sopan, meminta saya bergeser karena ia hendak menempatkan ember kecil itu agar tetesan air tak membasahi hasil anyaman yang telah dengan susah payah mereka buat. Saat itu, entah mengapa saya merasa begitu iba dengan keluarga ini. Sudah lima generasi keluarga ini membuat anyaman, namun seng atap rumah saja belum mampu mereka beli. Uang hasil keuntungan menganyam hanya cukup untuk membeli beras dan lauk pauk seadanya.

Saya pun segera tergerak untuk memesan 1000 tas dari batang pohon purun ini. Risart dan Virna segera memberi arahan desain dan tata letak warna tas yang kami pesan. Setelah lebaran nanti, mungkin kami perlu mengundang mereka datang ke Jakarta untuk lebih intensif menganyam dengan arahan desain Risart dan Virna.

Namun kali ini, kami pesan tas dengan desain yang ada, hanya sedikit saran perubahan. Saya tak tahu berapa lama keluarga ini dapat menyelesaikan 1000 tas yang kami pesan ini. Saat saya tanyakan, mereka seperti tak ragu menyanggupi menyelesaikan pesanan secepatnya. Rupanya, Ibu Sala memiliki kelompok pengrajin yang mereka beri nama Perkumpulan Galueh Tjempaka. Anggotanya ada 25 orang, namun yang aktif hanya 15 orang.

Saya masih agak ragu apakah kerajinan tas ini mampu memenuhi permintaan pembeli bila banyak dari kita memiliki kesadaran tak lagi menggunakan kantong plastik saat membungkus barang-barang belanja. Saat kami berdiskusi untuk mencari jalan keluar, Arifin, seorang aktivis lingkungan Banjarmasin yang kebetulan ikut dalam rombongan kami memberitahukan bahwa pengrajin tas seperti ini tersebar di banyak tempat di Kalimantan Selatan. Arifin menyediakan diri untuk mengkoordinasikan para pengrajin ini bila kelak gerakan ini berhasil mempopulerkan penggunaan tas organik pengganti tas plastik.

Saat perjalanan pulang, Risart dan Virna tak habis-habis berdiskusi untuk menyusun strategi branding agar tas ini mendapat perhatian dan laku jual. Saya bahagia melihat pasangan ini begitu serius hendak membantu. Saat kami mendarat di Bandara Sukarno-Hatta, Risart menceriterakan hasil diskusi mereka berdua. Rupanya, mereka bersepakat untuk memberi branding tas pengganti plastik berbelanja ini dengan nama TASPURUN. Nama yang singkat dan menarik.

Saya pun berharap, Taspurun yang terbuat dari bahan organik ini akan tak lama lagi menyebar dan dikenal lebih luas. Tas ini digunakan tak hanya untuk ikut menjadi salah satu penyelamat lingkungan, tetapi juga menjadi bagian meningkatkan pendapatan bagi banyak keluarga seperti keluarga Acil Salasiah ini.

Alangkah bahagianya bila tak lama lagi, Ibu Sala bersama anak-anak dan cucunya, segera mampu mengganti atap seng rumah mereka, sehingga saat hujan tiba, Aminah tak perlu lagi sibuk menampung air hujan yang menetes membasahi rumahnya. Oh…sungguh semoga! #iPras 2018.(jejakrekam)

Penulis adalah Sosiolog FISIP Universitas Indonesia dan Ketua Yayasan Nurani Dunia

Dikutip dari FB Imam B Prasodjo

 

Anda mungkin juga berminat
Loading...