Narasi Jukung Tambangan, Perahu Elit Istana dan Saudagar Banjar

SEJAK masa Hindia Belanda, keindahan Kota Banjarmasin dengan sungainya selalu mengandung daya magnet yang kuat. Begitu orang-orang Eropa mengunjungi ibukota Borneo ini, mereka disuguhkan keindahan dan kultur budaya yang menawan. Terlebih lagi, dengan moda transportasi seperti armada kapal KPM dan NISM, membuat orang-orang kulit putih itu bisa mencatat geliat kehidupan Tanah Banjar.

WAJAR jika akhirnya, ketika orang-orang Benua Biru itu menyanjung Banjarmasin dengan sebutan The Venice from Eastern atau Venetie van het Oosten atau Venice/Venesia dari Timur.  Salah satu rujukan itu adalah majalah Tropisch Nederland terbitan 1939. Majalah ini cukup getol mempromosikan keindahan alam Borneo bagian selatan.

Bertandang ke Tanah Banjar, bagai orang-orang Eropa layaknya mengunjung Venesia. Jika kota maritim di negeri Italia itu terkenal dengan gondolanya,  maka Borneo di era tempo dulu memiliki perahu yang tak kalah indah bernama jukung tambangan.

Sekretaris Pusat Kajian Budaya dan Sejarah Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Mansyur mengutip ulasan sejarawan yang juga pakar jukung Achmad Mawardi dari Lambung Mangkurat Museum Community (LMMC) Kalimantan Selatan.  Menurut Mansyur, dalam makalah Mawardi berjudul Tinggalan Arkeologi Jukung di Kalimantan Selatan Bukti Prototipe Jukung Banjar Masa Kini, dan Pasar Terapung Sebagai Objek Pariwisata Berbasis Arkeologi, terungkap dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA) tahun 2011 lalu.

Dari hasil riste Mawardi, Mansyur mengutip bahwa berdasar tinggalan arkeologis dan narasi historis, jukung-jukung orang Banjar masih banyak terdapat dan digunakan di perairan Kalimantan Selatan. Bahkan pasar terapung (floating markets) di daerah ini, diketahui sudah ada sejak 400 tahun yang lalu.

“Pernyataan Mawardi ini juga senada dengan Idwar Saleh (1981). Begawan sejarawan Banjar ini mengungkapkan bahwa perkiraan pasar terapung dan juga di tebing sungai sudah ada pada tahun 1530 masehi pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah (Pangeran Samudera) yang terletak pada pertemuan Sungai Karamat dan Sungai Sigaling. Kemudian bergeser ke tepi sungai Barito di daerah muara Sungai Kuin menjelang akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17 Masehi,” papar Mansyur kepada jejakrekam.com, Rabu (2/5/2018).

Masih mengutip hasil riset Idwar Saleh, Mansyur mengungkapkan pasar terapung di Sungai Desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar, diduga sudah ada pada abad ke-16. Tetapi baru dipergunakan secara umum ketika perpindahan Keraton Banjar ke kawasan Kayutangi Martapura sejak awal abad ke-17. Tepatnya, tahun 1612.

Bukti memperkuat adanya pasar-pasar yang mengapung di liukan Sungai Barito dan Martapura adalah adanya peninggalan arkeologis Jukung Tambangan. Menurut Mansyur, dalam hipotesisi Mawardi (2011), perahu tambangan  ditemukan terbenam lumpur pada kedalaman 1,5 meter di Sungai Saka Raden anak Sungai Nagara, Desa Baulin Margasari, Kecamatan Candi Laras Selatan, Kabupaten Tapin pada Juni 2009.

“Jukung tambangan tersebut berukuran panjang 12,40 meter, lebar 1,34 meter, dan dalam 59 cm. Kondisi jukung 80 % baik, sebagian rusak dan pada sampung belakang jukung telah mengalami pelapukan (soiling),” beber Mansyur.

Magister sejarah Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini menjelaskan dari analisa C-14 di laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi dan Kelautan (PPGL) Bandung, tipe jukung ini berumur absolut 1765-1825 masehi, atau sekitar tengah abad ke-18 hingga awal abad ke-19 masehi (Kom. pribadi dengan ibu Vida P.R.K., 8 Juli 2011).

“Diduga jukung tambangan itu sudah ada di masa pemerintahan Sultan Tahmidullah atau Nata Alam (1761-1801) hingga Sultan Adam al Wasik Billah (1825-1857).  Dari sumber ini dapat diketahui bahwa kukung tambangan mulai berkembang pada masa pemerintahan Sultan Tahmidullah atau Nata Alam (1761-1801) hingga Sultan Adam al Wasik Billah (1825-1857). Artinya, secara arkelogis dan historis jukung tambangan berusia sudah hampir 257 tahun,” papar Mansyur, mengutip hasil riset Mawardi.

Jukung tambangan seperti dipaparkan Mawardi, berdasarkan pendapat Schwaner (1861) terbuat dari kayu ulin, sudah digunakan oleh para saudagar atau orang kaya, sekitar tahun 1843 -1884. Pertengahan abad ke-19, atap sirap dari kayu ulin sudah digunakan dan diperdagangkan. Antara lain yang diproduksi di Dusun Hulu dan dijual atau dipertukarkan barter ke Banjarmasin.

“Begitupula, Sjamsuddin (2001) juga menuliskan bahwa Surapati misalnya pada Maret 1858 pernah membawanya untuk keperluan pemerintah kolonial Belanda,” kata Mansyur yang akrab disapa Sammy ini.

Dosen muda sejarah FKIP ULM juga mengutip riset Mawardi atas pembuatan jukung tambangan tersebut. Dari riset Mawardi memberi jawaban,  adanya sirap untuk atap rumah, membuktikan hanya bisa dipasang dengan jenis paku besi, tidak dengan pasak kayu. “Pembuatan jukung tambangan terutama dengan lunas tanpa perahu lesung, memerlukan keahlian khusus membuat “lunas mambuah balimbing”. Pembuatan jukung tambangan sengaja tidak menggunakan paku besi, tetapi dari pasak kayu Ulin (dowel technique). Penyusunan papan-papan untuk dinding jukung dengan cara “carvel built (susun rata),” tutur Sammy.

Mantan wartawan ini memberi komentar di sinilah letak seninya dalam pembuatan jukung tambangan. Menurut Sammy, dari hasil berbagai riset jelas para pembuat jukung khas Banjar itu sudah mengenal penggunaan bor, pahat dan gergaji kayu (handsaw) dari besi. “Pasak kayu ulin lebih tahan lama dibanding dari besi. Keahlian membuat jukung ini hanya bisa dibuat oleh ahlinya orang Banjar, bukan dari orang Dayak,” ungkap Sammy.

Lebih jauh, Sammy menerangkan penggunaan jukung tambangan yang awalnya diperkirakan banyak digunakan oleh golongan bangsawan, tetapi sesudah dihapusnya kerajaan Banjar pada tanggal 11 Juni 1860, terjadi pergeseran sosial. “Banyak bangsawan jatuh miskin, dan kedudukannya digantikan para saudagar atau orang-orang kaya,” katanya.

IKLAN TENGAH

Pada masa perang Banjar (1859-1905), dari hasil riset Mawardi terungkap bahwa jukung tambangan pernah digunakan para pejuang Banjar, antara lain ketika menyerang Belanda di Margasari pada 16 Desember 1861 malam, kemudian melarikan diri ke Sungai Jaya anak Sungai Nagara di kawasan Nagara.

“Bahkan, jukung pandan liris atau jukung bagiwas misalnya pernah digunakan oleh Tumenggung Jalil dalam pemberontakan Benua Lima melawan penjajah Belanda, 1859-1881. Narasi sejarah tersebut dituliskan Saleh (1985),  Ideham dkk (2003) serta Antemas (2004),” beber Sammy lagi.

Pendapat Mawardi, jukung pandan liris, selain disebut “tambangan”, juga belum ada ukiran. Di sini perbedaan bahwa jukung pandan liris banyak digunakan oleh orang kebanyakan. Sebaliknya, jukung tambangan semula digunakan oleh kaum bangsawan dan orang kaya Banjar.

“Namun, kemudian sejak awal abad ke-20 (paling lama menjelang akhir abad ke-19), sudah banyak digunakan untuk antar jemput penumpang yang bepergian, bertemu keluarga, kematian, perkawinan, dan sebagainya. Baik oleh orang kebanyakan, maupun oleh para bangsawan dan orang kaya, berduit, dan sebagainya,” kata Sammy.

Triatno (1998) seperti dikutip Mawardi juga mengemukakan jukung tambangan, diduga muncul sesudah jukung pandan liris atau jukung bagiwas, sehingga tipe jukung ini menjadi prototipe jukung tambangan. Untuk tipe jukung pandan liris ditemukan bangkainya berukuran panjang 6,9 meter dan lebar 1,03 meter di dasar sungai Desa Sapala, Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara. “Lunasnya tidak dari balokan kayu, keseluruhan merupakan dinding badan yang ditempelkan pada tajuk, berbentuk “V”,” ucapnya.

Sammy menceritakan pada saat ditemukan belum banyak terserang “soiling” oleh “kapang” sejenis siput air tawar, dan tidak adanya ukiran-ukiran (motif bayam raja, daun jaruju (acanthus ilicifolius), sulur dan motif geometris), polos. Terutama pada sampung belakangnya, sedangkan pada Jukung Tambangan terdapat ukiran daun jaruju melayap.

Tetapi dari perbandingan kedua macam jukung ini, jukung tambangan memang lebih umum dikenal. Wajar, kata Sammy, ketika Mawardi berpendapat bahwa jukung pandan liris disebut demikian karena hanya dibuat dan digunakan di Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, dan di kawasan sungai dan rawa Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan disebut Jukung Bagiwas.

“ Pada sampung muka dan belakang tipe Jukung Bagiwas ini terdapat ukiran sulur daun, warna coklat. Karenanya tipe jukung ini dianggap prototipe Jukung Tambangan menurut Triatno et al. (1998),” ungkap Sammy lagi.

Apalagi di kawasan Sungai Nagara terdapat sebuah desa yang disebut Desa Tambangan, dulunya adalah desa pembuat/pengrajin jukung tambangan yang sangat dikenal. Nah, kata Sammy, di kawasan rawa/sungai Nagara keseluruhan, diketahui banyak pengrajin jukung. Misalnya pembuat jukung undaan dan kukung parahan (berasal dari kata “Vraag”, Belanda, ongkos yang harus dibayarkan) atau jukung gundul.

Seperti pada jukung bagiwas, kedua macam (tipe) jukung angkutan barang ini memiliki ukiran pada kedua sampungnya, berupa motif sulur daun memanjang, dengan warna coklat. Sedangkan pada jukung parahan lunasnya berupa balokan kayu memanjang didasar jukung menurut Triatno (1998).

“Untuk membuktikan jukung pandan liris atau jukung bagiwas adalah prototipe dari jukung tambangan, diperlukan analisa C-14 pada bangkai jukung pandan liris atau jukung bagiwas. Apakah lebih dahulu atau bersamaan, semasa dengan Jukung Tambangan,” Sammy memberi komentar.

Jukung tambangan yang sekarang menjadi “emblem” orang Banjar, sudah tidak terlihat lagi sekitar tahun 1950-an di Banjarmasin seperti diungkapkan Saleh (1983), Syarifuddin dan Kadir (1990), dan sekitar tahun 1970-an di Sungai Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan menurut analisa Petersen (2000).

Sedangkan, menurut dia, jukung-jukung Banjar sekarang ini selain jukung-jukung sudur yang masih digunakan di berbagai kabupaten, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Banjar dan lain-lain. Sammy mengatakan bahwa jukung-jukung papan terbaru, juga motor boat dan ferry, adalah tipe (macam) jukung yang dibuat sejak paruh pertengahan abad ke-20 M.

“Sesudah perahu-perahu papan yang terbuat dari kayu ulin, seperti jukung tambangan menghilang, kemudian muncul jukung Tamban. Macam jukung ini merupakan bentuk nyata jukung batambit (plank-built boat), untuk angkutan penumpang yang bentuknya cantik. Analisa ini dikemukakan Erik Petersen (2000),” ujarnya.

Sementara, jukung Kuin merupakan jukung patai yang diberi kapih. Secara berangsur berbagai macam jukung tradisional lenyap tidak digunakan lagi karena didesak angkutan air modern yang menggunakan mesin diesel sebagai penggerak jukung.  “Jukung Patai yang masih digunakan tetapi dengan menggunakan mesin penggerak berbahan bakar minyak tanah atau kerosin adalah tipe (macam) Jukung Serdangan di Sungai Kusan Kabupaten Tanah Bumbu, yang disebut “katinting”,” papar Sammy lagi.

Tipe jukung ini dibuat dari kayu Halaban (Vitex pubescens Vahl.) dan kayu Bungur (Lagerstromea speciosa Pers.) Macam-macam jukung lainnya yang sudah punah di antaranya Jukung Talangkasan (prototipe Jukung Patai), Jukung Bagiwas, Jukung Tambangan, Jukung Babanciran, Jukung Pangkuh, Jukung Parahan, Jukung Gundul, Jukung Undaan, Jukung Kuin, Jukung Pangkuh, Jukung Tamban, dan Jukung Buntal (jukung sudur kecil, lebar dan terbuat dari kayu Jingah, Gluta renghas L.) Selain Jukung Talangkasan yang sudah ada pada abad ke-16, jukung-jukung yang sudah punah tersebut di atas, muncul menjelang tengah atau akhir abad ke-19 Masehi, bahkan mungkin jauh sebelumnya.

Pertanyaannya, bagimana merevitalisasi kembali sehingga Jukung tambangan dan jenis jukung lainnya bisa lestari?  Menurut Mawardi, upaya meningkatkan apresiasi dan kepedulian masyarakat Kalimantan Selatan terhadap jukung tradisionalnya dapat dimantapkan dengan cara pemanfaatan sekaligus pelestarian sumber budaya sungai tersebut, terutama keberadaan pasar-pasar terapung yang bernilai arkeologi untuk pariwisata. Hal ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi juga kewajiban masyarakat (lembaga swadaya masyarakat atau pemerhati secara perseorangan).

“Dalam hal ini, pemerintah pusat dan daerah beserta para pemangku kepentingan (stake-holders) lainnya, memfasilitasi ketahanan budaya jukung tradisional yang berkaitan dengan sumberdaya budaya sungai lainnya secara keseluruhan, dan menjadikannya sebagai budaya unggulan (the culture of excellence) etnis Banjar,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis Sammy Didi GS
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...

Narasi Jukung Tambangan, Perahu Elit Istana dan Saudagar Banjar