Malam Terakhir Ramadhan, Pemkot Banjarbaru Lestarikan Tradisi Badamaran

TRADISI badamaran yang erat dengan malam ganjil di sepuluh terakhir bulan Ramadhan atau malam salikuran dalam budaya Banjar, mulai terkikis. Untuk melestarikannya, Pemkot Banjarbaru menggelar Festival Badamaran di Desa Batu Ampar RT 28 RW 09, Kelurahan Cempaka, Kecamatan Cempaka, Sabtu (25/5/2019) malam.

FESTIVAL Badamaran dengan menyala obor dari minyak tanah yang diletakkan tersusun rapi di atas tanah pun mendapat sambutan hangat warga. Apalagi, tradisi itu sangat jarang, ketika jaringan listrik sudah menyala hingga ke pelosok desa, sehingga diganti dengan lampu warna-warni.

Walikota Banjarbaru Nadjmi Adhani mengatakan, tradisi badamaran adalah tradisi masyarakat Banjar yang perlu dilestarikan. Ia juga menjelaskan, badamaran adalah membuat penerangan disekitar lingkungan di jelang malam- malam terakhir bulan Ramadhan.

BACA : Tradisi Bagarakan Sahur, Kultur Banjar Semarakkan Dinihari Ramadhan

“Dahulu untuk membuat penerangan digunakan damar sebagai bahan bakarnya, namun karena sekarang damar langka, maka diganti dengan minyak tanah,” ucap Walikota Nadjmi Adhani kepada wartawan.

BACA JUGA : Bertabur ‘Dadamaran’ Hiasi Malam ‘Salikuran’

Festival Badamaran yang digelar Pemkot Banjarbaru mendapat sambutan meriah warga Desa Batu Ampar, Kelurahan Cempaka. Pelestarian budaya masyarakat Banjar ini bekerjasama dengan Dewan Kesenian Kota Banjarbaru,  Ponpes Al-fatih Wal Imdad dan warga dengan serentak menyalakan obor dari bambu dipasang sumbu menerangi ruas jalan desa yang tampak artistik.(jejakrekam)

Penulis Syahminan
Editor Didi GS