Yusni Antemas: Si Kuli Tinta, Langganan Masuk Penjara

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

Foto : Dok Yusni Antemas

GARA-GARA mendapat predikat si kuli tinta bandel dari orang-orang Jepang, Yusni Antemas dihukum pemerintah Dai Nippon keliling kota Amuntai saat panas terik. Tidak boleh mengenakan sandal dan diperintahkan berlari di atas jalan beraspal yang sangat panas.Kedua kakinya dirantai bola besi besar yang berat. Bila larinya melambat maka akan dicambuk para mandor.

SIKSAAN yang tak terperikan. Tetapi ini nyata. Bukan kisah dongeng atau cerita indah yang hanya ada dalam novel roman. Itulah pengalaman Yusni Antemas. Kuli tinta alias wartawan pejuang asal Amuntai pada tahun 1944an. Yusni Antemas tercatat sebagai ”zwaarte journalist” (wartawan hitam) yang hidupnya keluar masuk tahanan.

Wartawan adalah orang yang bekerja mencari dan menyusun berita untuk dimuat di surat kabar, majalah, radio,dan televisi. Biasa juga disebut  juru warta atau jurnalis.Beliau adalah wartawan tiga zaman, yakni zaman penjajahan Belanda, zaman Jepang dan zaman mempertahankan kemerdekaan.

Setidaknya itulah yang tergambar dari tulisan penulis lokal Amuntai, Yuni Mutiasari, tentang biograsi Yusni Antemas. Dengan media pers perjuangan sederhana, Yusni Antemas memotivasi masyarakat dengan berbagai informasi perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia. Sebagai wartawan pejuang, Yusni Antemas menjadi “langganan” tahanan pemerintahan kolonial Belanda. Bersama dengan Zafry Zamzam, Haspan Dadna, dan Hamran Ambrie, Yusni Antemas.

Mereka ditangkap dan ditahan karena tulisannya yang dianggap membahayakan bagi pemerintah kolonial masa itu. Antemas baru dilepas dari tahanan setelah terjadinya Clash II pada tahun 1949.

Pada saat Indonesia merdekapun Yusni Antemas tetap vokal menyuarakan aspirasi rakyat. Pada saat itu sekitar tahun 1960-an ketika Presiden pertama RI, Soekarno datang ke Amuntai. Yusni tampil memprotes Soekarno, sehingga beliau sempat dipanggil langsung oleh pemimpin besar revolusi ini.

Yati Antemas, putri Yusni Antemas, menuturkan saat itu, tidak begitu persis mengingat tanggal dan tahunnya. Sekitar tahun 1960-an, Soekarno datang ke Amuntai. Yusni Antemas lalu meneroboskumpulan massa yang ingin melihat presiden. Beliau membawa poster besar yang berisi tulisan “Indonesia Negara Islam atau Nasional?” Ternyata poster itu terlihat oleh Soekarno.Kemudian Yusni Antemas dipanggil. Dijawab Soekarno kalau negara Indonesia, bukan negara Islam tetapi negara Nasionalis.

Yusni Antemas mulai menulis dan mempublikasikan karyanya sejak tahun 1940.Adapun media massa tempat Antemas bekerja antara lain Borneo Shimbun (1942-1945), Terompet Masyarakat (1947), Menara Indonesia (1947-1948) dan Kalimantan Berjuang(1949-1952). Ia juga pernah menjadi wartawan koresponden Majalah “Waktu” Medan,  Majalah “Nasional”  Jogyakarta, Majalah “Suara Rakyat’, Majalah “Cermin’’, Majalah “Sketsa” dan Majalah “Vaia Nyata“.

Keterangan Yati Antemas, putri Yusni Antemas, sang bapak yang lebih dikenal dengan nama Anggraini Antemas lahir di Amuntai, 22 April 1922. Ayah Yusni Antemas bernama Abdul Rasyid dan ibunya, Habibah. Yusni Antemas manak tertua dari dua bersaudara. Adiknya bernama Siti,tidak berdomisili di Amuntai, tetapi menetap di Banjarmasin.Ayah beliau,seorang petani dan ibunya berprofesi tukang jahit.

Yusni Antemas sejak kecil menempuh pendidikan formal maupun nonformal di Inlandsche School (1930). Kemudian dilanjutkan ke Vervolgschool Amuntai (1936) selanjutnya ke Indonesian College di Medan (1950), Kursus Melukis Reklame di Jakarta (1953), Kursus Jurnalistik di Jakarta (1954) serta Kursus Privat Senirupa di Yogyakarta (1957).

Setelah dewasa dan mandiri, Yusni Antemas menikah tahun 1938 dengan Siti Hamsah bin H. Irus Kaderi, seorang pegawai BPM dari kertosono, Jombang (Jawa Timur). Siti Hamsah merupakan orang yang berpendidikan tinggi dan mampu berbahasa Belanda,Hal inilah yang memotivasi Yusni Antemas terus belajar agar tidak kalah dengan istrinya.

Dalam usia sangat muda (1939) beliau telah menjadi penulis di majalah Pustaka Timur yang terbit di Yogyakarta dan Terang Bulan yang terbit di Jakarta. Beliau melakoni pekerjaan itu sambil berjualan buku dan membuka perpustakaan.

Dalam tulisan berjudul “Apa & Siapa Dari Utara” yang dieditori H. Ahmad Makkie, pada masa penjajahan Jepang (1942-1945) beliau menjadi Juru Penerang Keimin Sidubo dan wartawan Borneo Shimboen sambil melukis dan menulis cerita untuk sandiwara amatir Fajar.

Pada masa perjuangan (1945-1949) beliau bergabung dengan Gerpindom (Gerakan Rakyat Pengejar/Pembela Indonesia Merdeka) dan menjabat sekretaris. Disamping itu beliau aktif pula sebagai wakil Pimpinan Redaksi Terompet Rakyat dan Menara Indonesia. Dalam Barisan Pelopor Pemberontak Kalimantan Indonesia (BPPKI) beliau berpangkat Letnan Muda di bawah pimpinan Mayor M. Yusi (mantan Pangdam X Lambung Mangkurat).

Selama masa perjuangan, beliau beberapa kali ditangkap Belanda, ditahan di penjara Kota Tanjung selama setahun karena memelopori gerakan Plebisit Pro Republik. Namun setelah penyerahan kedaulatan dari pemerintah Hindia Belanda kepada Republik Indonesia tahun 1949-1950, beliau tidak lagi melanjutkan karier tentara melainkan menekuni bidang kewartawanan.

Pada masa revolusi fisik Yusni Antemas bersama Hamran Ambrie menerbitkan harian “Terompet Rakyat” dan “Menara Indonesia”. Melalui kolom pojok dan editorialnya harian ini seringkali melontarkan protes, sindiran atau kritikan terhadap kebobrokan politik kolonial Belanda. Keberanian Harian Terompet Rakyat mengkritik kebobrokan politik penjajahan menyebabkan harian ini senantiasa mendapat sorotan dari penguasa setempat.

Berita pojok Koran Terompet Rakyat juga sama seperti berita pojok pada surat kabar-surat kabar perjuangan pada masa itu yang berisi berita jenaka dan sindiran kepada pemerintah Belanda. Berikut kutipan berita pojok yang dimuat dalam Koran Terompet Rakyat edisi 11 Desember 1946 yang berjudul Djamoe Koeripan:

Berita Pojok: Djamoe Koeripan

“MANDJOEAL BANGSA”

“…bahwa rakjat Belanda menganggap kalaoe menjetodjoei itoe, berarti keradjaan Belanda didjoeal kepada Repoeblik Indonesia” oejar wartawan Joesoep member keterangan di Radio.

Wah…wah…wah !!

Kalimantan poelang anggapan orang sana. Hanjar oeroesan naskah persetoedjoan, oeroes damai tjaca bersahabat, soedah dikatakan keradjaan tadjual. Pina takutan menir-menir di sana kaloe tadjoeal, sebab boleh djadi sidin menganggap moen tadjoeal.

Sebenarnja tjoema tapisah, kada kawa lagi makan bamantiga lagi, sekoerangnja tangalih sadikit dari nang soedah-soeda.

Kelewar biar handak didjoeal, koerasa kada balioer djoea handak menoekari moen soedah baroesak-roesak oleh si nani, apalagi boeboehankoe kada sanggoep mangganii pamakanja nang sarba matiga-soesoe: kada kaja kita2 ni maoe hanja sambal2 kangkoeng dan nomor doeanja, kada kawa mangganii mambajariakan hoetang sidin naang batimbal lapis itoe, pambagian gin kaja apakah, amoen kawa manaboesi.

Akoe maambil tasmak dadahoeloe. Hanjar bahimat kita bapandir poelitik.

Isi dari berita pojok tersebut menggunakan Bahasa Banjar agar masyarakat Kalimantan Selatan dan Amuntai khususnya lebih mengerti dengan isi berita yang ingin disampaikan. Berita pojok menggunakan Bahasa Banjar Totok dengan tujuan pemerintah Belanda tidak mengerti isinya.

Penulis pojok biasanya mengambil nama atau gelar dari kekhasan korannya.Setiap koran pada masa tersebut memiliki berita pojok dan penulis pojok dengan gelar yang berbeda-beda. Seperti dalam Koran Kalimantan Berjuang, Yusni Antemas sebagai penulis atau penjaga Warung Kopi Pahit (berita pojok) dengan gelar Abang Sikat. Sementara di Koran Terompet Rakyat, berita pojoknya ditulis Hamran Ambrie dengan gelar Abang Betel.

Hamran Ambrie dan Yusni Antemas tidak hanya tokoh pers yang memihak perjuangan, tetapi juga anggota organisasi perjuangan GERPINDOM (Gerakan Pembela Pengejar Indonesia Merdeka). Organisasi tersebut merupakan organisasi rahasia dan illegal bagi Belanda.

Sumber berita Koran Terompet rakyat dikutip dari siaran radio Bung Tomo di Surabaya. Siaran radio tersebut mengudara sampai ke Kalimantan Selatan. Berita dari siaran radio itu kemudian dikutip dan dimuat ke dalam Koran Terompet Rakyat dengan tujuan berita-berita dalam Koran Terompet Rakyat mampu membakar semangat perjuangan rakyat.

Hamran Ambrie (Pemred) dan Yusni Antemas (Wakil Pemred) dipanggil dan diminta menghentikan kegiatannya sebagai wartawan Republiken dengan menawarkan bantuan berupa dana dan sarana apabila bersedia menghentikan penerbitan Harian Terompet Rakyat atau bekerjasama dengan surat kabar Belanda. Namun tawaran itu ditolak mereka. Dampak gagalnya bujukan pihak penguasa NICA kepada tokoh-tokoh Terompet Rakyat di Amuntai tersebut adalah terjadinya peristiwa pemukulan oleh militer NICA terhadap Yusni Antemas tanggal 6 Mei 1947.

Janji pihak berwajib mengusut peristiwa Yusni Antemas ini tidak pernah berlanjut, bahkan tekanan-tekanan penguasa NICA terhadap Terompet Rakyat semakin kuat. Yusni Antemas beberapa kali ditangkap karena persdelict dari tulisan-tulisannya itu, ditahan di penjara Tanjung selama satu tahun sampai dibebaskan di tahun 1949. Sesudah tokoh-tokohnya ditahan pemerintah NICA, maka kondisi harian Terompet Rakyat memburuk karena kekurangan modal sampai akhirnya keluar pemberlakuan larangan terbit terhadap harian tersebut.

Aktivitas sebagai wartawan tidak berhenti begitu saja. Yusni Antemas sempat pula menjadi anggota pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) kring(cabang) Banjarmasin. Proses lahirnya PWI di Banjarmasin tidak lepas dari adanya surat perintah yang dikeluarkan Wakil Presiden M. Hatta. Isi dari surat perintah itu adalah agar rakyat Indonesia mendirikan partai politik dan organisasi kemasyarakatan untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Sepak terjang Yusni Antemas tidak berhenti sampai di situ. Dalam kurun waktu 1953-1957 beliau menjadi wartawan Harian Kalimantan Berjuang Banjarmasin, Harian Merdeka Jakarta, Harian Warta Berita Medan, Harian Indonesia Bandung, Harian Suara Rakyat Surabaya, Harian Nasional Yogyakarta, Majalah Waktu Medan, Majalah Tempo dan Gaya Surabaya serta Harian Indonesia Merdeka Banjarmasin. Beliau juga menerbitkan mingguan Berita di Amuntai.

Pada tahun 1957-1964 beliau menerbitkan Anggraini Features dan aktif untuk menulis majalah Minggu Pagi, Pelangi, Merdeka, Skets Cinta Kasih, Taruna, Riang, Juita, Gembira dan Siasat yang terbit di berbagai kota di Indonesia. Pada tahun 1971-1974 tokoh ini menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Anak & Remaja Megaria dan bulletin Varia Megaria terbitan Depdikbud Kalimantan Selatan.

Beliau menjabat Dewan Redaksi harian Utama, majalah Gema Bandarmasih Banjarmasin dan aktif menulis untuk LKBN Antara, harian Banjarmasin Post, Majalah Intan Sari, mengasuh ruang sastra di Radio Siaran Pemuda Hulu Sungai Utara pada tahun 1975-2003.

Yusni Antemas sempat pula bekerja di Jawatan Penerangan Hulu Sungai Utara (1957-1964) dan menjabat sebagai Kepala Bagian Pers dan Publistik. Pada tahun 1964-1971 beliau menjabat di Inspeksi Daerah Kebudayaan Kalimantan Selatan dan menjabat sebagai perwakilan Hulu Sungai Utara.Selanjutnya dipromosikan menjadi Kepala Kantor Permuseuman Kalimantan Selatan.

Dalam bidang politik Yusni Antemas pernah aktif sebagai Sekretaris Partai Serikat Kerakyatan Indonesia (SKI) di masa perjuangan. Kemudian memimpin Partai Nasional Indonesia (PNI) yang kemudian mengantarkannya menjadi anggota DPRD Tingkat I Kalimantan Selatan.(jejakrekam)

Penulis adalah Staf Pengajar Prodi Sejarah FKIP ULM

Sekretaris Pusat Kajian Budaya dan Sejarah Banjar Universitas Lambung Mangkurat

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan

 

 

Anda mungkin juga berminat
Loading...
Klik bel merah di samping kanan layar untuk mendapatkan notifikasi berita terbaru.