Artis Serba Bisa Benyamin S Pernah Order, Songkok Pasar Lama Ikonik Kopiah Banjar

Foto : Didi GS

SIAPA yang tak kenal songkok atau kopiah buatan tangan dari pengrajin Pasar Lama Banjarmasin? Kopiah berbahan kain beludru hitam berkualitas dengan jahitan yang rapi ini, mampu bertahan puluhan tahun di tengah gempuran industri massal penutup kepala untuk ibadah dan keperluan lainnya. Kini, usaha itu dilestarikan generasi ketiga dari almarhum H Masrun Ali.

DATANG dari Kota Amuntai, dan akhirnya menetap di Banjarmsin, H Masrun Ali yang mengawali usaha keluarga membuat kopiah ini dengan menjaga teguh kualitas, agar tak mendapat keluhan dari para pelanggan. Sekarang, usaha ini telah ditekuni sang cucu, Baharlis (53 tahun), ketika bisnis keluarga ini mulai dirintis sejak tahun 1976.

Kopiah yang tetap mempertahankan merek Tjap Intan ini laris manis saat lebaran Idul Fitri pun datang. Saban tahun, kopian Tjap Berlian tetap menjadi incaran para pejabat, pengusaha, hingga masyarakat awam. “Beda dengan kopiah buatan dari Jawa, kopiah Tjan Berlian yang sebut saja kopiah Banjar ini sangat awet untuk dipakai. Asalkan, perawatan benar,” ucap Baharlis kepada jejakrekam.com, di tokonya yang kini berada di samping Jembatan Pasar Lama Banjarmasin, Kamis (14/6/2018) malam.

Awalnya, kios sekaligus rumah produksi kopiah ini berada di tepian Sungai Martapura. Begitu ada proyek penyiringan Sungai Martapura yang menjadi bagian dari Siring Sudirman, tergusur dan akhirnya pindah ke seberang Jalan Pasar Lama, berdekatan dengan komplek pasar tua yang terkenal di Banjarmasin.

“Saat jelang lebaran ini, memang banyak pejabat dan pengusaha yang pesan. Untuk memenuhinya, kami pun bekerja lebih ekstra lagi,” kata Baharlis.

Menurut Baharlis, kopian Tjap Berlian ini kerap dipakai para anggota DPRD, instansi pemerintah hingga swasta untuk kegiatan resmi atau pakaian sehari-hari, termasuk untuk beribadah. Ciri kopiah Banjar ini adalah tingginya hanya 9 centimeter.

“Tapi, kalau orang Madura yang pesan, tingginya bisa 12 centimeter. Biasanya, banyak juragan sapi dari Madura yang datang membawa sapi, pulangnya membawa kopiah Banjar. Saya tanya mengapa harus beli ke Banjarmasin? Mereka menjawab ada kharismanya, entahlah. Yang pasti, kami tetap menjaga kualitas seperti awal pembuatan yang dilakukan kakek saya,” urai Baharlis.

Yang menarik, Baharlis pun bercerita di saat kakeknya masih hidup dan bersama sang ayah, pernah ada pesanan khusus dari Benyamin S, artis kawakan dan komedian senior berdarah Betawi, memesan kopiah berwarna merah dari kios kecil di Pasar Lama ini. “Waktu itu harga kopiah hanya Rp 15 ribu per buah. Tapi, saat dipesan Benyamin S dalam kampanye Golkar, waktu itu harganya jadi Rp 17.500. Ya, karena pesanan khusus,” kenang Baharlis.

Gara-gara Benyamin S datang ke kios sang kakek, warga Banjarmasin pun dibikin heboh. Mereka pun mengerubungi artis serba bisa itu, ketika mengambil pesanan kopiah merah khas Betawi buatan tangan H Mahrus Ali, dengan merek khusus Tjap Berlian.

Dengan menjaga mutu itu, tak heran jika harga kopiah yang dijual Baharlis pun agak sedikit mahal, dibandingkan dengan buatan pabrik dari Jawa. Untuk kopiah hitam dibandrol seharga Rp 300 ribu per buah, bahkan ada termahal Rp 500 ribu tergantung tingkat kerumitan dan bahan berkualitas yang dipakai.

Dibalut kain beludru berkualitas, songkok berbahan dasar kain satin yang membungkuk kertas semen dan koran, sehingga bisa menjadi media penyerap peluh. “Makanya, saya berani jamin, peluh yang ada di kepala ini bisa diserap. Makanya, memakai kopiah ini tidak akan kepanasan dan gerah. Beda dengan produk pabrikan asal Jawa, peluh bisa turun ke dahi,” kata Baharlis, seraya berpromosi.

Kopiah Tjap Berlian ini pun akhirnya jadi langgan almarhum pengusaha dan tokoh Banua, H Abdussamad Sulaiman HB semasa hidupnya. “Kalau H Leman (almarhum) pesan tiap tahun pasti lima buah. Begitupula, Pak Muhidin (mantan Walikota Banjarmasin) sering pesan ke sini. Pendeknya, hampir seluruh pejabat dan pengusaha memakai kopiah Tjan Berlian,” ucap Baharlis.

Meski dalam sehari hanya bisa menghasilkan dua buah kopiah, atau dalam sebulan sekitar 60 buah, Baharlis mengakui banyak pesanan datang. Bahkan, sekarang, Baharlis yang dibantu sang istri dan karyawan juga membuat kopiah berlapis kain sasirangan yang menjadi ikon pariwisata dan identitas Banjar. “Walikota Banjarmasin Ibnu Sina juga memesan di sini,” kata Baharlis.

Di tengah kemajuan informasi teknologi, Baharlis pun juga harus melek dengan kecanggihan telepon pintar. Dia mengaku juga kerap mendapat pesanan lewat medsos, seperti WhatsApp (WA) dan facebook (FB). “Kopiah Banjar meski tergolong mahal, tapi kualitasnya tetap terjamin. Model kopiah bisa meniru gaya Soekarno atau Soeharto, terlihat beda. Kalau Soekarno agak tinggi, sedangkan Soeharto lebih rendah,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...