Oleh: Subhan Syarief
AMARAH alam datang tanpa salam. Kadang Ia turun dari perbukitan, membawa tanah, batang kayu, dan sisa-sisa rumah yang tak sempat diselamatkan.
Ya, dalam hitungan jam, bencana banjir bandang menyapu wilayah Sumatra—menenggelamkan permukiman kota dan kampung, memutus jalan, mematahkan hidup yang selama ini tampak biasa-biasa saja.
Di layar televisi, gambar itu berulang: warga mengungsi, anak-anak menggigil, orang tua menatap kosong ke arah rumah yang telah hilang.
Seperti biasa, penjelasan resmi menyusul: curah hujan ekstrem, anomali iklim, faktor alam. Kalimat-kalimat aman yang rapi.

Seolah bencana jatuh begitu saja dari langit, tanpa sejarah, tanpa jejak tangan manusia. Padahal Al-Qur’an sejak awal menolak cara berpikir semacam itu.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia,” firman Allah dalam Surah Ar-Rum ayat 41. Ini bukan puisi. Ini diagnosis. Bahwa ketika alam rusak, itu bukan kebetulan—itu akibat.
Di Sumatra, akibat itu mudah dibaca. Hutan yang dulu menahan air kini berlubang oleh izin.
Daerah tangkapan hujan berubah menjadi konsesi. Hutan dibabat, sungai dipersempit, bukit dan gunung dipangkas.
Semua dilakukan dengan dokumen resmi, stempel sah, dan narasi pembangunan, pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja.
Ketika peringatan datang dari warga adat, pegiat lingkungan, akademisi dan pengamat; ia ditenggelamkan oleh satu kata yang lebih keras: investasi.
Al-Qur’an telah lama membongkar ironi ini: “Apabila dikatakan kepada mereka: janganlah membuat kerusakan di bumi, mereka menjawab: kami hanya melakukan perbaikan. Ketahuilah, merekalah pembuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah: 11–12)
Kerusakan dibungkus perbaikan. Perusakan disebut kemajuan. Dan ketika banjir bandang datang, alam dituding sebagai penyebab, bukan sebagai korban.
Seolah alam pun bersuara—bukan dengan bahasa manusia, tetapi dengan air yang meluap, tanah yang runtuh, dan nyawa yang hilang. Seolah ia mengadu kepada Penciptanya: Aku dijadikan amanah, tetapi aku dilanggar.
Allah menjawab bukan dengan kilat, melainkan dengan peringatan yang bisa dirasakan semua orang. Bencana bukan kutukan buta. Ia teguran.
“Dan janganlah kalian membuat kerusakan di bumi setelah ia diperbaiki,” perintah Allah dalam Surah Al-A‘raf ayat 56. Bumi memiliki keseimbangan. Ketika keseimbangan itu dirusak dengan sadar—melalui izin yang diteken, eksploitasi yang dipertahankan, pembiaran yang sistematis—maka dosanya bukan lagi personal. Ia dosa struktural.
Di titik inilah peringatan menjadi keras. Bukan kepada rakyat kecil yang menjadi korban, tetapi kepada mereka yang memegang kuasa: para penguasa yang mengeluarkan izin tanpa amanah, para pengusaha yang mengejar laba tanpa batas, aparat yang menutup mata, intelektual yang memilih diam. Semua akan dimintai pertanggungjawaban.
“Ketika ia berkuasa, ia membuat kerusakan di bumi, merusak tanaman dan keturunan; dan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. Al-Baqarah: 205)
Tanaman adalah ekologi. Keturunan adalah masa depan. Merusak keduanya berarti memerangi kehidupan.
Al Quran, hadist dan ulama mengingatkan: surga tidak dihuni oleh mereka yang menzalimi makhluk Allah dan merasa aman dari hisab. Bau surga—yang disebut dapat tercium dari jarak yang jauh—tak akan dinikmati oleh mereka yang membuat bumi sesak bagi penghuninya. Bukan karena Allah kejam, tetapi karena keadilan-Nya tak bisa dibeli dengan citra religius atau sedekah dari harta perusakan.
Banjir bandang di Sumatera bukan sekadar berita. Ia kesaksian. Bahwa alam telah menuntut janji. Bahwa amanah telah dilanggar. Dan bila manusia tak berubah, peringatan akan datang lagi—dengan cara yang lebih keras.
Pertanyaannya tinggal satu: apakah musibah ini akan dibaca sebagai panggilan untuk bertobat, atau kembali ditutup dengan kalimat lama—cuaca ekstrem— sambil menunggu air berikutnya datang menagih? (*)
Penulis: Pendiri Batang Banyu Institute)

