WAKIL Bupati Tabalong, Habib Muhammad Taufani Alkaf membuka secara resmi kegaiatan Sosialisasi dan Bimtek, pada Senin (12/1/2026).
SOSIALISASI dan bimbingan teknis (bimtek) pelaporan konvergensi dan percepatan penurunan stunting pada Aplikasi Aksi Konvergensi Bangda Kemendagri ini, digelar oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida), di Gedung Informasi Pembangunan. Diiuti oleh sejumlah jajaran SKPD, para camat hingga kepala Puskesmas se-Kabupaten Tabalong.
Dalam sambutannya, Wabup Habib Muhammad Taufani Alkaf mengatakan, sosialisasi ini sangat penting dan strategis agar seluruh pihak, khususnya para camat dan kepala puskesmas, benar-benar memahami tata cara pelaporan terbaru pada Aplikasi Aksi Konvergensi Bangda Stunting.
“Kami berharap kepada seluruh peserta, terutama camat dan kepala puskesmas, agar dapat mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh dan sampai selesai, sehingga tidak ada lagi kendala dalam proses pengisian maupun pelaporan data ke depannya,” katanya.
Wabup Tabalong juga menjelaskan, kenaikan angka stunting ini menjadi alarm bagi semua pihak bahwa upaya percepatan dan penurunan stunting harus terus diperkuat.
Selain itu, tidak hanya dalam bentuk program dan kegiatan, tetapi juga melalui pelaporan data yang akurat, tepat waktu, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Karena dari data yang baik, akan lahir kebijakan yang tepat sasaran. Kami berharap akan terbangun kesamaan persepsi, peningkatan kapasitas aparatur di tingkat kecamatan dan puskesmas, serta semakin kuatnya sinergi lintas sektor dalam upaya menurunkan angka stunting di Tabalong,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bapperida Tabalong, H Arianto mengatakan, Sosialisasi dan Bimtek ini merupakan rangkaian dari upaya penanganan stunting di Bumi Saraba Kawa.
“Kita melaksanakan aktivitas atau berusaha sedemikian rupa supaya fenomena stunting di Tabalong bisa ditekan semaksimal mungkin,” katanya.
Ia mengungkapkan, prevalensi stunting di Tabalong berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada 2024 berada di angka 23,1 persen.
Angka ini mengalami kenaikan sekitar 5 persen dibandingkan sebelumnya yang berada di angka 18,1 persen dan menjadi perhatian semua pihak.
“Ini menjadi perhatian Kita semua, karena menurut WHO, angka stunting melebihi 20 persen menunjukkan permasalahan kesehatan masyarakat yang serius di suatu wilayah,” ucapnya.(jejakrekam)

