POLEMIK proyek revitalisasi sungai di Jalan Veteran, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, belumlah reda.
PROYEK pun terus berjalan di tengah protes dan kegundahan yang dirasakan sejumlah elemen masyarakat.
Berbagai argumen disampaikan oleh para pengkritik proyek, yang disebut-sebut sebagai solusi mengatasi banjir di kawasan itu.
Kritik yang dilontarkan bukan tanpa alasan. Adanya pengurukan badan sungai menjadi pemicu protes keras baik dari individu warga Banjarmasin, LSM dan aktivis lingkungan maupun pengamat tata kota.
Sungai yang semula memiliki lebar hingga 20 meter, dengan adanya pengurukan menyempit sisa 8 meter.
Secara logika, mengatasi banjir di manapun, cara paling ampuh adalah mengeruk dan mengembalikan fungsi dan fisik sungai ke keadaan semula.
BACA: Sukses Bentuk Koperasi Merah Putih, Kalsel Menjadi Provinsi Ketiga Tercepat Secara Nasional
Nah, di proyek revitalisasi sungai justru sebaliknya. Ada penyempitan badan sungai. Meski penyempitan badan sungai ini terjadi hanya beberapa ruas, diperkirakan sepanjang 200 meter. Pada ruas lainnya, dilebarkan dari antara 3-5 meter menjadi 8 meter.
Pihak pelaksana, dalam hal ini Balai Wilayah Sungai (BWS) III Kalimantan, beralasan bagian sungai yang diuruk akan dibuat jalan inspeksi dan ruang terbuka hijau.
Konsep yang ditawarkan, sungai di Jalan Veteran ini nantinya berbentuk kanal, sungai yang lurus diapit jalan.
Sebagaimana pernah dilansir jejakrekam.com pada 2023 lalu, konsep jalan kembar dibelah sungai (kanal) akan diterapkan di kawasan Jalan Veteran, Kelurahan Melayu hingga Kelurahan Kuripan, Banjarmasin.
Konsep ini sendiri sudah lama diperkenalkan oleh arsitek dan ahli perencanaan kota Hindia Belanda; Herman Thomas Karsten.
Lulusan Technische Hoogeschool di Delf, Belanda pada 1914 atas ajakan Maclain Pont (Biro Arsitek Semarang sejak 1913), Karsten kemudian bertolak ke Indonesia (Hindia Belanda).
BACA: Ketua Komisi X DPR RI Dukung Pencabutan Izin Tambang di Raja Ampat
Dia terlibat dalam perencanaan Koloniale Tentonsteling (1916) yang menjadikannya sebagai penasihat pembangunan kota Semarang.
Pada tahun 1917 bersama Lutjens dan Toussaint mendirikan Biro Arsitek dan Perencana Kota. Dari berbagai literature dibaca Karsten di antaranya H.P. Berlage sewaktu merencanakan perluasan Kota Amsterdam dan Hague.
Ada pula, Granpre Moliere yang dikenal merencanakan taman pinggiran kota Vreewijk di Rotterdam.
Kemudian, P. Fockem Andrew yang berjudul De Hedendaagsche Stedebouw (perencanaan kota modern 1912) yang berisikan tentang masalah perencanan kota dan perumahan di Belanda.
Beberapa literature lainnya yang jadi acauan Karsten berasal dari Jerman. Di antaranya, Camillo Sitte (1889), J Stubben (1890), Raymond Unwin (1919), Ebendtadt’s (1909) berjudul Handbuch Des Wohnungswesens Und derWohnung sfrege dan Stadtebau und Wuhnungswesen di Belanda (1914).
Keterlibatan Karsten dalam perencanaan Koloniale Tentonsteling di Semarang, pada 1920 Karsten membuat sebuah usulan dan laporan untuk Kongres Desentralisasi yang berjudul ‘Indiesce Stedebouw’ yang berisi tentang usulanpada pemerintah pusat agar kota-kota di Indonesia (Hindia Belanda), pertumbuhannya direncanakan sebelumnya dalam suatu rencana kota.
BACA: Desa Pamarangan Kiwa Wakili Kabupaten Tabalong Dalam Lomba Posyandu Tingkat Kalsel
Masuk dalam 12 dari 19 munispalitas di Pulau Jawa di era Kolonial Belanda, yang harus digarap oleh Karsten.
Tugas itu dikerjakan Karsten sejak 1915-1941 guna merancang perencanaan atau tata kota 3 dari 9 kota di Sumatera.
Sedangkan, Banjarmasin merupakan satu-satunya kota di Borneo (Kalimantan) yang turut dirancang oleh Karsten.
Warisan Karsten yang tersisa dalam konsep Kota Taman (Garden City) adalah sistem kanalisasi di Banjarmasin.
Terdiri dari 10 kanal yang dibangun Belanda pada 1770-1945.
Ke-10 kanal tersebut, yakni:
- Kanal Sutoyo S (Teluk Dalam)
- Kanal Veteran
- Kanal Raden (Antasan Raden, Teluk Tiram)
- Kanal A Yani
- Kanal Pirih
- Kanal Benteng Tatas (Sungai Tatas/Masjid Raya Sabilal Muhtadin)
- Kanal Pangambangan
- Kanal Besar (Jalan Anyar Mulawarman/Jalan Jafri Zamzam)
- Kanal Awang
- Kanal Bilu.
Kanal-kanal ini pun terkoneksi ke Sungai Barito dan Sungai Martapura. (jejakrekam.com)

