Oleh: Subhan Syarief
SEMBILAN tahun bagi sebuah media lokal bukan sekedar soal bertahan hidup. Ia adalah soal pilihan; apakah sebuah redaksi bersedia tetap berdiri tegak ketika arus kekuasaan menekan dari berbagai arah, atau memilih menyesuaikan diri demi kenyamanan dan keberlanjutan finansial.
Bagi Jejakrekam.com, sembilan tahun adalah rekam jejak keputusan-keputusan sulit, yang sebagian besar diambil dalam senyap, jauh dari sorotan, dan kerap berbiaya mahal.
Jejakrekam lahir di Banjarmasin, kota yang hidup di atas air dan ingatan yang rapuh. Di kota ini, kebijakan sering diumumkan lebih cepat daripada penjelasannya. Dampak ekologis dan sosial kerap baru dipahami ketika air sudah telanjur masuk ke ruang tamu warga. Dalam lanskap semacam itu, banyak media memilih jalan aman: menyalin pernyataan resmi, merayakan proyek, lalu berpindah ke isu berikutnya. Jejakrekam mengambil arah berbeda. Redaksi ini menempatkan diri bukan sebagai penggemanya kekuasaan, melainkan arsip hidup yang menolak lupa.
Sejak awal, Jejakrekam menolak obsesi kecepatan. Ketika media daring lain berlomba menjadi yang pertama, Jejakrekam memilih menjadi yang paling telaten. Banjir tidak ditulis sebagai bencana alam semata, tetapi ditarik ke hulu kebijakan: tata ruang, alih fungsi lahan, dan keputusan politik yang mendahuluinya. Proyek pembangunan tidak langsung dipuji, melainkan diuji dampaknya. Kutipan pejabat tidak berdiri sendiri, tetapi dikunci dengan dokumen, data anggaran, dan kesaksian warga. Arsip dijadikan senjata liputan, bukan sekedar gudang berita lama.
Pilihan editorial semacam itu membawa konsekuensi nyata. Menjaga jarak dari kekuasaan berarti siap kehilangan akses. Undangan datang dengan isyarat tak tertulis. Iklan menjauh ketika liputan dianggap terlalu keras kepala. Dalam ekosistem media lokal yang pragmatis, Jejakrekam kerap dicap “tidak fleksibel”. Namun justru dari posisi itulah identitasnya mengeras: independen, berbasis data, dan sulit dibantah.
Arah itu tidak lahir dari ruang hampa. Selama bertahun-tahun, Jejakrekam dinakhodai oleh Didi Gunawan, wartawan senior dengan insting investigatif yang tajam dan disiplin kerja nyaris tanpa kompromi. Di bawah kepemimpinannya, redaksi dibiasakan untuk curiga pada narasi yang terlalu rapi dan pernyataan yang terlalu sering diulang. Fakta diperiksa berlapis. Kesimpulan ditahan sampai data benar-benar berbicara. Didi tidak mendorong redaksi menjadi lantang; ia menuntut agar setiap laporan kokoh secara metodologis. Hasilnya adalah jurnalisme yang tenang, dingin, dan sulit digoyang tanpa tandingan data yang setara.
Dua kekuatan Jejakrekam kemudian menonjol. Pertama, liputan politik kebijakan—membaca relasi kuasa, perizinan, dan anggaran sebagai rangkaian keputusan yang dampaknya menetes ke kehidupan sehari-hari warga. Kedua, liputan sejarah dan historia. Masa lalu tidak diperlakukan sebagai romantisme, melainkan sebagai alat baca untuk memahami konflik hari ini dan memperkirakan risiko esok hari.
Namun sejarah selalu menyimpan ujian paling sunyi. Tahun 2024, Didi Gunawan wafat karena sakit; sakit yang salah satunya lahir dari kerja tanpa jeda, dari hari-hari panjang yang dikorbankan demi membesarkan Jejakrekam. Kepergiannya meninggalkan kekosongan yang tidak bisa ditutup sekedar dengan pergantian struktur. Redaksi sempat limbung, bukan karena kehilangan kemampuan, tetapi karena kehilangan penjaga ingatan; sosok yang selama ini menjaga disiplin berpikir dan ketegasan menyimpulkan fakta.
Di titik inilah refleksi menjadi keharusan, bukan pilihan. Para pendiri dan kru Jejakrekam memilih tidak menjadikan duka sebagai akhir. Mereka sadar, meniru sosok almarhum adalah mustahil. Tetapi meninggalkan nilai-nilai yang ia tanamkan justru akan menjadi pengkhianatan. Maka pembenahan dilakukan. Tata kelola diperbaiki. Beban kerja dibagi lebih kolektif. Keputusan editorial di siapkan agar diperkuat melalui mekanisme bersama. Jejakrekam berusaha perlahan bangkit dengan wajah baru; format yang lebih adaptif dan dialogis; tentu tanpa meninggalkan jiwa lamanya.
Transformasi itu berlangsung di tengah perubahan besar dunia jurnalistik. Revolusi Industri 4.0 dan pergeseran menuju paradigma 5.0 menghadirkan teknologi, termasuk kecerdasan buatan. Jejakrekam memilih sikap berhati-hati: teknologi dipakai sebagai alat bantu riset dan efisiensi, sementara penilaian etik, keberanian menyimpulkan, dan tanggung jawab moral tetap berada di tangan manusia. Bagi Jejakrekam, jurnalisme bukan sekedar produk, melainkan laku nurani.
Menjelang satu dekade, refleksi itu diterjemahkan dalam agenda regenerasi. Program setahun di gagas; mulai program Go to School, Go to Campus, Go to Kampung, serta Akademi Jurnalistik disiapkan sebagai ruang kaderisasi. Tujuannya jelas: menanamkan pemahaman bahwa jurnalisme bukan hanya soal teknik menulis, tetapi tanggung jawab sosial dan keberanian menjaga jarak dari kuasa. Kesadaran ini lahir dari pengalaman pahit—bahwa media tidak boleh menggantungkan masa depannya pada satu figur, betapapun sentral peran figur tersebut.
Sembilan tahun perjalanan Jejakrekam adalah kisah bertahan tanpa kehilangan ingatan. Ia lahir dari kegelisahan, membayar harga independensi, dan kini melangkah tanpa sang penjaga ingatan.
Namun nilai yang ditanamkan Didi Gunawan; integritas, kehati-hatian, dan keberanian berbasis data—masih bekerja di ruang redaksi, membentuk setiap keputusan yang diambil hari ini.
Sembilan tahun adalah waktu yang cukup untuk menentukan posisi: ikut hanyut, atau tetap berdiri menjaga ingatan.
Akhirnya Selamat Hari Jadi ke-9 Jejakrekam. Menuju satu dekade, harapannya tak perlu dibungkus manis: tetaplah menjadi media yang tidak mudah lupa, tidak gampang jinak, dan tidak takut pada kesunyian. Karena jurnalisme yang bertahan bukanlah yang paling ramai, melainkan yang paling teguh menjaga kebenaran ketika godaan untuk diam datang bertubi-tubi.
(Subhan Syarief/AI:2026/Batang Banyu Institute)

