Oleh: Akbar Rahman
AKHIR tahun 2025 kembali ditutup oleh rangkaian bencana hidrometeorologi yang semakin sering, semakin luas, dan semakin ekstrem.
Banjir, longsor, kekeringan, hingga cuaca yang tak menentu tidak lagi dapat dipahami sebagai peristiwa musiman yang mudah diprediksi, melainkan sebagai gejala struktural dari krisis lingkungan yang telah lama kita abaikan.
Bencana yang terjadi hari ini tidak hadir secara tiba tiba, melainkan merupakan akumulasi dari keputusan manusia yang keliru, berlangsung perlahan namun konsisten, dari tahun ke tahun.
Kerusakan lingkungan berjalan seiring dengan pola pembangunan yang boros energi, meningkatnya timbulan sampah dan limbah, serta praktik produksi yang belum bertransformasi secara sungguh sungguh menuju keberlanjutan.
Ketergantungan yang berlebihan pada energi fosil, rendahnya efisiensi energi di sektor bangunan dan transportasi, serta lemahnya pengelolaan sampah dari sumbernya menyebabkan emisi terus meningkat, sementara daya dukung lingkungan justru semakin menurun.
Di sektor pangan dan sumber daya alam, persoalannya tidak kalah serius. Penggunaan pupuk kimia secara masif di sektor pertanian dan perkebunan memang mampu meningkatkan produktivitas dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang justru mempercepat degradasi tanah serta mencemari air permukaan dan air tanah.
Pada saat yang sama, sistem peternakan modern juga semakin bergantung pada berbagai bahan kimia untuk menjaga kesehatan dan produktivitas ternak. Praktik tersebut secara tidak langsung menambah beban emisi, menciptakan pencemaran, serta memperbesar tekanan terhadap lingkungan sekitar.
Aktivitas kehutanan yang belum sepenuhnya berkelanjutan, ditambah dengan alih fungsi lahan dalam skala besar, telah menggerus tutupan hutan yang sejatinya berperan sebagai sistem penyangga kehidupan.
Padahal, hutan adalah atap rumah besar kita. Keberadaannya berfungsi menahan hujan, mengatur siklus air, menyimpan karbon, serta menjaga keseimbangan ekosistem.
Ketika atap ini bocor, dampaknya tidak berhenti di kawasan hulu. Air akan bergerak mengikuti gravitasi dan mencari ruangnya sendiri.
Sungai meluap, sistem drainase perkotaan kehilangan kapasitasnya, dan permukiman di wilayah hilir menjadi pihak yang paling merasakan akibatnya. Banjir yang terjadi hari ini menjadi refleksi paling jujur dari kelalaian kolektif kita dalam menjaga rumah bersama.
Pada tingkat global, berbagai kesepakatan mengenai pengurangan emisi dan target iklim terus disuarakan dan dirumuskan.
Namun pada tataran implementasi di lapangan, capaian tersebut masih menghadapi banyak kendala. Tumpang tindih kebijakan, lemahnya pengawasan, keterbatasan kapasitas pemerintah daerah, serta belum terbangunnya perubahan perilaku konsumsi dan produksi secara luas menjadi faktor penghambat utama.
Transisi menuju ekonomi rendah karbon belum sepenuhnya terwujud dalam praktik keseharian masyarakat maupun dunia usaha.
Karena itu, bencana tidak cukup dipahami sebagai persoalan teknis semata, apalagi disikapi hanya melalui langkah langkah darurat. Bencana adalah cermin dari relasi manusia dengan alam yang selama ini terbangun.
Selama pembangunan masih meminggirkan daya dukung lingkungan, selama sampah dan limbah terus diproduksi tanpa tanggung jawab, serta selama hutan diperlakukan semata sebagai cadangan lahan, maka banjir dan krisis ekologis lain akan terus berulang, meskipun hadir dengan bentuk dan sebutan yang berbeda.
Awal tahun sebaiknya menjadi momentum refleksi bersama. Bukan sekadar menghitung kerugian yang ditimbulkan oleh bencana, melainkan menata ulang cara berpikir dan cara bertindak.
Menjaga hutan berarti menjaga atap rumah besar kita. Mengelola energi, sampah, dan lahan secara bijak merupakan upaya untuk mencegah air memenuhi seluruh isi rumah. Tanpa perubahan yang nyata dan konsisten, banjir tidak lagi berfungsi sebagai peringatan, melainkan akan menjadi rutinitas yang diwariskan kepada generasi berikutnya. (*)
Penulis: Pemerhati Lingkungan dan Perkotaan

