Oleh: Syarbani Haira
HARI ini, Minggu, 04 Januari 2026, rekan-rekan pengelola media online, Jejakrekam.com yang hombase-nya di Banjarmasin, mengadakan FGD (Forum Group Diskusi), dengan mengundang sejumlah aktivis dan ilmuan kampus. Saya, yang sesekali nyumbang tulisan serta mengisi podcast, termasuk yang diundang. Sayangnya, budaya tepat waktu belum berhasil dilaksanakan dengan baik.
MESKI begitu, Kita salut sekaligus ucapkan selamat, 9 tahun jejakrekam berjalan. Salah satu perintisnya, Bannk Didi Gunawan malah mendahului diusia muda. Lahul fatihah … !!!
Menurut Abdul Haris Makkie, Direktur Utama media online ini, pertemuan dimaksudkan untuk mendapatkan masukan sejumlah pihak perjalanan masa depan media ini. Ini dipertegas Subchan Syarif, salah satu pemilik, dan Prof Hadin Muhjad. Keduanya memaparkan sebuah pertanyaan, bagaimana tata kelola yang tepat untuk media banua ini.
Oleh Muhammad Rasyidi, moderator FGD, Prof Muhammad Uhaib, didaulat sebagai pembicara pertama. Seperti kebiasaan gaya orasi mantan aktivis HMI UII Yogyakarta ini, Ia menyalahkan banyak pihak. Salah satunya soal oligarki, yang bisa mengatur apa saja mengenai praktik politik di negeri ini. Seperti biasanya, emosinya meledak-ledak, membuat pihak lain menjadi termanga-manga.
Entah alasan apa, Saya didaulat menjadi pembicara kedua. Sungguh Saya kesulitan mengikuti irama Prof Uhaib. Mau ikutan galak? Suara Saya tidak memenuhi syarat. Maka tak ada pilihan lain, Saya pun bicara teori saja, mengutip al-Qur’an, surah Ali Imran ayat 110. Kubilang, manusia itu makhluk terbaik. Tugasnya menyampaikan pesan kebajikan.
Saya tambahkan, manusia baru layak mengkritik terhadap kemaksiatan, jika sudah melakukan gerakan, menyampaikan dan membangun kebajikan pada masyarakat luas.
Mengenai metode untuk menyampaikan pesan kebajikan atau kritik kemaksiatan, Saya kembali mengutip al-Qur’an, An-Nahl ayat 125. Dalam hal ini, yang utama bil-hikmah, secara arief dan bijaksana. Kemudian, wal mauidzatil hasanah, dengan kata-kata yang baik. Jika terjadi perdebatan, maka sampaikan dengan narasi yang wa jadilhum bi al-lati hiya ahsan (berdebat dengan kata-kata yang baik).
Untuk pengelola, saya berpesan, jejakrekam harus memiliki budaya rapat. Syukur jika setiap hari, bisa zoom. Kepada semua wartawan diberi wawasan, apa tugas dan misi Kita dengan media online ini.
Dalam pandangan saya, seperti apa pun godaan yang menghadang, entah itu oleh kaum oligarki (yang selalu dimasalahkan Prof Uhaib), atau birokrasi yang selalu cuek. Kita jalan dengan misi utama kita, menyampaikan pesan kebajikan, kritik sosial dan publik opinion.
Saya sendiri kerap dikritik banyak pihak. Buat apa saya capek-capek nulis di media sosial, jika tuh tidak dipedulikan oleh publik. Bagi saya, pesan kebajikan itu perintah Allah SWT, demikian pula dengan kritik kemaksiatan sebagai larangan-Nya. Jadi itu sebuah tugas untuk manusia.
Bagi Saya, penyampaian pesan kebajikan dan kritik (jika kita sudah melakukan pembinaan) sebagai ladang pahala yang tidak terasa. Meski begitu, sisi sekurity pun tetap harus kita pertimbangkan. Pengalaman pribadi saya tahun 1980-an, Saya pernah didatangi kacung kepala kantor sebuah instansi pemerintah.
So, buat apa galak, jika nasib Kita seperti Fuad Muhammad Syarifuddin (Udin), wartawan Bernas di Yogyakarta, meninggal dunia Tahun 1996, karena gencar membuka kasus korupsi di Bantul. Ironisnya, hingga sekarang pembunuhnya tak ditemukan.
Kecuali Kita menjadi wartawan perang, misalnya ikut meliput perjuangan masyarakat sipil di Gaza dan Tepi Barat. Bagi Kita sebagai muslim, ini jihad. Jika wafat, maka itu syahid. Jika masih hidup itu pahlawan, heroik. Hanya dua pilihan.
Maka itu patut ini menjadi renungan, antara aspek manfaat dan mudharat-nya. Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju Roma. Maka itu pilihannya tergantung sikap dan kemauan Kita … !!!(*)
Penulis : Mantan Ketua PWNU Kalsel

