Oleh: Noorhalis Majid
HEBAT, tidak banyak media online yang bertahan hingga 9 tahun. Sebab persaingan dan pertarungannya bukan saja dengan sesama media online, apalagi dengan media cetak yang sudah lama terpuruk kalah. Pertarungan yang lebih keras, tentu saja menghadapi media sosial yang jumlah serta kapasitasnya tanpa batas.
JEJAKREKAM di tengah sengitnya pertarungan itu, mampu melewatinya. Apalagi sepeninggal Didi Gunawan, yang selama ini dikenal menjadi gawang, ujung tombak, bahkan playmaker sekaligus dari Jejakrekam, dengan segala idealisme dan independensinya. Tidak berlebihan, Didi menyimbolkan idependensi seorang wartawan, yang tidak mau kalah oleh tekanan, termasuk tekanan kekuasaan dan modal.
Tidak dapat dipungkiri, ruh dari Jejakrekam ada pada Didi Gunawan. Seorang wartawan idealis, yang merintis karir dari bawah. Sejak dari Radar Banjar, Media Kalimantan, lalu merintis media online yang dia namakan Jejakrekam. Nama Jejakrekam itu sendiri, seperti menjadi penanda tentang bagaimana Didi membuat berita dan tulisan yang berbeda dengan wartawan kebanyakan. Dia menyusuri jejak rekam dari berita yang dibuatnya, bahkan hingga ke hulu dari segala macam sumber berita yang dapat digali.
Beruntung Saya diundang dalam perayaan 9 tahun Jejakrekam, dan turut dianugerahi penghargaan sebagai narasumber dan penulis yang turut berkontribusi terhadap Jejakrekam. Artinya, Saya tidak hanya menjadi saksi sepanjang 9 tahun Jejakrekam, namun juga turut berkontribusi merawatnya tetap bertahan melalui pemikiran dan tulisan sederhana yang Saya buat.
Terus terang, kalau saja Didi Gunawan masih ada, dan saat ini banjir kembali melanda Kalimantan Selatan, dia tidak sekedar menulisnya menjadi satu peristiwa tentang calap dan kedukaan di kampung-kampung di Banjarmasin. Didi pasti menulis dengan menyusuri jauh ke belakang. Mungkin Dia akan menyusurinya dari sejarah kanal-kanal yang dibuat sejak zaman Hindia Belanda, yang dengan kanal tersebut rob bisa diantisipasi dan dikelola agar tidak merugikan warga.
Dia juga pasti menyusuri kearifan masyarakat adat di pegunungan Meratus yang menjaga hutan agar akar-akar pohon mampu menahan laju curah hujan, sehingga tidak berbuah banjir.
Mungkin dia juga akan kritis terhadap segala kebijakan yang eksploitatif, baik terkait izin tambang atau pun izin sawit yang diberikan secara murah meriah kepada para pengusaha yang tidak pernah bertanggungjawab. Bahkan saya yakin, Didi juga berani menyentil pertambangan tanpa izin, yang sesuka hati, tanpa berpikir panjang, mengeruk keuntungannya sendiri, menyebabkan kerusakan alam tak terkendali.
Didi menulis dengan data, fakta, pengetahuan, dan mampu memilah narasumber yang kompeten serta memiliki keberpihakan pada sesuatu yang membawa kemaslahatan.
Tulisannya dalam, sarat informasi dan pengetahuan. Tidak sekedar kumpulan pernyataan, tapi di dalamnya mengandung fakta sejarah dan gagasan yang mencerahkan. Tulisan yang dibuat dengan hati, dirangkai dengan kata yang terpilih selektif, sehingga memiliki ruh, wajar saja bila menggerakkan kesadaran dan literasi.
Apa yang sudah dilakukan Didi, bagi Jejakrekam ada baiknya diekstrak atau dirangkum menjadi semacam pedoman serta panduan dalam penulisan berita Jejakrekam. Bila dimungkinkan, dibungkus menjadi modul dalam pelatihan-pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan Jejakrekam menyambut 10 tahun usianya di tahun depan.
Tulisan yang berkarakter, memiliki ruh, mengandung pengetahuan dan informasi. Bukan tulisan yang sekedarnya, asal memenuhi 5W dan 1H. Apalagi tulisan asal jadi, tanpa jelas titik koma, termasuk tanpa ada gagasan apapun yang ditawarkan.
Seandainya gaya dan format menulis Didi bisa dilestarikan menjadi ciri dari Jejak Rekam, maka Didi tidak hanya meninggalkan Jejakrekam sebagai satu media online yang terus hidup dan bertumbuh, tapi juga legacy bagi generasi setelahnya, tentang bagaimana seharusnya seorang wartawan menulis dengan hati, berbasis pengetahuan, informasi dan sumber terpercaya.
Kalau itu bisa dilakukan, satu amal zariah Didi akan abadi menjadi pengetahuan yang tak putus-putus.(nm)

