VIRAL di media sosial polisi dan TNI mengamankan seorang penjual es gabus asal Depok, Jawa Barat.
Suderajat (49), pedagang, si penjual es gabus pun mengaku sempat mengalami luka gores di pipi dan nyeri pada bahu setelah dianiaya akibat tuduhan bahwa es gabus yang dijualnya terbuat dari spons.
Insiden tersebut terjadi saat ia berjualan di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (24/1/2026), dan membuatnya trauma hingga berhenti berjualan sementara.
Sebagai informasi, dugaan penjualan es kue atau es gabus berbahan spons di Kemayoran mencuat setelah adanya laporan warga bernama M. Arief Fadillah (43), seorang wiraswasta yang tinggal di Utan Panjang III, Kemayoran.
Ia melaporkan dugaan penjualan makanan berbahaya tersebut melalui call center 110 pada Sabtu (24/1/2026).
Dalam laporan tersebut, Suderajat disebut menjual es kue, es gabus, agar-agar, coklat meses, serta sisa kue yang sempat dibeli pelapor.
BACA : Resmi! Bendahara Gerindra, Keponakan Prabowo Jadi Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia
Produk tersebut diduga mengandung Polyurethane Foam (PU Foam), material yang umum digunakan sebagai busa kasur atau spons pencuci.
Menindaklanjuti laporan itu, tim piket Reskrim Polsek Kemayoran mendatangi lokasi di wilayah Utan Panjang, Jakarta Pusat, untuk melakukan pemeriksaan awal.
Hasil pemeriksaan laboratorium Tim Keamanan Pangan Dokpol Polda Metro Jaya kemudian memeriksa seluruh barang dagangan milik Suderajat.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, seluruh sampel es kue, es gabus, agar-agar, dan coklat meses dinyatakan aman dan layak dikonsumsi.
“Tim Dokkes telah melakukan pemeriksaan menyeluruh dan hasilnya jelas: Produk tersebut layak dikonsumsi atau tidak mengandung zat berbahaya,” jelas Roby.
“Namun untuk menjamin ketenangan publik dan memastikan hasil yang lebih pasti dan ilmiah, kami juga mengirim sampel ke Dinas Kesehatan dan Laboratorium Forensik (Labfor) Polri,” tambahnya.
Roby mengatakan, hasil resmi pengujian lanjutan dari kedua instansi tersebut masih menunggu proses uji selesai.
Selain itu, kepolisian juga menelusuri lokasi pembuatan es di Depok untuk memastikan proses produksi tidak menggunakan bahan berbahaya atau spons.
Sementara kejadian yang dialami Suderajat bermula sekitar pukul 10.00 WIB ketika sekelompok orang memenghampiri Suderajat dengan dalih ingin membeli es gabus.
Namun, barang dagangannya mendadak dituding menggunakan bahan spons.
Es gabus tersebut kemudian diremas, dihancurkan, bahkan dilempar ke arah wajah Suderajat hingga melukai pipinya.
“Iya, (es gabus) diremas-remas jadi hancur. Dibejek-bejek, ini dekat mata saya jadi sakit karena disabet kena timpukan es sama dia,” ucap Suderajat saat ditemui Kompas.com, Selasa (27/1/2026).
Ia juga mengaku sempat ditendang hingga tubuhnya terasa lemas.
BACA : LHP Dapat Catatan dari BPK RI, Pemprov dan Bank Kalsel Dideadline 60 Hari Tindak Lanjuti Rekomendasi
Upaya klarifikasi bahwa es gabus yang dijualnya merupakan produk asli pun tidak membuahkan hasil.
Suderajat mengaku terus disudutkan hingga tidak berdaya.
“Saya bilang ini es kue yang asli. Saya bilang bukan tapi mereka bilang es spons,” ungkap Suderajat.
Usai kejadian, Suderajat pulang tanpa menerima permintaan maaf maupun uang ganti rugi sebesar Rp 300.000 atas barang dagangannya yang rusak.
Hingga kini, ia mengaku belum kembali berjualan selama tiga hari karena trauma dan khawatir mengalami kejadian serupa.
“Sudah tiga hari belum jualan, gara-gara kejadian hari Sabtu ya begini, takutnya saya dikeroyokin pas ke Kemayoran,” jelasnya.
Dalam kesehariannya, Suderajat biasa memulai aktivitas sejak pukul 04.00 WIB dengan mengambil es gabus dari pabrik rumahan milik bosnya di kawasan Depok Lama.
Ia kemudian berangkat sekitar pukul 05.00 WIB dari Stasiun Depok menuju Stasiun Kemayoran untuk berjualan di sekitar sekolah dasar di kawasan tersebut.
Mulai pukul 12.00 hingga 17.00 WIB, Suderajat berkeliling menjajakan dagangannya di sekitar Kemayoran dan Gang Sentiong sebelum kembali ke rumah sekitar pukul 18.00 WIB.
“Saya setiap hari bawa 150 buah, buat dijual Rp 2.000, paling dapet Rp 200.000-an karena harus setoran ke bos,” lanjut dia.
Kasus ini sebelumnya menjadi sorotan publik setelah Ikhwan dan Heri viral di media sosial karena memberikan keterangan soal dugaan es gabus berbahan spons tanpa melakukan verifikasi.
Dalam video yang diunggah akun Instagram @feedgramindo, Ikhwan memperlihatkan es gabus yang dituding bermasalah.
“Nah sekarang ada pelaku yang menyamarkan nih. Intinya ini enggak boleh dimakan. Karena tadi kami coba kok rasanya beda, bukan kue. Ternyata nih bahannya dari spons. Spons dikasih sirop-sirop” ujar Ikhwan dalam video tersebut.
Video tersebut juga menampilkan Heri yang menginterogasi Suderajat. “Kenapa kamu jual?” tanya Heri ke Suderajat.
“Kalau berhenti (jualan) anak bininya makan apa?” jawab Suderajat.
“Ya kamu gimana, ini kalau dimakan sama anak-anak kecil ini bikin penyakit,” kata Heri dengan nada keras.
Tak hanya dari Gubernur Jabar KDM, kini bantuan bagi Suderajat juga datang dari Kapolres Depok Kombes Abdul Waras. Kombes Abdul datangi langsung Sudrajat di kediamannya pada Selasa (27/1).
Sebelumnya, Pemkab Bogor juga berikan bantuan termasuk sembako untuk Suderajat dan keluarga.
Pihak pemerintah juga akan membantu anak-anak Sudrajat agar dapat melanjutkan pendidikan. (Berbagai sumber, jejakrekam.com)

