INSPEKTUR Inspektorat Kotabaru, H. Ahmad Fitriadi F, S.H., M.Hum. yang juga menjabat sebagai Pembina Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kotabaru, menyoroti menurunnya aktivitas PMI Kotabaru dalam beberapa tahun terakhir.
FITRIADI menilai lembaga kemanusiaan tersebut tengah berada dalam kondisi “mati suri”, di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat akan ketersediaan darah.
Ahmad Fitriadi mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi pelayanan darah di Kotabaru.
Sebagai pendonor aktif yang terdaftar di Unit Transfusi Darah (UTD) rumah sakit, ia mengaku merasakan langsung adanya perubahan signifikan.
“Kebutuhan darah, khususnya untuk pasien gawat darurat, terus meningkat. Namun belakangan saya melihat PMI Kotabaru kurang ‘gereget’. Padahal dulu PMI sangat aktif dan responsif, bahkan memiliki kerja sama yang sangat baik dengan pihak rumah sakit dalam penyediaan stok darah,” ujarnya.
Ia menilai kurang optimalnya peran PMI berdampak pada pola masyarakat dalam mencari donor darah.
Saat ini, masyarakat lebih banyak mengandalkan hubungan personal atau grup WhatsApp dibandingkan melalui lembaga resmi.
“Sekarang masyarakat lebih banyak mencari donor lewat jalur per-personal, lewat grup WA dan sebagainya. Padahal kita punya lembaga yang sangat bagus seperti PMI. Jika dikelola secara optimal, tentu akan sangat membantu masyarakat yang membutuhkan,” tambahnya.
Sebagai Pembina PMI Kotabaru, Ahmad Fitriadi mengajak seluruh jajaran pengurus dan anggota PMI untuk melakukan evaluasi internal serta merapatkan barisan.
Ia menekankan pentingnya mengembalikan peran PMI sesuai tugas pokok dan fungsinya.
“PMI harus bisa tumbuh kembali dan berkibar membantu masyarakat. Saya tidak tahu pasti persoalan internal apa yang terjadi, namun melalui media ini saya mengajak kawan-kawan di PMI untuk duduk bersama, bermusyawarah, dan berdiskusi,” ucapnya.
Ia menegaskan musyawarah dan diskusi merupakan jalan terbaik untuk memperbaiki kinerja PMI Kotabaru ke depan demi kepentingan kemanusiaan di Bumi Saijaan.
Sementara itu, salah seorang warga Kotabaru, Naning, turut mempertanyakan keberadaan PMI Kotabaru sebagai organisasi kemanusiaan yang ditugaskan pemerintah, khususnya dalam pelayanan donor darah.
Menurutnya, di sejumlah daerah lain, kegiatan donor darah dilakukan secara rutin dan berkelanjutan, bahkan setiap minggu di lokasi yang berbeda-beda.
“Tujuannya agar stok darah selalu tersedia dan memudahkan masyarakat yang membutuhkan. Harapannya, hal seperti ini juga bisa diterapkan di Kotabaru,” ujarnya.(jejakrekam)

