KETIKA malam masih lelap di pelabuhan-pelabuhan timur, pada tahun 1511 layar-layar putih berlogo salib mulai menembus kabut di Selat Malaka. Dari jauh, dentuman meriam terdengar bagai isyarat awal zaman baru: zaman ketika ombak membawa bukan hanya pedagang, melainkan kekuasaan.
PORTUGIS datang bukan sekedar mencari rempah, tetapi mengibarkan panji kekaisaran yang bersekutu dengan gereja dan ambisi samudra. Di bawah pimpinan Afonso de Albuquerque, Malaka jatuh; menandai tonggak pertama penjajahan Eropa di wilayah yang kelak disebut Indonesia¹.
Dengan jatuhnya Malaka, jalur dagang ke timur terbuka lebar. Tahun 1512, armada Portugis yang dipimpin Antonio de Abreu dan Francisco Serrao berlayar menembus laut Banda menuju Kepulauan Rempah: Ternate, Tidore, dan sekitarnya². Di sinilah, di tanah yang harum oleh cengkeh dan pala, dimulai babak pertama kontak langsung antara bangsa Eropa dan kerajaan-kerajaan lokal Nusantara. Catatan dari arsip Portugis dan peneliti modern seperti C. R. Boxer dan Denys Lombard menyebut ekspedisi ini bukan semata perjalanan dagang, melainkan ekspansi militer berbalut perjanjian³. Di setiap dermaga yang disinggahi, mereka menjanjikan persahabatan, namun di belakangnya tersimpan kehendak menguasai.
Ternate, di bawah Sultan Bayanullah, mula-mula menerima mereka dengan hati terbuka. Kapal-kapal Portugis membawa senjata, logam, dan kaca berwarna; barang langka bagi perdagangan lokal. Tapi, sebagaimana sering terjadi dalam sejarah kolonial, pertemanan itu cepat berubah menjadi penguasaan. Portugis membangun benteng di atas tanah Ternate pada 1522, mengatur harga rempah, dan memaksa monopoli dagang⁴. Mereka juga mulai menyebarkan misi Katolik dengan dukungan Jesuit yang dikirim dari Goa⁵. Sejak itu, hubungan yang semula bersahabat berubah menjadi curiga dan penuh darah.
Sementara itu, di barat pulau Jawa, Portugis berusaha menanamkan pengaruhnya lewat jalur diplomasi. Mereka mendatangi kerajaan Sunda untuk menguasai pelabuhan Sunda Kelapa, menandatangani perjanjian yang dikenal sebagai Perjanjian Sunda-Portugis tahun 1522⁶. Sebuah tugu batu dengan lambang armada Portugis bahkan sempat didirikan sebagai tanda persahabatan. Namun niat itu tidak lama bertahan. Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa, memandang langkah itu sebagai ancaman terhadap kedaulatan dan agama. Tahun 1527, pasukan Fatahillah menyerbu Sunda Kelapa, mengusir Portugis, dan mengganti nama pelabuhan itu menjadi Jayakarta; yang kelak dikenal sebagai Jakarta⁷. Peristiwa ini menjadi salah satu bentuk perlawanan pertama terhadap upaya kolonial Portugis di Jawa.
Sementara Demak berjaya di barat, Maluku bergolak di timur. Hubungan Portugis dengan Ternate memburuk ketika mereka berusaha mencampuri suksesi kerajaan. Ketegangan mencapai puncaknya ketika Sultan Hairun, penguasa Ternate yang awalnya bersahabat, dibunuh secara licik oleh perwira Portugis pada 1570⁸. Pembunuhan itu menjadi pemantik amarah rakyat. Putranya, Sultan Baabullah, bangkit memimpin perang besar melawan Portugis⁹. Ia mengorganisasi kekuatan laut dari pulau-pulau sekitarnya: Tidore, Halmahera, bahkan bantuan dari Jawa dan Mindanao. Perang berkecamuk selama lima tahun, dan pada 1575 Portugis akhirnya terusir dari Ternate¹⁰. Benteng mereka yang megah direbut dan dikuasai Baabullah, menjadikan Ternate satu-satunya kerajaan di Asia Tenggara yang berhasil mengusir penjajah Eropa pada abad ke-16.
Namun kisah perlawanan tak berhenti di situ. Setelah diusir dari Ternate, Portugis berpindah ke Ambon, Solor, dan Timor. Mereka mendirikan benteng-benteng kecil dan menyebarkan agama Katolik di wilayah timur Nusantara. Di Ambon, perlawanan rakyat muncul dalam bentuk pengusiran lokal, diikuti dengan pembakaran benteng oleh pasukan pribumi yang menolak monopoli harga cengkeh¹¹. Sementara di Flores dan Timor, resistensi bersifat sporadis tapi berkelanjutan; didorong oleh penindasan dan praktik kerja paksa yang diterapkan para pedagang Portugis¹².
Sejarawan Denys Lombard dalam Le Carrefour Javanais mencatat, masa penjajahan Portugis di Nusantara memperlihatkan pola kolonialisme yang khas: bukan pendudukan penuh, melainkan kontrol atas perdagangan dan pengaruh agama¹³. Tetapi meski bentuknya tidak seperti penjajahan Belanda yang sistemik, dampaknya tetap terasa dalam tatanan sosial. Kehadiran Portugis mengguncang keseimbangan politik antar-kerajaan, memicu perang, dan menanamkan benih permusuhan berbasis ekonomi serta agama. Justru dari situ pula tumbuh benih kesadaran baru: kesadaran bahwa bangsa asing bisa disatukan dan diusir dengan persatuan.
Perlawanan terhadap Portugis menjadi fondasi moral bagi perjuangan berikutnya. Dari kemenangan Ternate, Demak, hingga perlawanan Ambon, muncul pelajaran bahwa kekuasaan asing bisa ditentang bila rakyat dan penguasa bersatu. Baabullah digelari “Penguasa 72 Pulau” karena keberhasilannya membebaskan wilayah-wilayah yang dikuasai Portugis¹⁴. Nama-nama seperti Fatahillah dan Sultan Hairun pun hidup dalam narasi nasional sebagai simbol keberanian menghadapi tipu daya penjajah.
Sejarawan Anthony Reid menulis dalam Southeast Asia in the Age of Commerce bahwa keberhasilan perlawanan ini bukan hanya soal kemenangan militer, tapi kemenangan identitas¹⁵. Ia menandai peralihan Nusantara dari sekadar “wilayah rempah” menjadi “ruang politik yang sadar akan dirinya sendiri.” Dari darah Hairun dan kemenangan Baabullah, dari Jayakarta yang lahir di atas reruntuhan benteng Portugis, hingga perlawanan rakyat Ambon yang membakar gudang monopoli, lahirlah kesadaran akan kebebasan yang kelak mekar di abad-abad berikutnya.
Kini, ketika kita menatap reruntuhan benteng tua di Ternate atau sisa batu perjanjian di Sunda Kelapa, yang tersisa bukan hanya peninggalan arsitektur kolonial, melainkan kenangan akan keberanian generasi awal Nusantara melawan penjajahan. Portugis mungkin yang pertama datang dengan meriam dan salib, tapi mereka juga yang pertama menyaksikan bagaimana bangsa kepulauan ini belajar menolak tunduk. Dari laut yang sama, semangat perlawanan itu terus berlayar hingga hari ini. (jejakrekam)

(Subhan Syarief/AI:2025/Batang Banyu Institute)
SUMBER RUJUKAN:
¹ National Library Board Singapore, “The Portuguese Conquest of Malacca (1511)”, 2023.
² Encyclopaedia Britannica, “Portuguese in Indonesia”, 2024.
³ C. R. Boxer, The Portuguese Seaborne Empire 1415–1825, Hutchinson, 1969.
⁴ Denys Lombard, Le Carrefour Javanais: Essai d’histoire globale, Éditions de l’EHESS, 1990.
⁵ Catholic Church in Indonesia, Wikipedia, 2024.
⁶ Demak–Portuguese Conflicts, Wikipedia, 2024.
⁷ Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Koleksi Perjanjian Sunda-Portugis (1522).
⁸ ANRI, Koleksi Ternate–Portuguese Conflicts (1512–1575).
⁹ Anthony Reid, Southeast Asia in the Age of Commerce 1450–1680, Yale University Press, 1988.
¹⁰ ibid.
¹¹ Denys Lombard, op. cit.
¹² Portuguese Empire in the Indonesian Archipelago, Wikipedia, 2024.
¹³ Lombard, ibid.
¹⁴ Reid, ibid.
¹⁵ Anthony Reid, loc. cit.

