TAK ingin hanya mengandalkan sumber daya alam berupa tambang batubara dan perkebunan kelapa sawit, kini Kalimantan Selatan tengah melirik potensi objek wisata menjadi salah satu pendapatan asli daerah (PAD).
KONSEP ekonomi kerakyatan yang terkandung dalam pengembangan bisnis wisata di Kalimantan Selatan menjadi pilihan Gubernur H Sahbirin Noor. Sebab, di tengah labilnya beberapa sektor ekonomi, justru pariwisata masih bertahan. Pengalaman akibat fluktuatifnya harga batubara, membuat sektor pariwisata akan dikembangkan menjadi andalan Banua.
“Selama ini, sektor pariwisata ini digerakkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, serta perusahaan besar. Ya, seperti transportasi, kuliner, perhotelan hingga kerajinan,” ujar Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalimantan Selatan, Nurul Fajar Desira di Banjarbaru, Rabu (1/2/2017).
Untuk itu, menurut Fajar, berdasar arahan Gubernur H Sahbirin Noor akan terus didorong industri UMKM hingga industri kreatif yang tengah berkembang di Kalimantan Selatan. Ia menegaskan pengembangan sektor pariwisata sebagai andalan, tak hanya dibebankan kepada leading sector yakni Dinas Pariwisata. Namun, kata Fajar, harus melibatkan dinasi terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan, Dinas Komunikasi dan Informasi, Dinas Perumahan dan Permukiman dan instansi terkait lainnya. “Kalau bicara pariwisata, tentu bukan hanya objek wisata yang dibenahi, tapi juga menyangkut infrastruktur, perhubungannya, kebersihan dan lainnya,” kata mantan Kepala Bappeda Kota Banjarmasin ini.
Fajar mengungkapkan Kalsel sangat beragam potensi pariwisatanya, dimulai dari sungai, gunung, pantai, laut hingga objek wisata religi. “Sekarang ini, Loksado telah ditetapkan sebagai kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN). Ada tiga daerah yang juga ditetapkan yakni Banjarmasin, Banjarbaru dan Kabupaten Banjar menjadi kawasan pengembangan pariwisata nasional,” tutur mantan Direktur Teknik PDAM Bandarmasih ini.
Hal itu dikarenakan Banjarmasin memiliki Pasar Terapung di Kuin Utara yang unik, Banjarbaru dengan pendulangan intan di Cempaka, dan Martapura (Kabupaten Banjar) dengan Pasar Permata. “Tapi, potensi wisata tak boleh hanya terpaku pada tiga daerah. Sebab, masih banyak destinasi wisata yang bisa dikembangkan ke depan,” kata Fajar.
Jebolan magister teknik universitas di Perancis ini menyebut keunikan ekosistem kerbau rawa di Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Lalu, destinasi wisata berbasis alam seperti di Desa Juhai, Kabupaten Tabalong. “Kalsel juga punya 140 pulau-pulau kecil yang bisa menjadi tujuan wisata. Ya, seperti Pulau Samber Gelap, yang potensi wisatanya sangat menjanjikan untuk dikembangkan,” ucap Fajar.
Nah, untuk menyelaraskan dengan target wisatawan manca negara dari pemerintah pusat hingga 20 juta orang berkunjung ke Indonesia, pada 2019, dinilai Fajar, hal itu patut ditangkap Kalimantan Selatan. “Memang, pada 2017 ini, sektor pariwisata sudah masuk dalam perencanaan pembangunan daerah. Tahun ini direncanakan untuk penelitian dan evaluasi. Dari data ini, bisa dipelajari apa saja kendalanya, seperti sarana dan prasarana, yang akan dikembangkan ke depan,” imbuh Fajar.(jejakrekam)
Penulis : Wan Marley
Editor : Didi GS
Foto : DestinAsian Indonesia
