Oleh: Noorhalis Majid
BANJIR yang melanda sekarang ini, bukan bencana alam, tapi bencana ekologi. Yaitu bencana yang diakibatkan oleh ulah tangan manusia.
TERMASUK banjir rob yang merupakan dampak perubahan iklim, karena pemanasan global, akibat buruknya manusia dalam mengelola lingkungan.
Manusia menjadi perusak alam dan lingkungan. Sikap yang sangat arogan terhadap alam, seolah manusialah sebagai penentu segalanya. Padalal ketika salah dalam mengelola, reaksi alam berlaku dan manusia menyebutnya sebagai bencana alam. Padahal yang benar adalah bencana ekologi.
Hubungan yang setara sebagai sesama makhluk, bukan hanya berlaku antar manusia. Namun juga dengan makhluk lainnya, termasuk alam semesta. Hubungan yang setara itu berarti, tidak ada hak sedikit pun bagi manusia untuk merusak alam. Tugas dan peran manusia justru menjaga alam, agar menunjang kehidupan semesta, sehingga kehidupan menjadi berkesinambungan.
Dua peristiwa besar, layak jadi refleksi tentang tugas manusia dalam menjaga alam. Kenapa Nabi Adam mesti tinggal di surga sebelum diturunkan ke bumi? Tentu agar manusia memiliki referensi tentang bagaimana mestinya bumi dikelola dan dipelihara, agar baik laksana surga.
Pun Nabi Muhammad SAW di mikrajkan ke langit, diperlihatkan keadaan surga, agar referensi tentang surga sebagai kehidupan ideal, semakin melekat pada pikiran manusia untuk diduplikasi di bumi.
Dari dua peristiwa itu, lahirlah ajaran agama tentang bagaimana mestinya manusia memperlakukan alam semesta.
Sebab itu, dosa ekologi jangan dipandang remeh. Implikasinya sangat besar, menimpa manusia dan lingkungan. Dosa ekologi di wilayah hulu, dampaknya bukan hanya di hulu, jauh hingga ke wilayah hilir, bahkan sabanuaan. Kalau setiap jengkal terkena dampaknya, bisa dibayangkan betapa besar dosa yang tinggalkan karena kerusakan ekologi. Tidak cukup hanya dengan miminta ampun, tanpa membayar dengan memperbaiki kerusakan yang telah ditinggalkan.
Bagaimana pula dengan pemberi izin atas tindak kerusakan tersebut? Apapun namanya, termasuk dengan dalih investasi, bila berbuah kerusakan, pasti berdosa. Izin tambang, sawit, dan berbagai bentuk eksploitasi alam yang menyebabkan bencana ekologi, menanggung dosa ekologi yang sulit meminta ampun pada siapa?. Terlebih kalau bencana dirasakan seluruh makhluk, hingga menyebabkan perubahan iklim, pasti menjadi dosa yang sangat besar, karena merugikan jutaan manusia.
Termasuk yang telah mencemari sungai dengan sampah dan segala jenis pencemaran, tentu dirasakan oleh banyak orang dan menganiaya lingkungan. Bagaimanakah cara bertobat dan meminta? Pada siapa meminta maaf? Sebab sungai mengalir, sepanjang dan seluas pemanfaatannya.
Isu ekologi memang sudah tidak dianggap aktual, sebab itu kesadaran spiritualitas ekologi mesti dibangun kembali oleh agama-agama, agar manusia berlaku adil, bukan saja pada sesama manusia, tapi juga kepada alam dan lingkungan, sebab kehidupan harus terus berlanjut, berkesinambungan.(nm)

