5.2 C
New York
Minggu, Desember 7, 2025

Buy now

HIKAYAT ANDIN MARAH – Jejak Api Nusantara (Seri I) Malaka 1511 : Bara di Gerbang Timur

Oleh: Subhan Syarief

MALAM turun perlahan di tepian sungai. Kabut naik dari air, membawa bau asin laut jauh yang tak terlihat, seolah mengirim pesan dari masa lampau.

Di rumah panggung yang menua bersama waktu, Andin Marah duduk bersila, matanya menatap kosong ke arah timur.

Di hadapannya, Andin Anang menunggu, wajah mudanya gelisah, seolah ingin mendengar bagaimana mula api penjajahan menyulut tanah ini.

“Anang,” ucap sang kakek perlahan, “pernahkah kau mendengar suara meriam yang ditembakkan lima abad lalu, tapi gaungnya masih kita rasakan hingga hari ini?”
Andin Anang menggeleng pelan.

“Itu terjadi di Malaka, tahun seribu lima ratus sebelas,” lanjutnya. “Ketika layar putih bertanda salib menembus kabut Selat Malaka. Mereka membawa nama Tuhan di bibir, tapi ambisi di dada¹. Di bawah Afonso de Albuquerque, kota pelabuhan terbesar di timur diserbu². Pagi itu pecah oleh dentuman meriam; asap, api, dan darah bercampur di atas air pasang. Sejak hari itu, ombak Nusantara tak lagi hanya membawa pedagang—melainkan kekuasaan.”

BACA: Dugaan Bandara Ilegal PT IMIP, Penindakan Hukum Tidak Boleh Ditawar

“Setelah Malaka tumbang, ke mana mereka berlayar, Kek?”
“Ke timur,” jawabnya. “Tahun seribu lima ratus dua belas, Antonio de Abreu dan Francisco Serrao menembus laut Banda³—mencari rempah, tapi menanam hasrat menguasai. Mereka menjanjikan persahabatan, membawa kaca berwarna, meriam, dan mesiu. Tapi di balik senyum itu, tersimpan niat menaklukkan.”

“Di Ternate, Sultan Bayanullah menyambut mereka dengan hati terbuka⁴. Ia tak tahu, kebaikan sering jadi umpan bagi kerakusan. Tak lama, Portugis mendirikan benteng, menetapkan harga cengkih, dan menguasai pelabuhan⁵. Dari Goa, datang pula pendeta Jesuit, menukar emas dengan salib, menukar kepercayaan dengan kekuasaan⁶.”

Andin Marah menunduk, memejam sejenak, seperti memilih kata.

“Hingga akhirnya, pengkhianatan itu datang. Sultan Hairun, raja yang mencintai rakyatnya, dipanggil untuk ‘berunding’. Ia masuk ke benteng Portugis dengan damai—dan keluar sebagai jenazah⁷. Darah Hairun tumpah bukan di medan perang, tapi di meja perundingan.”

Andin Anang menatap lampu minyak yang bergoyang.

BACA: Atlet Angkat Besi Rizki Juniansyah Resmi Dilantik Panglima TNI Sandang Pangkat Letnan Dua

“Dan itu melahirkan bara?”
“Ya,” jawab sang kakek tegas. “Putranya, Sultan Baabullah, bersumpah tak akan berhenti hingga Portugis terusir. Perang laut berkecamuk lima tahun, dan pada tahun seribu lima ratus tujuh puluh lima, benteng megah mereka runtuh⁸. Ternate merdeka. Baabullah menjadi Penguasa Tujuh Puluh Dua Pulau⁹.”

“Di barat,” lanjutnya, “layar Portugis sampai ke Sunda Kelapa. Mereka menandatangani perjanjian dengan raja Sunda dan mendirikan tugu batu bersalib merah¹⁰—katanya tanda persekutuan. Tapi Demak melihatnya sebagai ancaman. Fatahillah memimpin pasukan menyerbu, dan pada seribu lima ratus dua puluh tujuh, Portugis terusir¹¹. Kota itu diberi nama baru: Jayakarta—kemenangan yang lahir dari api.”

Sunyi kembali beredar di udara. Di luar, ombak kecil memukul tiang rumah.

“Kek,” bisik Andin Anang, “jadi sejak Malaka terbakar, bara itu menyebar ke seluruh Nusantara?”
“Benar,” jawabnya. “Bara itu menjalar dari laut ke dada manusia. Dari darah Hairun, dari sumpah Baabullah, dari keberanian Fatahillah—bangsa ini belajar bahwa kemerdekaan tak lahir dari kata, tapi dari keberanian menolak tunduk.”

Andin Marah menatap cucunya—matanya bening memantulkan cahaya lampu.

“Dan selama masih ada orang yang menolak dijajah, Anang, api itu takkan padam.” (*)

Penulis: Pendiri Batang Banyu Institute)

Rujukan:

¹ Surat Paderi Portugis João de Barros: Décadas da Ásia, Lisboa, 1552
² Albuquerque, Afonso de. Commentaries of the Great Afonso Dalboquerque. London: Hakluyt Society, 1880
³ Boxer, C.R. The Portuguese Seaborne Empire, 1415–1825. Hutchinson, 1969
⁴ Andaya, Leonard Y. The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern Period. University of Hawaii Press, 1993
⁵ Hanna, Willard A. Indonesian Banda: Colonialism and its Aftermath in the Nutmeg Islands. 1978
⁶ Lach, Donald. Asia in the Making of Europe, Vol. I. University of Chicago Press, 1965
⁷ Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia Since c.1200. Stanford University Press, 2008
⁸ Borschberg, Peter. The Singapore and Melaka Straits. ISEAS Publishing, 2009
⁹ Andaya, Leonard Y. The Sultanate of Ternate. Bijdragen KITLV, 1996
¹⁰ Meilink-Roelofsz, M. Asian Trade and European Influence in the Indonesian Archipelago. 1962
¹¹ De Graaf, H.J., & Pigeaud, Th. Chinese Muslims in Java. 1984

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles