5.2 C
New York
Minggu, Desember 7, 2025

Buy now

Kisah Pendiri Alfamart, dari Menjaga Warung Kecil di Gang Sempit Petojo Milik sang Ibu

SEJARAH Alfamart dimulai 1989 oleh Djoko Susanto, awalnya sebagai perusahaan dagang, dan mulai merambah bisnis minimarket modern bernama Alfa Minimart di tahun 1999 di Karawaci, Tangerang. Pada tahun 2003, nama “Alfa Minimart” resmi berganti menjadi “Alfamart”. Perusahaan ini juga mengalami perubahan struktur kepemilikan, termasuk kerja sama dengan PT HM Sampoerna Tbk sebelum akhirnya kepemilikan mayoritas kembali ke tangan Djoko Susanto.

NAMUN, siapa sangka jauh sebelum Alfmart didirikan hingga kemudian sukses, perjuangan Djoko Susanto benar-benar dimulai dari bawah.

Ditulis akun TikTok @agung4852, di sebuah gang sempit di kawasan Petojo, Jakarta tahun 1966, seorang remaja berdiri di balik etalase warung kecil milik ibunya.

Tangannya kotor oleh minyak, keringatnya bercampur debu jalanan. Setiap kali ada pelanggan datang membeli sabun atau rokok, ia menyapa dengan senyum sopan, senyum yang tak tahu kalau suatu hari nanti akan menjadi simbol keramahan jutaan kasir Alfamart di seluruh Indonesia.

Remaja itu bernama Djoko Susanto, atau Kwok Kwie Fo bagi keluarga Tionghoanya.

BACA: Membanggakan! ULM Raih Prestasi Gemilang, Masuk 6 Besar Anugerah Media Humas Kementerian Komdigi

Pelan-pelan, toko kecil itu berubah fokus menjadi penjual rokok grosir.

Djoko tak sekadar menjual, ia membangun jaringan distribusi kecil-kecilan.

Dengan ketekunan dan naluri pasar yang tajam, ia menjalin hubungan erat dengan Gudang Garam, salah satu produsen rokok terbesar saat itu.

Hasilnya?

Pada tahun 1987, ia sudah punya 15 jaringan. toko grosir dan menjadi penjual Gudang Garam terbesar di Indonesia.

Di akhir tahun 1986, nasib Djoko menerima tantangan itu dengan satu keyakinan: kalau saya bisa menjual dari warung kecil, saya bisa menjual dari mana pun.

la bekerja tanpa lelah, memimpin strategi penjualan, dan bahkan membantu meluncurkan merek baru.

Tahun yang sama, Djoko mendirikan PT Alfa Retailindo, mengubah gudang rokok di Jalan Lodan menjadi Toko Gudang Rabat. Djoko melihat masa depan yang berbeda.

la tahu kebiasaan masyarakat mulai berubah. Orang ingin belanja cepat, mudah, dan dekat dari rumah.

BACA: ASN Muda Bakal Jadi Prioritas Dipindah ke IKN, Daerah Sekitar Jadi Kawasan Penyangga

Maka, Toko Gudang Rabat mulai bertransformasi menjadi jaringan ritel. Tahun-tahun berlalu. Toko-toko itu terus bertambah. Di awal 1990-an, Gudang Rabat sudah punya 32 cabang di berbagai kota dan menjadi pesaing kuat Indomaret dari Salim Group.

Namun bagi Djoko, angka-angka itu belum cukup. la ingin sesuatu yang lebih besar – sesuatu yang bisa melekat di hati masyarakat Indonesia.

Tanggal 18 Oktober 1999, lahirlah Alfa Minimart, di bawah naungan PT Sumber Alfaria Trijaya.

Gerai pertamanya berdiri di Jalan Beringin Raya, Tangerang. Visinya sederhana tapi revolusioner: “Belanja mudah, dekat, dan terjangkau untuk semua.”

Tahun demi tahun, Alfamart tumbuh seperti pohon yang berakar di setiap sudut kota.
Masyarakat mulai terbiasa dengan sapaan. ramah kasir, tata letak yang seragam, dan rasa aman ketika belanja.

Pada 2000, Alfa resmi go public, dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai US$108 juta, angka luar biasa untuk bisnis ritel lokal.

Dan ketika 1 Januari 2003 tiba, Alfa Minimart resmi berubah nama menjadi Alfamart.

Nama yang hari ini bukan sekadar merek, tapi bagian dari kehidupan sehari-hari jutaan orang Indonesia.

Kini, lebih dari 23.000 gerai berdiri di seluruh Indonesia, dari kota besar hingga pelosok desa, dari Alfamart hingga Alfamidi dan Lawson.

Namun di balik setiap gerai yang menjual sabun, air mineral, atau susu bayi, ada jejak tangan dingin seorang pria yang dulu menjaga warung kecil di Petojo.

Djoko Susanto tak pernah membangun kerajaan bisnisnya dengan harta warisan, tapi dengan insting bertahan hidup dan keberanian untuk belajar dari kesalahan.

la bukan sekadar pengusaha, ia simbol transformasi, bukti bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari ruang sempit asalkan seseorang berani menanamnya dengan konsistensi.

BACA: Puluhan Perusahaan di Cikande Tangerang Banten Terdeteksi Terkontaminasi Radioaktif

Kesuksesan tak lahir dari keberuntungan. Ia lahir. dari rasa lapar yang tak pernah padam lapar untuk belajar, berjuang, dan terus tumbuh.

Seperti Djoko Susanto, yang tak takut memulai dari warung kecil dan berani melihat peluang di balik debu jalanan Jakarta, siapa pun bisa membangun “Alfamart”-nya sendiri,dalam bentuk apa pun.

Karena pada akhirnya, keberhasilan bukan tentang seberapa besar toko yang kita bangun, tapi seberapa gigih kita menjaga nilai-nilai kecil yang dulu membuat kita bertahan.

Lahirnya Alfamart

Lahirnya Alfamart bermula ketika Djoko Susanto mendirikan perusahaan dagang aneka produk pada 22 Februari 1989. Kemudian pada bulan Desember ia memutuskan untuk menjual mayoritas kepemilikannya kepada PT HM Sampoerna Tbk pada Desember 1989.

Pada tahun 1999, Perseroan mulai memasuki sektor minimarket yang menyajikan produk kebutuhan sehari-hari dengan harga yang terjangkau. Pada 2002, mereka mengakuisisi 141 gerai Alfa minimart dan mengubah namanya menjadi Alfamart. Nama Alfamart tetap tidak berubah hingga saat ini.

Tujuh tahun setelahnya atau tepat pada tahun 2009, Alfamart mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia. Perseroan melepas harga saham perdana Rp 395 per saham. Pada saat itu, sekitar 3.300 gerai sudah aktif beroperasi.

Kemudian, pada tahun 2012, perusahaan menyelenggarakan penawaran umum terbatas tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMED) atau penempatan pribadi. Pada tahun yang sama, perusahaan mendirikan anak perusahaan, yaitu PT Sumber Indah Lestari, yang berfokus pada sektor kesehatan dan kecantikan. Alfamart juga mendirikan anak perusahaan Alfamart Retail Asia Pte. Ltd. dengan kepemilikan saham 100 persen.

BACA: Dilaporkan LSM Dugaan Pungli, Lalu Dipenjara dan Dipecat, Dua Guru Luwu Utara Dapat Rehabilitasi dari Presiden

Di tahun 2014, Alfamart memasuki pasar Filipina melalui usaha patungan dengan mendirikan Alfamart Trading Philippines Inc., anak perusahaan Alfamart Retail Asia Pte. Ltd., yang berbasis di Filipina. Kemudian di tahun 2016, Alfamart memperkenalkan AlfaMind, virtual store pertama di Indonesia dengan teknologi Augmented Reality.

Pada peringatan 20 tahun Alfamart di 2019, lebih dari 14.300 gerai beroperasi di Indonesia. Selanjutnya, Alfamart meluncurkan Alfagift, sebuah aplikasi yang memungkinkan pengguna untuk selalu mendapatkan informasi terkini tentang promosi dan penawaran khusus yang hanya tersedia di aplikasi tersebut. Di tahun yang sama, jumlah gerai Alfamart di Filipina meningkat menjadi 750 gerai, dengan total 3 gudang.

Pada tahun 2022, Alfamart melakukan perluasan gudang di wilayah Lombok dan mengembangkan pasar dengan memasuki daerah Aceh dan Bintan untuk wilayah Indonesia Barat. Sementara itu, di wilayah Indonesia Timur, perusahaan memperluas kehadirannya ke daerah Raja Ampat dan Timor Tengah Selatan, serta beberapa wilayah lainnya.

Jumlah gerainya semakin meningkat sebanyak 17.813 gerai Perseroan beroperasi. Kemudian sebanyak 2.985 gerai Anak Perusahaan beroperasi dan sekitar 1.400 lebih gerai Perseroan beroperasi di Filipina. (Berbagai sumber, jejakrekam.com)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles