19.5 C
New York
Jumat, April 25, 2025

Buy now

Sosialisasi Pengolahan Sampah, Kadis Kominfo Ajak Pegawai Membiasakan Diri Memilah Sampah

TUMPUKAN sampah di sudut-sudut kota bukan lagi sekadar pemandangan yang mengganggu estetika, tapi menjadi ancaman nyata bagi kesehatan lingkungan Kota Banjarmasin.

SEJAK ditutupnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Basirih oleh Kementerian Lingkungan Hidup awal Februari 2025 lalu, Pemerintah Kota Banjarmasin terus berupaya mencari solusi terbaik jangka pendek maupun jangka panjang berkelanjutan. Tak terkecuali bagi Diskominfotik Banjarmasin.

“Sejak enam bulan sebelum ditutup, Kami sebenarnya sudah diberi peringatan oleh kementerian. Tapi Kita lalai. Tidak ada langkah nyata, tidak ada upaya pengelolaan. Sampah hanya ditumpuk. Ditumpuk saja, seperti bikin gunung,” beber Kepala Dinas Kominfotik Kota Banjarmasin, Windiasti Kartika, dalam sosialisasi pengelolaan sampah menjadi kompos, yang digelar Jumat (11/4/2025).

TPA Basirih ditutup lantaran pelanggaran terhadap regulasi nasional soal pengelolaan sampah. Sistem open dumping atau hanya menumpuk tanpa pengolahan masih diterapkan, meski sejak 2008 telah dilarang. “Kementerian maunya minimal sanitary landfill, ditutup tanah, dipindah, dikelola. Tapi itu pun tak dilakukan,” ucap Windi.

BACA: Banjarmasin Darurat Sampah, Menteri LH: Harus Jadi Tanggung Jawab Bersama

Diketahui, Banjarmasin menghasilkan rata-rata 600 ton sampah per hari, sementara kuota pembuangan ke TPA Regional Banjarbakula hanyalah 105 ton. “Bayangkan, sisanya 500 ton itu mau dibuang ke mana? Sampah sekarang menumpuk, berbau, menyebar penyakit. Tapi ini harus jadi shock therapy, bukan alasan untuk menyerah,” ungkapnya penuh optimis.

Mendukung hal tersebut, gerakan memilah dan mengelola sampah secara mandiri pun dimulai dari internal staf Diskominfotik. “Kita jangan tunggu aturan. Kita mulai di kantor ini. Kita pilah, Kita olah sendiri jadi kompos,” ajaknya kepada seluruh ASN dan non-ASN.

Windi juga mengimbau stafnya di lingkup Diskominfotik Banjarmasin agar ikut memanfaatkan bank sampah. “Bawa saja sampah anorganik ke bank sampah. Dapat uang, ada buku tabungannya. Kalau tak sempat, kasih ke pengepul. Jadi rezeki bagi mereka juga,” pesannya.

Ia menyoroti kebiasaan warga termasuk para ASN Kominfotik yang banyak menyumbang sampah organik karena perilaku konsumtif. “Kulkas penuh makanan yang basi. Makanan tak dimakan. Itu jadi komposisi terbesar sampah Kita,” ujar Windi.

BACA JUGA: TPA Basirih Disegel Banjarmasin Darurat Sampah

Menurut Windi, perubahan harus dimulai dari rumah, dari kantor, dan dari diri sendiri. “Kalau ada yang belum tahu cara bikin kompos, ayo, nanti Kita datangkan ahlinya. Atau Kita sama-sama ke tempat pengolahan sampah, belajar langsung,” sambungnya.

Dinas Kominfotik kini menyediakan tempat sampah terpilah: hijau untuk organik, kuning/putih untuk anorganik, hitam/abu untuk residu, dan merah untuk B3. Di kantor pun sudah mulai praktik membuat kompos dari sisa makanan dan daun kering.

“Jangan malu. Mulai saja dari rumah. Pilah. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kita sedang dalam krisis,” tegasnya.

“Jangan tunggu TPA Basirih dibuka kembali. Mari Kita berubah. Banjarmasin bersih, bukan karena petugas kebersihan saja, tapi karena kesadaran kolektif warganya,” pungkasnya.(jejakrekam)

Sourcefery

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
22,300PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles