Menangkap Kegelisahan, Hapakat Bakumpai Gulirkan Wacana Rengkuh ‘Kekuasaan’ Batola

0

SUKU Dayak Bakumpai secara demografi di Kabupaten Barito Kuala (Batola), dominan ada di Kecamatan Kuripan, Tabukan, Marabahan, Cerbon, Barambai, beberapa enclave di Kecamatan Anjir Muara.

BERDASAR hasil sensus penduduk tahun 2000, Badan Pusat Statistik (BPS), populasi suku Bakumpai di Kalimantan Selatan (Kalsel) mencapai 20.609 jiwa. Terbanyak berada di Kabupaten Batola mencapai 18.892 jiwa.

Jelang perhelatan politik Pemilu 2024 dan berlanjut pada pemilihan kepala daerah (pilkada) 2024 mendatang, Hapakat Bakumpai menghelat diskusi kelompok terpumpun di Hotel Rodhita Banjarmasin, Rabu (21/6/2023).

Mengangkat isu ‘dari Bakumpai untuk Batola’, diskusi ke-7 merawat ke-Bakumpai-an ini menggunakan bahasa Bakumpai sebagai media komunikasi antar peserta diskusi.

Antropolog Universitas Lambung Mangkurat, Nasrullah yang merupakan salah satu pencetus Hapakat Bakumpai ini  membuka diskusi dengan ‘Maungkar Pakat’.

BACA : Berakhir November Nanti, Bupati Hj Noormiliyani Isyaratkan Maju Lagi di Pilkada Batola 2024

“Kelompok suku bangsa termasuk Bakumpai secara demografis bisa termasuk kelompok dominan, apabila secara jumlah sedikit tetapi memiliki kekuasaan,” ucap Nasrullah.

Dalam diskusi ini dihadiri anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kalsel Fahrin Nizar, mantan Wakil Bupati Batola Rahmadian Noor yang juga Ketua DPD Partai Golkar Batola, sejumlah akademisi, aktivis, politisi hingga jurnalis yang berlatar belakang suku Bakumpai.

Menurut Nasrullah, ketika kekuasaan dipegang walau merupakan komunitas minoritas dinamakan sebagai kelompok elite.

BACA JUGA : Penjabat Bupati Barito Kuala: Saya Siap Menjadi Role Model Bagi Bupati Batola Terpilih

“Namun orang Bakumpai terutama di Batola dapat menjadi minoritas apabila jumlahnya sedikit dan juga minus kekuasaan. Secara umum, Bakumpai juga bisa berarti, Rumput, Bahasa, Suku Bangsa dan Tempat,” beber Nasrullah, membuka narasi diskusi.

Mahasiswa doktoral Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini menyebut watak orang Bakumpai versi Barat adalah tidak punya pendirian, culas, cenderung berbohong dan mencuri merupakan ciri utama karakter mereka.

“Itu pendapat Schawaner dalam buku karya Sjamsuddin, 2014:51). Kalau versi, ZA Maulani tokoh Bakumpai sendiri yakni seperti suku Kurdi di tengah lautan Arab di Timur Tengah,” beber Nasrullah.

BACA JUGA : Bangun ‘Kongsi Politik’, 9 Parpol Non Parlemen Tengah Cari Figur Calon Bupati Batola Kredibel

Politisi muda Batola Rahmadian Nor mengakui cukup sulit mengikuti forum diskusi helatan Hapakat Bakumpai.

“Saya izin bahasa bercampur antara Banjar dan Bakumpai, biasanya saya menggunakan bahasa Bakumpai di warung-warung saja atau berbicara dengan masyarakat, makanya bahasa saya bercampur,” beber Rahmadi.

Diskusi Hapakat Bakumpai di Hotel Rodhita Banjarmasin diikuti politisi, akademisi, aktivis, tokoh dan jurnalis. (Foto Iman Satria)

———

Dia menangkap kini ada kegelisahan bagi warga Bakumpai, karena banyak tokoh Bakumpai yang sudah tiada, seperti Letjen (Purn) Zaini Azhar (ZA) Maulani yang sempat menjabat Kepala BIN periode 1998-1999, pemilik Hasnur Group yang juga tokoh Banua dan Golkar, H Abdussamad Sulaiman HB, tokoh lainnya H Rusli, H Rusman, dan yang baru saja meninggal dunia adalah mantan Bupati Batola dua periode Hasanuddin Murad.

BACA JUGA : Beredar Polling Cabup Batola 2024 di Medsos, Antropolog ULM Kritik Terlalu Premature dan Patriaki

“Orang Bakumpai harus mengambil peran di pemerintahan. Walaupun saya menilai orang Bakumpai kurang kompak dan jarang bertemu sehingga jarang berkomunikasi, bahkan cenderung becakut papadaan,” kata Rahmadi.

Sementara itu, anggota DPRD Kalsel dari Fraksi PDIP Fahrin Nizar mengatakan di Marabahan memang banyak pendatang. Hal ini karena masyarakat Marabahan merupakan tipikal penduduk terbuka menerima, justru kini warga lokal (Bakumpai) menjadi minoritas.

“Bakumpai memang terkotak-kotak sejak dulu.  Sesama orang Bakumpai cenderung tidak akur, ke depan mulai dari kita dan melalui diskusi seperti ini mari sama-sama kita merapatkan diri,” kata anggota Komisi III DPRD Kalsel ini.

Dilanjutkan Nasrullah, mengutip pendapat tokoh Bakumpai ZA Maulani, tantangan budaya orang Dayak termasuk Bakumpai adalah terkait budaya sungai, karena berorientasi komunikasi menurut alur sungai.

BACA JUGA : Andalkan 15 Program Prioritas di Tahun 2023, Pj Bupat Mujiyat Usung Visi-Misi Batola Bisa

“Alur sungai juga menumbuhkan ikatan primordial yang unik. Itulah sebabnya, suku Dayak terpotong-potong oleh primordialisme menurut alur sungai, yang melahirkan sub etnik Barito, Kahayan, Kapuas dan seterusnya (Maulani, 2000:134),” tutur Nasrullah.

Sementara bagi intelektual Bakumpai belum bisa maksimal karena secara budaya masyarakat Bakumpai masih memendam ciri yang sangat tradisional.

“Kedudukan kaum intelektual Bakumpai yang kebetulan jumlahnya belum terlalu besar, lagi pula umumnya tersebar di luar daerah, belum memperlihatkan peran menonjol. Mereka belum mampu memengaruhi arah kehidupan masyarakat (Maulani, 2000:141),” cetus Nasrullah lagi.(jejakrekam)

Penulis Iman Satria
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.