Dari Saranjana, Saranghaeyo Hingga Sarangtiung: Menguak Tabir Asal Nama Saranjana (2)

0

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

MENDENGAR nama Saranjana, tanpa rasa takut seorang teman lalu bercanda sekaligus bertanya. Pertama, apa bedanya Saranjana dengan Saranghaeyo, lagu korea yang populer karena dinyanyikan Eru?

KEDUA apakah Saranjana berhubungan dengan lagu dangdut Terajana yang dipopulerkan “raja dangdut” Rhoma Irama? Jawabannya, sambil setengah bercanda adalah: berbeda! 사랑 (sarang) dalam Bahasa Korea artinya cinta. Sementara arti ‘terajana’ tidak begitu jelas. Ada yang mengartikannya dengan ‘apa kabar?.

Secara ilmiah, memang ada fakta-fakta mental (mentifact) di pikiran masyarakat pendukung kepercayaan tentang “mitos Saranjana”di Kotabaru. Intinya, bila ada yang sengaja mencari daerah Saranjana, kebanyakan mereka tidak akan menemu-kannya. Selain deretan fakta dari sumber Hindia Belanda yang dipaparkan sebelumnya, memang ada sumber lain. Sumber yang tentunya jangan sampai ditinggalkan. Untuk membuat mitos menjadi nyata, harus dimulai dari kemitosannya.

BACA : Wilayah Kota Gaib Saranjana, Fakta Bukan Mitos (1)

Hal pertama, melihatnya dari sudut pandang bahasa. Sejarah ditulis dengan bahasa. Bahasa menjadi simbol dari kumpulan kata. Dari sudut pandang ini, keberadaan nama Saranjana/ Sarangjana atau Serandjana dalam tulisan naturalis Belanda, memiliki kesamaan toponim dengan Sarangtiung.

Wilayah Saranjana ada di wilayah selatan Pulau Laut. Sementara daerah Sarangtiung di wilayah utara Pulau Laut. Bukan anomali. Apakah unsur kesamaan ini menunjukkan hubungan? perlu pendalaman. Hal yang pasti, menunjukkan tempat berupa “sarang”. Pembuktian unsur kesejarahan dalam konteks lingua-historis hanya akan sampai di situ. Penyebabnya, data minim. Belum ada sumber yang menunjukkan adanya hubungan kedua wilayah ini. Artinya, pendapat ini hanya pencocokan (cocoklogi) yang belum bisa mencapai taraf hipotesa.

Kartu pos era kolonial Belanda dengan panorama pegunungan Kotabaru, Pulau Laut dan masyarakat aslinya, Dayak. (Foto KITLV Leiden)

BACA JUGA : Embrio Nama Kotabaru Berawal dari Konsesi Batubara Belanda Era Pangeran Amir Husin

Hal kedua, secara terminologi, kalau dikomparasikan (dibandingkan) dengan kosakata India, “Saranjana” berarti tanah yang diberikan. Hal ini diungkapkan sejarawan India, S.D. Chaudhri dalam “Indian Cases”. Buku terbitan Law Publishing Press, 1917, halaman 74. Memang cukup jauh apabila mencari perbandingan sampai ke India.

Tidak salah memang. Faktanya orang-orang India memakai nama ini. Sebut saja nama orang India, Saranjana Kulkarni. Nama perusahaan Saranjana Manufac-turing, dan sebagainya. Akan tetapi, pendapat yang kedua ini, lagi-lagi hanya bertaraf menjadi pencocokan (cocoklogi). Karena terbentur data. Belum pernah ditemukan peninggalan “wujud budaya” hasil indianisasi di Pulau Laut.

BACA JUGA : Orang ‘Pulau Lada’; Catatan dari Pulau Terpencil (Borneo Manuskrip)

Penelusuran akhirnya berhenti di sumber lisan lokal. Normasunah, dalam publikasinya bertitel “Myths in Legend of Halimun Island Kingdom in Kotabaru Regency” (Mitos dalam Legenda Kerajaan Pulau Halimun di Kabupaten Kotabaru), memberikan pandangan lain. Kacamata baru yang bukan kacamata kuda. Kacamata sastra lokal yang tergantung dari “kulturalgebundenheid” atau ikatan budaya masyarakat. Legenda Kerajaan Pulau Halimun. Tokohnya, Raja Pakurindang, Sambu Batung dan Sambu Ranjana.

Tokoh masyarakat Dayak di Kotabaru yang menjadi penghuni awal Pulau Laut. (Foto Dokumentasi Mansyur)

BACA JUGA : Terlarang di Era Belanda, Kini Pegunungan Meratus Terkepung Tambang

Normasunah berpendapat sesuai mitos. Gunung Saranjana merupakan jelmaan dari tokoh Sambu Ranjana dalam Legenda Kerajaan Pulau Halimun. Dalam mitos itu, Raja Pakurindang mengatakan “Sambu Batung, engkau dan Putri Perak tinggallah di utara pulau ini. Teruskan rencanamu membuka diri dan membaur di alam nyata, dan engkau Sambu Ranjana tinggallah di selatan lanjutkan niatmu menutup diri. Aku merestui jalan hidup yang kalian tempuh.

Namun ingat, meskipun hidup di alam berbeda, kalian harus tetap rukun. Selalu bantu-membantu dan saling mengingatkan.” Kesimpulannya, nama Sambu Ranjana inilah yang kemudian mengalami “evolusi” pelafalan menjadi “Saranjana” dalam lidah orang lokal.

BACA JUGA : Perlawanan Kuli di Tambang Neraka Pulau Laut

Apakah mitos ini bisa dipercaya? Sampai di mana derajat kebenarannya? bagaimana dengan unsur historisitasnya? Normasunah dalam tulisannya memberikan jawaban. Mitos, bagian dari bahasa yang subtansinya tidak terletak pada gaya, irama atau sintaksisnya. Melainkan pada cerita yang diungkapkannya. Fungsi mitos terletak pada suatu tataran khusus yang di dalamnya makna-makna melepaskan diri dari landasan yang semata mata kebahasaan.

BACA JUGA : Kisah Berlian Banjar di Rijskmuseum Amsterdam; Tragedi Sebuah Regalia

Mitos adalah bahasa yaitu suatu struktur yang teraktualisasikan setiap kali menceritakan ulang kisah tertentu. Dari deretan pendapat dengan cara pandang lingua-historis ini paling tidak memberikan informasi penting. Asal nama Saranjana yang paling mendekati kebenaran adalah Sambu Ranjana. Bagaimana analisis historis tokoh Sambu Ranjana dan kapan kurun waktunya? (jejakrekam/bersambung).

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.