Pukau Tamu Puncak Harjad Tabalong ke-57, Tarian Banaik Manau Disuguhkan

0

TARI Banaik Manau yang menjadi tarian khas dari suku Dayak Deah, dengan cara menaiki atau memanjat pohon berduri manau (rotan besar) disuguhkan di Lapangan Pendopo Bersinar, Tanjung, Selasa (6/12/2022).

TARIAN yang sarat dengan keahlian ilmu (magis) atau kebal tanpa tertusuk duri di pohon manau, benar-benar memukau para tamu. Hal ini menunjukkan kegagahan atau kesaktian dari laki-laki Dayak Deah karena saat menaiki pohon berduri dengan kaki telanjang.

Suguhan tarian kolosal yang diperagakan Sanggar Tari Kecamatan Upau ini dihadirkan demi memeriahkan puncak peringatan Hari Jadi (Harjad) ke-57 Kabupaten Tabalong. Hentakan tabuhan gendang dan gong khas Dayak berpadu dengan gemerincing alat musik perkusi pun menggema di lapangan.

“Tarian Banaik Manau ini sengaja kami tampilkan untuk memeriahkan puncak Harjad Kabupaten Tabalong ke-57 pada tahun 2022 ini,” ucap Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Tabalong, Masdulhak Abdi kepada awak media, Selasa (6/12/2022).

BACA : Jaga Warisan Leluhur Dayak Deah, Uma Delis Disematkan Gelar Maestro Sensapi

Dia mengakui pertunjukan tarian Banaik Manau ini jarang ditampilkan, terlebih lagi dalam dua tahun terakhir ketika dilanda pagebluk Covid-19.

“Ini mengapa akhirnya tarian Banaik Manau ini kami suguhkan sebagai pengobat rindu bagi masyarakat, terkhusus pencinta kesenian daerah,” tutur Masdulhak Abdi.

Dia menceritakan bahwa tarian Banaik Manau ini merupakan seni tradisi dari masyarakat adat Dayak Deah yang tergolong, bahkan patut dilestarikan di Kalsel sebagai kekayaan budaya lokal.

BACA JUGA : Sampaikan Kegelisahan, Delis Lantunkan Delapan Lagu Ciptaan Pada Pentas Sensapi Deah

“Sebab, tidak semua orang melakukan atau naik ke batang pohon manau. Tentu butuh keahlian khusus dan kekuatan untuk dapat menjalankan tarian Banaik Manau,” ucapnya.

Menurut Masdulhak Abdi, selain pohon manau yang dipasang terbilang tinggi, namun untuk menaikinya juga terdapat banyak ‘ranjau’ berupa duri-duri tajam. “Inilah mengapa untuk memperagakan tarian ini butuh keahlian khusus dari para penarinya,” katanya.

BACA JUGA : Baru Ada Empat Kamus Bahasa Daerah, Bahasa Berangas di Ambang Punah

Masdulhak Abdi menjelaskan pesan moral dari tarian Banaik Manau itu adalah menceritakan seorang pemuda yang rela memanjat batang pohon manau berduri dengan diiringi tarian-tarian khas dayak sebagai penyemangatnya.

Anggota DPRD Kabupaten Tabalong dari Fraksi NasDem, Mursalin alias Lelen saat ikut menari bersama para gadis Dayak Deah dalam pertunjukan tarian Banaik Manau. (Foto Herry Yusminda)

Agar memompa semangat para penari, diiringi musik tradisional khas Dayak Deah dan tarian yang dibawakan para penari dari gadis-gadis suku Dayak.

Anggota DPRD Kabupaten Tabalong dari Fraksi NasDem, Mursalin mengapresiasi hadirnya tarian Banaik Manau dalam puncak peringatan Harjad ke-57 Kabupaten Tabalong.

BACA JUGA : Miris, Kini Penutur Bahasa Abal Hanya 100 Orang

Sebagai putra Dayak Deah, Lelen-begitu biasa ia disapa mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Tabalong yang telah memberi ruang seni dan berkreasi bagi masyarakat adat di daerahnya.

“Tarian Banaik Manau ini harus sering disuguhkan, sehingga bisa jadi tontonan masyarakat agar mengetahui betapa kayanya khazanah budaya dan seni yang ada dalam masyarakat Dayak. Tentu saja, tak hanya pada acara resmi di luar ruangan, tarian ini bisa ditampilkan,” pungkas Lelen.(jejakrekam)

Penulis Herry Yusminda
Editor Ahmad Riyadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.