Persentuhan Budaya Tionghoa-Banjar; dari Kecap, Lontong hingga Bunyi Gamelan di Klenteng

0

PERSENTUHAN Dua Budaya dalam topik Ikat Kait Tionghoa disajikan Rumah Oettara dalam seri diskusi #8, di Banjarbaru, Rabu (12/10/2022) malam.

PEMERHATI Budaya Tionghoa, Maria Roesli dan Dokumentator Budaya Tionghoa dan Banjar, Sugiharto Hendrata, dihadirkan dalam mengungkap fakta sejarah dan kekinian hubungan harmonis antara etnis Banjar sebagai mayoritas dengan Tionghoa.

Pemilik Rumah Oettara, Novyandi Saputra mengungkapkan bahwa ruang diskusi seri #8 ini menjadi  bagian dari gerak positif, dimana dapat mengenal dan mengetahui budaya lain yang ada di Banjar khususnya budaya Tionghoa Banjar.

BACA : Kenang Pahlawan, PSMTI Kalsel Ziarahi Makam Veteran Tionghoa Pejuang Kemerdekaan RI

“Diskusi mengenai budaya Banjar sudah sering. Kali ini, kami mendiskusikan budaya lain yang punya konstruksi sosial terhadap orang Banjar seperti Tionghoa Banjar,” ucap Novyandi Saputra kepada jejakrekam.com, Rabu (12/10/2022) malam.

Akademisi musik dan seni FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini mengatakan diskusi ini semua punya pandangan positif akan peranakan Tionghoa Banjar. Pada dasarnya, ada perbedaan yang menarik, namun tidak memicu miskonsepsi terhadap budaya dan pengetahuan tersebut.

BACA JUGA : Jung dan Lada, Tionghoa dalam Catatan Sejarah Banjar

Sementara itu, Sugiharto dalam diskusinya bercerita  akulturasi budaya tionghoa banjar sudah berlangsung panjang sejak tahun 1800-an. Di mana, ia menyampaikan dirinya adalah Peranakan Tionghoa yang sudah bergenerasi dari leluhurnya yang kawin dengan budaya setempat.

“Kita ini Tionghoa, tapi kami adalah Tionghoa peranakan. Peranakan tersebut yang membawa identitas Tionghoa dan bumi putera menjadi satu,” ucap Sugiharto.

BACA JUGA : Peran dan Kiprah Tionghoa Banjar Dalam Lintasan Sejarah

Dia mencontohkan akulturasi dua budaya Tionghoa dan Banjar seperti ketika di masyarakat, kecap yang merupakan budaya Tionghoa diserap oleh masyarakat setempat.

Kemudian, beber Sugiharto, pada perayaan Cap Go Meh yang menyediakan lontong dengan daun pisang dimana masyarakat Tionghoa juga menyerap kultur budaya setempat.

BACA JUGA : Hikayat Dua Klenteng Besar, Identitas Etnis Tionghoa Banjar

“Di Klenteng juga dimainkan tabuhan gamelan Banjar yang dimainkan Pagustian Kampung Melayu tiap perayaan hari besar. Itu merupakan akulturasi dua budaya,” ucap pegiat sejarah Tionghoa Banjar ini.

Lebih lanjut, Maria dalam diskusi itu juga bercerita masih banyak orang yang salah mempersepsikan kehadiran Tionghoa Banjar.

“Kami ini bukan dari Cina seperti di Tiongkok. Kami ini Cina  Peranakan Banjar yang sangat dekat secara kebudayaan dengan budaya Banjar,” ucap Maria.

BACA JUGA : Universitas Lambung Mangkurat Berdiri di Atas Keberagaman

Dia menyebut mulai dari prosesi menajak tiang rumah, mandi tian mandaring, mahambaru beras kuning, hingga beberapa prosesi lainnya dan beberapa alat musik kesenian Banjar. Ambil contoh, lamut, madihin dan gamelan, justru cenderung menggunakan adat istiadat budaya Banjar.

“Orangtua dan saya lahir di Banjar. Saya pun tidak fasih berbahasa mandarin. Hanya saja saya memiliki garis peranakan Cina,” pungkasnya.

BACA JUGA : Merantau ke Tanah Banjar, Kisah Tukang Gigi dari Hubei Tiongkok

Meski begitu, Maria dan Sugiharto menyampaikan hal yang terpenting dengan adanya akulturasi budaya, suku, ras, dan agama tersebut masyarakat dapat hidup rukun, damai saling bertoleransi tanpa perpecahan, serta bergotong royong menjadikan Banjar berkembang dengan penuh suka cita.(jejakrekam)

Penulis Sheilla Farazela
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.