Segera Bikin Riset Pembanding, DLH Kalsel Akui Sungai Martapura Terkontaminasi Mikroplastik

0

PENCEMARAN mikroplastik di Sungai Martapura serta sungai-sungai yang ada di Banjarmasin, tak dipungkiri Kepala Dinas Lingkungan (DLH) Provinsi Kalsel, Hanifah Dwi Nirwana.

“LAPORAN dari hasil riset tim Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN) soal pencemaran mikroplastik di Sungai Martapura, Sungai Barito serta Sungai Kemuning akan segera ditindaklanjuti,” tutur Kepala DLH Provinsi Kalsel, Hanifah Dwi Nirwana kepada jejakrekam.com, Jumat (9/9/2022).

Terutama, pada biota sungai seperti ikan-ikan yang terkontaminasi mikroplastik, sehingga bisa diketahui berapa tingkat pencemarannya. Menurut Hanifah, tak bisa dipungkiri berdasar evaluasi kegiatan implementasi program Sungai Martapura ASRI. Seperti aksi bersih sungai di 12 titik lokasi pilot project ditemukan banyak sampah plastik.

BACA : Akui Temuan ESN, Jamin Air Baku Bandarmasih, DLH Banjarmasin Segera Riset Pencemaran Mikroplastik

“Sampah plastik ini paling mendominasi. Kami juga menemukan seperti delta atau daratan mengapung, berlayar-layar atau berlapis lapis,  sebab sifatnya tidak mudah terurai atau hancur,” saudari kembar mantan Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq ini.

Menurut Hanifah, DLH Provinsi Kalsel akan menindaklanjuti dengna pengujian lebih lanjut sehingga hal itu menjadi informasi penting mengukur tingkat pencemaran di Sungai Martapura dan sungai lainnya.

BACA JUGA : Menabur Sampah Plastik, Menuai Mikroplastik dalam Rantai Makanan di Barito Kalimantan Selatan

“Kami akan cari formasi laboratorium yang dapat melakukan pengujian mikroplastik. Tentu saja, kami siap berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin dalam melaksanakan kajian bersama pengujian kadar oksigen, termasuk ikan yang diduga terkontaminasi mikroplastik,” papar Hanifah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalsel, Hanifah Dewi Nirwana. (Foto Dokumentasi JR)

Sepengetahuan Hanifah, justru Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalsel juga turut melakukan pemantauan lebih detail soal oksigen terlarut dengan titik pantau lokasi yang jauh lebih banyak dibanding DLH Kalsel.

“Sebagai bahan pembanding, DLH Provinsi Kalsel dan DLH Kota Banjarmasin dan kabupaten juga secara periodik melakukan pemantauan kualitas air secara periodik,” beber mantan pejabat Dinas PUPR Kalsel ini.

BACA JUGA : Gawat! Sungai Martapura Tercemar Mikroplastik dan Kadar Oksigen Air Rendah

Dari hasil pemantauan DLH Kalsel, Hanifah mengungkap diperoleh data bahwa kadar oksigen terlarut di Sungai Martapura berkisar antara 3-4 miligram per liter. Bahkan, ditemukan di kisaran 2 miligram per liter saat debit air kecil atau rendah.

“Memang, keberadaan mikroplastik dalam perut ikan pada sungai dapat menjadi jalan masuk ke tubuh manusia,  sehingga diharapkan dengan hasil riset ini dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk tidak lagi membuang sampah plastik ke sungai,” kata Hanifah.

BACA JUGA : Sikapi Sungai Martapura Tercemar, DLH Banjarmasin Didesak Segera Lakoni Riset Pembanding

Guna mengantisipasi agar sampah tak lagi dibuang ke sungai, Hanifah mengatakan pihaknya sudah mendorong agar dibangun bank sampai terutama di daerah tepian Sungai Martapura. Saat ini, sudah ada 5 bank sampah, dalam proses akan ditambah jadi 7 bank sampah di tepian Sungai Martapura.

Masih menurut Hanifah, ada 77 desa dan kelurahan yang berada di sepanjang Sungai Martapura wilayah Kabupaten Banjar dan Kota Banjarmasin terus didorong membangun bank sampah.

“Dengan adanya bank sampah itu bisa bijak dalam mengelola sampah. Apalagi, sampah plastik memiliki nilai ekonomis,” ucapnya.

BACA JUGA : Sungai Martapura Tercemar Berat, FPKS DPRD Banjarmasin Usulkan Air Leding Diuji Laboratorium Pembanding

Hanifah menyebut Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan juga ikut dalam mengedukasi masyarakat, termasuk para pelajar guna membangkitkan kesadaran ramah lingkungan.

“Mereka harus bisa diasah sejak dini untuk peduli sampah, peduli pengelolaan sampah dengan baik. Kami juga mendorong pembangunan kampung iklim, karena di dalamnya ada aksi migitasi dan adaptasi. Salah satunya dalam pengelolaan sampah dengan bijak,” tutur Hanifah.(jejakrekam)

Penulis Asyikin
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.