Suguhan Wayang Gung Sanggar Antakusuma Tutup Ragam Pesona Budaya Banjar 2022

0

PERTUNJUKAN wayang gung dari Sanggar Antakusuma berlangsung di Taman Budaya Kalimantan Selatan menjadi menu penutup Ragam Pesona Budaya Banjar 2022 dalam Karasminan Banua, Jumat (19/8/2022) malam.

PARA pemain yang mementaskan lakon Rindu dan Tangis ini disiarkan langsung oleh Taman Budaya Kalsel, Jalan Brigjen H Hasan Basry Kayutangi, Banjarmasin melalui kanal Youtubenya.

Wayang gung yang merupakan seni tradisi wayang orang khas suku Banjar ini memadukan olah vokal dan gerakan tari diiringi tabuhan musik gamelan dan bunyi ketopong ini pun menjadi suguhan yang dinanti para penonton. Ini belum lagi kostum yang dipakai para pemain juga menarik pandangan.

BACA : Damarwulan Banjar, Kesenian Asli Banjarmasin Berada di Tepi Zaman

Apalagi, wayang gung yang mengangkat pakem Ramayana versi Banjar ini sudah ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) seni pertunjukan asal Kalsel pada 1 Januari 2017, dengan nomor registrasi 201700545.

Para pelakon wayang gung dari Sanggar Antakusuma penuh dedikasi menyuguhkan pertunjukan apik. Bahkan, tak jarang ada gelak tawa penonton di halaman depan Panggung Bakhtiar Sanderta, Jumat (19/8/2022) malam.

BACA JUGA : Panggung Terbuka Ragam Pesona Budaya Banjar Tahun 2022 Digelar Taman Budaya Provinsi Kalimantan

“Ada cerita limau palsu yang diangkat dalam lakon wayang gung itu benar-benar menarik. Apalagi, limau (jeruk) itu paling dicari oleh sang raja,” kata Jhonson, penonton wayang gung sajian Sanggar Antakusuma kepada jejakrekam.com.

Pertunjukan wayang gung dari Sanggar Antakusuma yang menarik minat para penonton, karena jarang ditampilkan di Taman Budaya Kalsel. (Foto Tangkapan Layar Youtube Taman Budaya)

Khairiadi Asa sebagai penikmat budaya Banua pun mengakui tak mudah untuk menjadi pemain wayang gung karena harus menguasi atau mahir berbicara sesuai perannya. “Mereka juga harus lihai menari atau mengatur gerak sesuai musik pengiringnya,” kata pencipta lagu-lagu Banjar kekinian ini.

BACA JUGA : Desa Barikin dan Lakon Wayang Banjar, Warisan dari Kerajaan Negara Dipa

Khairiadi mengakui selepas era sastrawan dan budayawan Kalsel Bakhtiar Sanderta yang ditahbiskan sebagai salah seorang dari 27 maestro seni tradisi Indonesia, nyaris pertunjukan wayang gung sangat jarang dipentaskan.

“Terutama di Taman Budaya Kalsel selepas era Bakhtiar Sanderta, pertunjukan wayang gung memang tidak terlalu terperhatikan. Ini juga tak pelaku karena pelaku seni wayang gung juga minim. Memang, masih ada, tapi jarang ditampilkan,” kata wartawan senior ini.

BACA JUGA : Bunyi Banjar: Catatan Etnomusikologi Musik Banjar

Menurut Khairiadi, dari setiap suguhan, tim atau grup wayang gung itu sedikitnya membutuhkan cukup banyak pemain. Terutama para pemusik dan pemeran bisa mencapai 25-30 orang.

“Jadi, hanya sanggar wayang gung tertentu saja yang bisa eksis. Jujur saja, saya baru tadi malam bisa kembali menyaksikan pertunjukan wayang gung. Mungkin sudah 30 tahunan lamanya tak pernah menonton lagi,” kata Khairiadi.(jejakrekam)

Penulis Iman Satria
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.