Sarat Pesan Moral, Sang Ratu pun Malu, Lukisan Paman Birin dalam Sketsa Negatif Film

0

PAMERAN 100 lukisan yang dipersembahkan para pelukis berbagai daerah di Bias Borneo, Gedung Wargasari, Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan, menyita perhatian pengunjung.

ADA sejumlah lukisan yang sarat pesan sosial, tak hanya menonjolkan unsur seni nan indah di Pameran Seni Lukis Nasional  digeber Ikatan Pelukis Kalimantan Selatan (IPKS), Yayasan Perupa Kalsel serta UPTD Taman Budaya Provinsi Kalsel ini.

“Lukisan yang dipamerkan dalam Bias Borneo, Taman Budaya Kalsel benar-benar menarik. Saya sendiri sudah dua kali berkunjung, karena penuh seni dan sarat pesan moral,” ucap Tiara, warga Banjarbaru yang rela datang dua kali ke Taman Budaya kepada jejakrekam.com, Jumat (19/8/2022).

Tiara mengatakan dari 100 lukisan yang dipajang sejak 16-21 Agustus 2022, terdapat karya para maestro seperti Djoko Pekik dan Nasirun asal Yogyakarta. Bahkan, dari Bali seperti Moelyoto. Termasuk, pelukis kawakan asal Kalsel seperti Misbach Tamrin, Muslim Anang Abdullah, Aswin Noor, Nanang M Yus dan lainnya.

BACA : Gelar Pameran Tunggal, Hajriansyah Suguhkan 24 Lukisan di Rumah Oettara

“Saya memang penggemar lukisan. Apalagi, lukisan yang dipamerkan di Bias Borneo ini merupakan karya-karya andalan dari para pelukis,” kata lulusan FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Lukisan berjudul ‘Malu jadi Ratu’ di atas kanvas dengan cat acrylic karya Muhammad Zaini asal Marabahan, Barito Kuala (Batola) juga sarat pesan sosial.

“Lukisan Malu jadi Ratu ini sebenarnya bisa ambigu. Sang ratu malu melihat kondisi kekinian negeri yang dipimpinnya yang morat-marit. Bisa pula, sang Ratu juga malu dengan dirinya sendiri karena tak mampu memimpin negerinya,” kata Zaini, sang pelukis kepada jejakrekam.com, Jumat (19/8/2022).

BACA JUGA : Ada ‘Senam’ Djoko Pekik di Bias Borneo, 100 Karya Lukisan Andalan Berbagai Daerah Dipamerkan

Guru SMAN 1 Marabahan ini mengungkapkan kehadiran ratusan para pengunjung sejak pameran dibuka di Gedung Wargasari merupakan bentuk apresiasi. Apalagi, yang datang tak hanya masyarakat umum, namun kalangan pelajar dan mahasiswa.

“Lewat seni lukis yang menjadi bagian dari budaya, tentu ada edukasi penting yang bisa dipetik dari karya-karya para pelukis itu,” ucap sarjana jebolan ISI Yogyakarta ini.

Lukisan Paman Birin dengan skesta wajah negatif fim karya Cadio Tarompo asal Balikpapan yang turut menyita perhatian pengunjung. (Foto Asyikin)

Menurut Zaini, lukisan ‘Malu jadi Ratu’ berukuran 100 cm x 100 cm itu terinspirasi dari kondisi sosial yang dialami sebuah negeri. Ratu dengan tiara atau mahkota tampak menutup wajahnya, kemudian melepas sepatu. Meski di tangan kirinya masih memegang tongkat komando sebagai sosok pemimpin negeri duduk di singgasananya.

BACA JUGA : Diawali Walikota Ibnu Sina, Para Kolektor Lukisan Dinanti di Sangar Seni Solihin Taman Budaya

Ada seseorang perempuan dengan wajah nanar tampak memelas di tengah bangunan yang tak beraturan. Zaini sendiri merupakan pelukis beraliran futuristik.

“Memang ada pesan moral dari lukisan Malu menjadi Ratu. Namun, interprestasi para penikmat seni lukis, tentu berbeda-beda. Yang pasti, kami senang dengan adanya pameran ini,” kata Zaini.

Menurut dia, memang sudah saatnya Kalsel memiliki gedung galeri atau pasar seni seperti kota-kota besar di Indonesia, seperti Denpasar (Bali), Jakarta, Surabaya, bahkan Palangka Raya (Kalteng) malah sudah memilikinya.

BACA JUGA : Bekas Luka Korban Kekerasan Perempuan dalam Lukisan Kelinci Karya Dhea

“Galeri seni ini tentu sangat dibutuhkan para perupa atau seniman lukis seperti kami. Ya, setidaknya ada wadah khusus untuk memamerkan karya, karena apresiasi seni itu tak melulu bicara uang (lukisan terbeli para kolektor atau penikmat seni lukis). Apalagi, jika ternyata lukisan kita itu dipajang di tempat-tempat keramaian publik seperti bandara, kantor pemerintahan, atau lainya. Nah,, begitu karya seseorang diapresiasi itu melecut semangat kami untuk terus berkarya,” beber Zaini.

Sementara itu, lukisan karya Cadio Tarompo asal Balikpapan berjudul Dr (HC) Sabirin Noor (Paman Birin) di atas kanvas berukuran 80 cmX 100 cm, menampilkan lukisan ala negatif film (klise) dengan sosok Paman Birin mengepalkan tangan berbusana tradisional khas Banjar. Latar belakangnya adalah lukisan wajah Pangeran Antasari terkenal dengan semboyan Waja Sampai Kaputing.

BACA JUGA : Gusti Sholihin Hasan, Maestro Lukis Banua Berkelas Dunia

“Lukisan klise Paman Birin ini untuk menikmatinya bisa dengan aplikasi khusus, seperti lukisan itu akan terlihat jelas di ponsel pintar. Kalau dilihat dari dekat, ya seperti klise zaman foto masih menggunakan negatif film,” tutur Ketua IPKS, Muslim Anang Abdullah.

Dia berharap Bias Borneo ini bisa berjilid-jilid, karena animo para pelukis dari berbagai daerah di Indonesia telah melirik Kalsel menjadi salah satu ‘kota seni’ secara nasional.

BACA JUGA : Perjalanan Seni Rupa Kalsel Cukup Panjang Walau Tak Semaju Daerah Lain

“Ini harapan kami ke depan. Apalagi, dalam pameran lukisan ini juga banyak diisi para maestro lukis nasional, termasuk asal Banua,” kata Muslim Anang Abdullah.(jejakrekam)

Penulis Asyikin
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.