Mengenal Liem Ho Ho, Tokoh Pergerakan Muhammadiyah Banjarmasin Lewat Buku Perjuangannya

0

LEMBAGA Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin, menggelar Diskusi Buku Perjuangan Seorang Mualaf Liem Ho Ho, di Rumah Alam Sungai Andai, Banjarmasin, Sabtu (6/8/2022).

BUKU ini ditulis oleh sang cucu yakni B Muria Zuhdi. Tujuannya untuk mengingat perjuangan yang dilakukan oleh Liem Ho Ho. Liem Ho Ho merupakan tokoh pergerakan Muhammadiyah ini merantau ke Indonesia sejak berumur 10 tahun. Anak yatim yang ditinggal ayahnya itu lahir pada 5 November 1920, di sebuah kota kecil yang bernama Hok Tjia, tepatnya di sebuah dusun namanya Kau San Jie, yang terletak di atas bukit gersang.

Hok Tjia sekarang sudah tidak ada, berganti nama menjadi Fuqing ( Fuching) yang sekarang menjadi kota besar di Prefektur Fuzhou, Provinsi Fujian/Hokkian, Tiongkok. Nah, Liem Ho Ho menjadi seorang muslim dan berganti nama Norlias dan selanjutnya menjadi H Abdul Halim.

BACA : Kisah Tabib Tha Sin; Pembauran Tionghoa dan Islam di Tanah Banjar

Pembina LK3 Banjarmasin Nurholis Majid mengatakan, Liem Ho Ho termasuk tokoh Tionghoa yang membentuk Persatuan Islam Tinghoa Indonesia (PITI) pertama kali, juga merupakan aktivis Muhammadiyah.

“Kami lebih banyak mendiskusikan soal peran sosial beliau di tengah masyarakat, karena peran beliau sebagai tokoh banyak pelajaran yang bisa dipetik. Baik bagi warga tionghoa sendiri maupun warga Kalimantan Selatan, khususnya Banjarmasin,” papar mantan Kepala Perwakilan Ombdusman Kalsel ini.

BACA JUGA : Jung dan Lada, Tionghoa dalam Catatan Sejarah Banjar

Liem Ho Ho adalah generasi pertama orang Tionghoa yang datang ke Banjarmasin. Kemudian, Liem dapat istri di Tanah Banjar, bekerja dan mengabdikan segala macam pengetahuan serta keahlian. Walaupun ada kisah-kisah diskriminasi terhadap beliau.

“Itu pelajaran yang menurut kami, setelah buku ini terbit menarik untuk diketahui, bukan hanya untuk kelaurga beliau tapi untuk masyarakat luas,” tutur Majid.

Banyak tokoh Tionghoa dari Persatuan Sosial Warga Tionghoa Indonesia Wilayah Kalimantan Selatan dan Kota Banjarmasin yang hadir dalam duskusi buku ini, di antaranya Arifin, Sarwadharma, Winardi, Suriani Khair dan Maria Rusli.

BACA JUGA : Peran dan Kiprah Tionghoa Banjar Dalam Lintasan Sejarah

Diskusi buku perjuangan tokoh Tionghoa Banjar, Liem Ho Ho di Rumah Alam Sungai Andai, Banjarmasin, (Foto Iman Satria)

Sebarang pengetahuan tentang ekonomi itu hampir rata-rata diajarkan oleh tokoh-tokoh pedagang Tionghoa. Bahkan, tidak ada perbedaan antara orang Tionghoa dengan warga Banjarmasin dan sekitarnya.

“Saat ini banyak orang Tionghoa yang menjadi pejabat bahkan duduk di DPR, namun identitas nereka saja tudak diketahui,” ucap Suriani Khair.

Sementara itu, Winardi menyampaikan antara Tionghoa dan Banjar sebenarnya adalah korban politik, akan tetapi semua itu tergantung pada kita sendiri.

BACA JUGA : Sungai Pembunuhan; Kisah Kekejaman Serdadu Jepang saat Duduki Banjarmasin

“Contoh seperti saya ini Islam, namun tetap dipanggil Cina. Kita jangan mengecilkan masalah itu, satu hal yang terpenting, karena kita sama mempunyai iman, bahwa kita lahir di Banjarmasin bukan kehendak kita, itu merupakan kekuasaan dari Allah SWT,” tutur pengusaha advertising ini.

BACA JUGA : Kisah ‘Lima Naga’ di Tanah Banjar

Sebelum dilaksanakan diskusi, kegiatan diawali dengan sosialisasi Perda Provinsi  Kalsel Nomor 1 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan,oleh Ketua Komisi I DPRD Provinsi Kalsel Rachmah Norlias dari Fraksi PAN.

BACA JUGA : Kiprah Cina Banjar, Liem Koen Hian dalam Pusaran Politik Indonesia yang Terlupakan

“Kami berharap warga mengerti tentang dokumen-dokumen kependudukan yang perlu dimiliki dan yang perlu diperbaiki, sosialisasi terus kami lakukan dan sudah lama berjalan,” tutup mantan Kepala Disdukcapil Kota Banjarmasin ini.(jejakrekam)

Penulis Iman Satria
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.