Untitled; Sebuah Catatan Pameran Puzzle (Drawing on Kambuk)

0

Oleh : Rizky A. Setiawan

PUZZLE: Drawing on Kambuk ada, singkatnya, karena ingin berpartisipasi dan memeriahkan “gerakan” Bulan Menggambar Nasional yang diprakarsai oleh seorang perupa jebolan ISI Yogyakarta, yakni Edo Pop. Mengingat tak semua daerah di Indonesia “mapan” perihal definisi drawing,yang telah lebur pada era kontemporer saat ini, maka eventini dirasa penting untuk membawa isu ‘drawing’ke dalam pemaknaan yang lebih luas dan mendalam.

MEMAKNAI kata “puzzle” berarti bicara perihal kepingan-kepingan kecil yang saling mengisi dan bersatu-padu menjadi gambar yang utuh. Ketiadaan sekeping puzzle, walau kecil, menjadi penting dan dapat berdampak besar terhadap keparipurnaan sebuah gambar. Melalui pameran ini, Badri dan Hajriansyah ingin mengajak kita (perupa Kalsel), untuk berkontemplasi terhadap sekeping puzzle yang sering kita abaikan; yakni, perihal kemampuan beradaptasi. Mengingat pemaknaan drawing era jadul telah menjadi kepingan dengan pemaknaan baru di era kontemporer saat ini.

Harus saya akui wujud “baru” drawing saat ini terkesan puzzling (membingungkan). Dan pemahaman terhadap defenisi ini bisa saja kita anggap tak penting dan remeh-temeh. Namun, sikap tersebut lagi-lagi hanya akan menambah jarak ketertinggalan dan lemahnya daya adaptasi kita. Bicara perihal adaptasi, saya teringat sebuah buku yang saya baca semasa SMP, yakni Theory of Evolution yang ditulis oleh Charles Darwin. Dalam buku tersebut ia mengemukakan bahwa makhluk yang bertahan adalah makhluk yang cepat beradaptasi–the survival of the fittest.

BACA : Gaet Seniman Sanggar Sholihin, Kambuk Siap Cetak Generasi Perupa Banjarmasin

Bicara perihal Hajri, saya mengenalnya sebagai perupa yang jarang menyusun gagasan pada pra-produksi karya. Ia lebih suka melakukan petualangan langsung, mencarinya di sebidang kanvas dan menikmati setiap kemungkinan-kemungkinan yang akan meluap dari memori liar yang berseliweran, lalu membubuhkan tanda-dirinya menjadi sebuah karya. Singkatnya, ia menggunakan alam bawah sadar (subconscious) sebagai bahan dalam memproduksi sebuah karya.

Hal ini cukup menarik, karena metode semacam ini pernah dilakukan oleh pelukis surealis Spanyol, Salvador Dali. Di mana, metode tersebut timbul akibat ketidakpuasannya terhadap kekacauan lanskap yang ia lihat pasca-Perang Dunia ll. Maka setelahnya, ia memilih untuk memanfaatkan memorinya, mendeformasi objek ke arah transformasi, dan menghadirkan objek yang belum pernah ada di dunia riil.

BACA JUGA : Setahun Kambuk Banjarmasin, Wadah Tongkrongan dan Literasi Berkebudayaan

Sedikit berbeda dengan Dali, Hajri menggunakan alam bawah sadar untuk membebaskan spektator (pengamat) menghadirkan macam-macam sisi kepingan puzzle memori yang bersifat subjektif. Contohnya, seperti pada sebuah gambar pada seri “Rupa-Rupa Kehidupan”. Saya, sebagai sudut pandang spektator yang melihat karya itu, membacanya sebagai lanskap lahan pertanian di kawasan desa Gudang Hirang, dan dua figur pada pojok kiri saya tangkap sebagai potret saya dengan seorang kawan.

Pembacaan itu dapat terjadi terkait perihal bagaimana alam bawah sadar berperan sebagai pustakawan, yang mencarikan memori-memori yang paling cocok untuk dijadikan sebuah terjemahan atas apa yang telah ditangkap oleh alat inderawi.

BACA JUGA : Perjalanan Seni Rupa Kalsel Cukup Panjang Walau Tak Semaju Daerah Lain

Interpretasi saya bisa saja berbeda dengan spektator lain, semisal seorang spektator B akan dengan zakelijk memaknai gambar tersebut sebatas gambar dua figur manusia dengan latar corat-coret. Interpretasi ini juga tak bisa dibilang salah. Perbedaan dalam pemaknaan akan terus berlanjut, dengan variabel subjektivitas memori bermacam spektator, dan akan terus menghadirkan kepingan-kepingan puzzle memori yang berbeda.

“STORY of Syamsi Tabriz” merupakan karya drawing Hajri yang paling saya sukai dalam pameran ini. Dalam drawing-nya tersebut, Hajri menggambarkan dua orang tokoh, yakni Syamsi Tabriz (sebelah kiri) yang sedang berdiskusi di sebuah ruangan bertingkat dengan seorang murid–yang saya yakini sebagai penggambaran Jalaluddin Rumi (sebelah kanan).

BACA JUGA : Mengenang Ajamuddin Tifani, Sosok Penyair Berjasa bagi Seniman Kalsel

Sedikit bicara perihal Syamsi Tabriz, ia adalah seorang master sufi yang hidup pada tahun 1185. Serupa dengan nama belakangnya, ia berasal dari kota Tabriz, sebuah kota besar yang berada di wiliyah barat negeri Iran. Selain dikenal sebagai sufi, ia juga dikenal sebagai pengembara yang tengah mencari seseorang yang tepat untuk menanamkan pemikirannya mengenai makna cinta. Cerita pengembaraannya yang paling terkenal adalah ketika ia berada di tanah Anatolia. Di sanalah ia bertemu dengan Jalaluddin Rumi, yang di kemudian hari Syamsi Tabriz berperan besar dalam memunculkan potensi spiritual terdalam Rumi.

Tema-tema perihal spiritualitas sufistik cukup banyak dituangkan Hajri dalam sebuah karya. Hal ini semacam digunakan Hajri sebagai wahana kontemplatif untuk mengingat zat yang adikodrati. Dan melalui karyanya tersebut, secara sadar-tak sadar, tanda-tanda dirinya juga hadir pada karyanya.

BACA JUGA : Romantisme Kelam Orba, Kisah Maestro Seni Rupa Banua dalam Kerangkeng Peristiwa 65

Hajri tak ubahnya Syamsi Tabriz. Melalui kelompok kecil yang ia namai Ugahari, di Kampung Buku, Hajri menggunakannya sebagai media saling belajar dengan para santrinya. Kegiatan tersebut saya tangkap persis seperti apa yang saya baca perihal Rumi yang belajar dengan Tabriz. Namun di sisi lain, Tabriz juga turut belajar dengan Rumi.

REALISME-POINTILIS dan suguhan potret keluguan adalah salah satu dari dua periode rupa yang pernah saya tangkap dari perjalanan kekaryaan seorang Badri. Dalam sebuah perbincangan, pengaruh realisme-pointilis-nya tersebut ia dapat ketika belajar dari seorang Umar Sidik yang juga merupakan seorang perupa beraliran realisme-pointilis. Aliran tersebut cukup lama ia tuangkan dalam karyanya, hingga suatu masa karya-karya Rokhyat mencuri hatinya

BACA JUGA : Riset Mendalam Tiga Dosen Sendratasik ULM, Isi Lowong Kajian Ilmiah Lagu Banjar

Bicara sedikit perihal Rokhyat, ia adalah seorang perupa yang dikenal karena eksplorasi liar dan kemampuannya menghadirkan objek dekoratif yang kecil nan detil. Selain itu, Rokhyat adalah tipikal perupa yang berprinsip untuk tidak menetap dalam satu aliran. Melalui prinsip tersebut Rokhyat menjadi perupa yang lebih dinamis.

Salah satu karya lukisan yang dipamerkan di Kambuk Banjarmasin, Jalan Sultan Adam Banjarmasin. (Foto Kambuk Banjarmasin)

Kekaguman Badri terhadap karya-karya Rokhyat tak serta-merta membuatnya langsung berpindah haluan gaya. Pada mulanya, saya melihat pergeseran tersebut bermula pada karya lukis berjudul “Hakekat yang Tak Terlihat”. Pada lukisannya itu Badri masih menggambar (melukis) dengan gaya awalnya, yakni potret realis dari wajah anak kecil yang diberi kesan pointilistik. Namun, dalam karyanya tersebut terkesan berbeda dari lukisan-lukisan Badri sebelumnya, karena setelah lukisan tersebut hampir jadi, ia membubuhkan sapuan ekspresif dan lelehan-lelehan cat berwarna violet yang tumpang-tindih.

BACA JUGA : Sihir Baru Sebuah Kota, Cerita Inisiator dalam Perkembangan Sastra di Banua

Perpindahan aliran lukis Badri semakin terlihat ketika saya melihat karyanya yang berjudul “Topeng”. Dalam karyanya tersebut Badri semakin mengaburkan gayanya terdahulu. Walau masih berupa sebuah potret anak kecil, namun kesan realis pada lukisannya tersebut terlihat minim, karena Badri hanya mengekspos seperempat bagian kepala. Selebihnya, ia mengisi ruang kosong dengan sapuan-sapuan yang brutal dan eksploratif, dengan media-media lain seperti pensil dan krayon.

Perihal perpindahan aliran semacam ini memang jarang dialami oleh seorang perupa, dan bukan sesuatu yang baru. Namun hal ini lazim terjadi. Seperti contoh Pierre Soulages, seorang maestro lukis berkebangsaan Prancis yang kini berusia 102 tahun. Pada mulanya Soulages juga beraliran realis, namun ketika berumur 60 tahun (1979), ia memutuskan untuk tak berhenti hanya pada aliran realis dan mendedikasikan dirinya sebagai pelukis abstrak yang hanya menggunakan cat berwarna hitam, hingga saat ini.

BACA JUGA : Digarap Sejak 2008, Micky Hidayat Akhirnya Luncurkan Buku Leksikon Penyair Kalimantan Selatan

MELIHAT karya Badri dalam pameran ini, ia tak lagi menyuguhkan rupa yang figuratif, melainkan tarikan-tarikan garis yang abstrak nan dekoratif, seolah ia benar-benar menegaskan dirinya sebagai perupa beraliran abstrak. Selain itu, ada vocal-point yang saya tandai sebagai pengaruh Rokhyat dalam kekaryaan Badri. Contohnya pada karya “Abah”, yang secara khusus ia dedikasikan kepada abahnya tercinta. Dalam karyanya itu, Badri memanfaatkan mesin dompeng (mesin las) yang telah rusak, melapisinya dengan cat dasar berwarna hitam dan menghiasinya dengan tarikan garis panjang yang meliuk-liuk dengan teknik plotot, persis dengan apa yang dilakukan oleh Rokhyat.

BACA JUGA : Rekam Profil Sastrawan Lokal Periode 1930-2020, Micky Hidayat Rilis Buku Leksikon Penyair Kalsel

Bagi Badri, mesin dompeng mengingatkannya pada kenangan masa kecil bersama abahnya. Di mana pada masa itu, media jalan di kampungnya adalah sungai, bukan jalanan beraspal selayaknya di kota. Itulah yang membuat keseharian Badri cukup akrab dengan sungai. Bahkan dalam sebuah obrolan, Badri menceritakan kepada saya, bahwa aktivitas perjalanan di sungai menjadi hal spesial dalam kehidupannya. Momen itu adalah ketika abahnya membawa ia untuk jalan-jalan  menggunakan perahu kecil dengan mesin dompeng sebagai mesin penggerak. Momen itu menjadi kenangan paling berkesan bagi Badri bersama ayahnya.

Melalui karya “Abah” Badri ingin mengabadikan momen bersama orang tuanya. Ia juga memaparkan kepada saya bahwa karya ini adalah sebuah upayanya untuk merawat ingatan yang telah lampau, agar tak jadi usang-berkarat.(jejakrekam)

Penulis adalah Ketua Komunitas Infinity Banjarmasin

Pengelola Kampung Buku (Kambuk) Banjarmasin

Perupa Muda Banjarmasin

Editor Ahmad Riyadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.