Bangun Kesadaran Politik, Uhaib Beber Kuatnya Cengkeraman Oligarki di Pesta Pilkada Kalsel

0

BUKU karya Dr Muhammad Uhaib As’ad menyoal soal kuatnya oligarki sebagai pemodal pemilihan kepala daerah (pilkada) di Kalimantan Selatan dibedah dalam bincang literasi di Kampung Buku (Kambuk) Banjarmasin, Jumat (24/6/2022) malam.

BUKU yang merupakan karya disertasi S3 Uhaib saat menempuh studi doktoral di Universitas Brawijaya (UB) Malang itu berjudul Pilkada dan Tambang; Oligarki yang Makin Menguat, mengupas bagaimana para pemilik modal khususnya pengusaha tambang memodali para kandidat yang maju di pesta demokrasi. Hasilnya, para pemimpin daerah pun tersandera dengan berbagai kepentingan para oligarki.

“Inilah yang membuat akhirnya politik uang (duitrokasi) akan membunuh demokrasi. Demokrasi yang kita jalankan hanya formalitas, bukan substansi, karena menjadi ajang bagi para pemodal pilkada,” kata Uhaib, membeber isi bukunya di hadapan para penyimak.

BACA : Demokrasi Indonesia Dibajak Oligarki, Ketum Partai Ummat : Kita Lawan dan Basmi!

Hadir pula, pakar hukum tata negara Prof Dr Denny Indrayana, Direktur Eksekutif Walhi Kalsel Kisworo Dwi Cahyono dan Sekretaris PWNU Kalsel Berry Nahdian Forqan sebagai pembedah.

Bagi Uhaib, apa yang terjadi di Kalsel adalah potret begitu kuatnya oligarki khususnya yang bermain tambang. Karena, menurut dia, para pemodal dari pengusaha tambang ini sebenarnya hanya ingin melanggengkan penguasaan sumber daya alam (SDA) Kalsel yang begitu kaya raya.

“Ketika demokrasi telah tersandera oleh para oligarki, jangan berharap ada pemimpin yang pro kepentingan rakyat. Mereka hanya mengabdi pada para pemodal, bukan rakyat yang memilihnya,” cetus dosen FISIP Uniska Muhammad Arsyad Al Banjary ini.

BACA JUGA : Hanya Simbol Kedaulatan Rakyat, Demokrasi Indonesia Kini ‘Dibajak’ Oligarki

Banyak fakta dan data yang diungkap Uhaib dalam bukunya itu memperkuat hipotesisnya begitu kuat dan mengakarnya para oligarki dalam menguasai sendi-sendi politik Banua.

“Ini membuktikan jika Kalsel termasuk daerah yang mengalami apa yang terjadi di dunia internasional, kutukan sumber daya alam,” cetus Uhaib.

Kisworo pun angkat suara. Menurut dia, fakta telanjang telah tersaji di Kalimantan Selatan dengan berbagai rangkaian kejadian seperti konflik agraria, penegakan hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas, hingga penguasaan SDA.

BACA JUGA : Jika Politik Transaksional, Oligarki Campur Tangan, Isra : Pilgub Kalsel Hingga PSU Contoh Anomali

“Sebenarnya, Kalsel ini bisa sejahtera tanpa tambang. Bayangkan saja, dalam UU Minerba yang kini digugat judicial review (JR) ke Mahkamah Konstitusi (MK) juga sarat kepentingan para oligarki. Harus kita sadari bahwa tambang itu merusak alam,” tegas Cak Kiss, sapaan akrab aktivis gondrong ini.

Dengan nada filosofis, Cak Kiss mengatakan jika tidak ada kesadaran bersama untuk melawan oligarki di Kalsel, sama saja membiarkan rumah sendiri rusak. “Bumi ini adalah rumah kita semua, ketika ia rusak sama dengan kita merusak rumah kita sendiri,” kata Cak Kiss.

Pernah ikut kompetisi pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur (Pilgub) Kalsel 2020, Denny Indrayana pun berbagi pengalaman. Menurut dia, perlu membangun kesadaran bersama dan mengembalikan memori sosial masyarakat terhadap problema yang dihadapi Banua.

BACA JUGA : Pertegas Wilayah Kelola Rakyat, Robohkan Oligarki Kapitalistik

“Apalagi masalah yang ada di Kalsel ini bukan rahasia umum lagi. Begitu kuatnya oligarki ini mengontrol hampir seluruh sendi kehidupan politik dan demokrasi Kalsel,” ucap Denny.

Testimoni serupa juga dilontarkan Berry Nahdian Forqan. Sekretaris PWNU Kalsel ini mengakui perlu gerakan simultan dalam menyadarkan publik pentingnya untuk menjaga bumi Kalsel.

Pengalaman yang ia rasakan saat menjabat Wakil Bupati Hulu Sungai Tengah (HST) untuk menjaga Pegunungan Meratus bebas dari tambang dan sawit, bisa membangkitkan spirit itu ke daerah lainnnya di Kalsel.

BACA JUGA : Denny Indrayana Akui Politik Kalsel Masih Dikuasai Oligarki Lokal

Bagi Berry, penting untuk membangun gerakan publik dalam menjaring para calon pemimpin ke depan yang bisa lepas dari jaringan oligarki. Hal ini semata-mata demi menjaga Kalsel sebagai paru-paru dunia yang lestari.

Berbagai pertanyaan dilontarkan para peserta diskusi bincang literasi. Seperti dari forum diskusi online via aplikasi Zoom Metting dari D. Sainul Hermawan, soal solusi ke depan.

BACA JUGA : Sekelumit Kisah Sumiati, Pemimpin Perempuan Adat Pantai Mangkiling yang Jaga Hutan Meratus

Dijawab Uhaib bahwa apa yang diungkapkan dalam buku itu tiada lain untuk menyentuh kesadaran literasi masyarakat. “Jangan tanya saya solusi. Kita tidak sedang membangun jembatan fisik, tapi jembatan kesadaran bagi masyarakat agar lebih bijak menentukan pilihannya dalam pemilu, karena hal ini berimbas pula pada nasib kita ke depan,” pungkas Uhaib.

Diskusi pun makin panas, ketika banyak penanya berbicara soal kondisi kekinian Banua, ketika hampir seluruh kontestan pilkada justru jelas-jelas terafiliasi dengan para pemodal pilkada. (jejakrekam)

Penulis Asyikin/Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.