Pentingnya Pendidikan Literasi Digital Sosial Media Dalam Konteks Bela Negara di Kalangan Remaja

0

Oleh : Muhammad Muthahari Ramadhani

KEMAJUAN teknologi  internet saat ini memberikan perubahan yang sangat signifikan di kehidupan bersosial. Lahirnya media sosial menjadikan pola perilaku masyarakat mengalami pergeseran, baik budaya, etika dan norma yang ada. Tak sedikit orang yang menjadikan dunia virtual sebagai dunia bersosialisasinya.

BERBAGAI tawaran menarik bagi penggunanya, membuat masyarakat menjadi tergila-gila dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan internet. Bukan hanya orang dewasa, peningkatan drastis juga terjadi dikalangan remaja yang didominasi anak-anak dibawah umur, juga tak mau ketinggalan untuk mengakses internet.

Hal tersebut tentu sangat mengkhawatirkan, dimana banyak masyarakat yang mengakses internet tanpa tahu dampak positif maupun negatifnya. Karena pada kenyataannya, dibalik manfaat baik yang ditawarkan internet, ternyata ada puluhan –bahkan ratusan– hal negatif  yang masih banyak tidak diketahui khalayak umum, terutama kalangan dibawah umur yang masih lugu dan polos.

Banyak masyarakat yang tidak tahu  tata krama dalam bersosial media sehingga mengakibatkan seringnya terjadi cyber bullying. Ada pula yang memanfaatkan sosial media untuk melakukan tindak kriminal yang disebut cyber crime. Belum lagi penyebaran hoax yang  cepat kesegala penjuru dunia serta masih banyak hal lain yang dapat terjadi di dunia virtual tersebut.

BACA : Cerita Halimatus, Duta Bahasa Kalsel Gerakkan Literasi ke Pelosok Desa Lok Buntar

Oleh karena itu, pemberian literasi digital mendasar sangat diperlukan bagi pengguna sosial media, terlebih untuk kalangan milenial dan gen-z sebagai pengakses terbanyak. Mereka perlu tahu, dengan apa mereka berhadapan, dengan siapa mereka berbicara, lalu  konsekuensi apa saja yang harus diterima ketika menggunakan sosial media secara bebas  serta perilaku apa yang perlu dihindari dan dilakukan ketika mengakses sosial media.

Sosial media sekarang ini bagai kebutuhan primer manusia modern. Disegala kebutuhan manusia, ada saja sosial media memiliki peran di dalamnya, entah sekadar berbagi momen kehidupan sampai kepentingan bisnis. Yang pada awalnya hanya dianggap sebagai intermezzo belaka, kini banyak bermunculan para ahli sosial media yang melihatnya sebagai peluang besar bagi kehidupan masa depan. Namun lambat laun, rasanya sungguh membingungkan mengapa pengelolaan sosial media bisa sampai memiliki pengaruh yang begitu besar bagi kehidupan dewasa ini.

BACA JUGA : Ada Kasus Terorisme di Banjarmasin dan HSS, FKPT Kalsel Akui Literasi Digital Minim

Menurut riset mengenai pola pemakaian media sosial oleh We Are Social pada awal 2022, dari total populasi Indonesia sebanyak 274,9 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 170 juta. Artinya, jumlah pengguna media sosial di Indonesia setara dengan 61,8% dari total populasi pada Januari 2022. Angka ini juga meningkat 10 juta, atau sekitar 6,3% dibandingkan tahun lalu.

Ya, pengguna media sosial memang sangat banyak, bahkan akan semakin banyak nantinya. Banyaknya pengguna sosial media tersebut dapat menggambarkan bahwa, walaupun belum mencapai 100%, namun bisa dibilang Indonesia sudah mulai melek sosial media dan segala hal tentangnya. Walaupun tidak disebutkan rentang usia pengguna media sosial di Indonesia, namun bila melihat sekitar, rasanya bisa kita asumsikan secara kasar bahwa penggunanya mayoritas dari remaja hingga dewasa muda.

BACA JUGA : Japelidi Petakan dan Gali Kompetensi Literasi Digital Generasi Muda Indonesia Timur

Masyarakat dari segala penjuru dunia mendapat kebebasan dalam berekspresi di sosial media.  Salah satu kehawatiran yang muncul adalah jumlah generasi muda yang mengakses internet sangat besar, yaitu kurang lebih 70 juta orang, termasuk pengakses di bawah umur. Pengakses di bawah umur kadang tidak mendapat tempat khusus dan mereka tetap dengan mudahnya mengakses kemana saja, bahkan ke situs yang tidak seharusnya mereka lihat dan ketahui.

Di setiap aplikasi, ada keterangan batas umur aksesibelitas  aplikasi yang bersangkutan, contohnya seperti aplikasi TikTok yang memiliki batas umur pengunduh yaitu 12+. Namun faktanya, pengakses aplikasi tersebut bahkan ada yang masih berumur 10 tahun. Alasan anak-anak mengunduh walaupun belum diumur yang diharuskan adalah karena mereka merasa internet tidak berbahaya dan mereka akan baik-baik saja.

BACA JUGA : Unggah Konten Ragukan Pancasila di Medsos, Mahasiswi ULM Diperiksa Polda Kalsel

Penelitian menunjukkan bahwa data akses anak Indonesia terhadap konten berbau pornografi per hari rata-rata mencapai 25 ribu orang. Belum lagi perilaku berinternet yang tidak sehat, ditunjukkan dengan menyebarnya berita atau informasi hoaks, ujaran kebencian dan intoleransi di media sosial.

Fakta   menunjukkan   bahwa   anak-anak pengguna media sosial aktif, mengkonsepkan  dirinya  tidak  seperti  yang semestinya, tetapi mereka membentuk konsep diri seperti orang-orang dewasa yang mereka  lihat  di media  sosial. Hal itu disebut  Piliang   (2004) sebagai dunia   sosial yang   dilipat,   dimana suatu dunia   yang mengalami  percepatan  dalam  segala  aspek. Adanya   perlipatan   atau   percepatan   dunia sosial,  telah  menyebabkan  hilangnya  batas sosial dalam kehidupan masyarakat.

BACA JUGA : Diajari Bikin Website, Pelaku Usaha Kuliner Banjarmasin Dilatih Promosi Produk di Medsos

Artinya, peran media sosial dalam menciptakan konsep  diri pada  anak pengguna aktif media sosial, sangatlah krusial. Banyak dari mereka yang berpikir bahwa sosial media adalah tempat yang baik dan selalu benar, sehingga mereka tidak memiliki filterisasi  di dalam diri untuk memindai yang mana yang baik, mana yang buruk, mana yang bisa diikuti dan mana yang tidak. Anak-anak menjadikan konten-konten dewasa menjadi tontonan favorit sehingga terbentuklah suatu kegemaran yang tidak seharusnya menjadi milik mereka.

Hal tersebut dapat mempengaruhi pola pikir dan pola tindak dari anak remaja tersebut. Semakin banyaknya kasus-kasus kekerasan yang terjadi di media dan maraknya penipuan yang terjadi di masyarakat, memberikan suatu kekhawatiran bagi perkembangan dan mentalitas anak-anak usia remaja. Media tidak hanya menjadi pusat bagi kehidupan sosial dan budaya remaja, melainkan juga penting dalam membentuk konsep kita akan remaja sebagai kategori generasi yang berbeda (Osgerby, 2004). Dari sinilah kita sadar, bahwa literasi digital sangat penting diberikan kepada remaja, agar generasi bangsa tidak salah dan membahayakan dirinya sendiri.

BACA JUGA : Ketika Medsos Kita Dijejali Kabar Corona

Pengguna yang semakin banyak, tentu diiringi dengan semakin maju dan berkembangnya teknologi yang menyertainya. Katakanlah kita sebagai orang awam, memang tidak tahu-menahu perihal apa isi media sosial yang sebenarnya, siapa yang bertanggung jawab atas segala jenis postingan pengguna di seluruh dunia dan bagaimana cara kerja mereka sesungguhnya di kantor super mewahnya di negeri nun jauh di sana. Namun yang bisa kita lihat secara jelas ketika membuka beranda media sosial setiap hari adalah, betapa bagusnya kerja algoritmanya.

Misal, saat menonton video di Youtube tentang tips untuk lolos CPNS, padahal hanya 1 video, tapi ketika video pertama sudah selesai kita tonton, maka rekomendasi video serupa mulai bermunculan dengan maksud memberi saran tontonan serupa. Kita yang rasa penasarannya belum terpuaskan, maka rekomendasi video-video tersebut salah satunya kita klik dan tonton, setelah selesai, muncul lagi rekomendasi video serupa berikutnya, selalu seperti itu tak pernah berhenti sampai kita sendiri yang menyudahinya.

BACA JUGA : Etika dalam Bermedia Sosial

Bukan hanya Youtube, Instagram juga serupa. Mayoritas akun yang kita ikuti, maka akun-akun serupa juga akan direkomendasikan tampil di beranda. Pengikut yang sering berinteraksi dengan kita, maka akunnya akan menjadi akun prioritas di beranda kita. Apabila kita sedang mengikuti akun-akun selebgram yang kontennya seputar fashion, maka rekomendasi yang tampil di beranda adalah hal serupa dan terkait. Bahkan, halaman jelajah pun akan menampilkan hal serupa pula, feeds jelajah pasti penuh konten fashion. Ada lagi Facebook, Twitter, Tiktok, Pinterest dan lainnya yang juga memiliki algoritmanya sendiri.

Dari gambaran situasi tersebut, bisa dilihat bahwa apa yang kita konsumsi di media sosial sangat berpengaruh terhadap apa yang kita kosumsi selanjutnya. Konten yang kita konsumsi secara berkelanjutan akan membentuk sebuah pola yang mengikuti jejak kegiatan di media sosial. Hal tersebut saling ketergantungan satu sama lain. Semakin spesifik konten yang kita konsumsi di media sosial, pola di beranda media sosial akan semakin terbentuk pula, dan hal tersebut berkemungkinan besar dapat menyita waktu yang lebih lama untuk menatap media sosial di layar smartphone kita.

BACA JUGA : Agar Tak Stres Corona, Antropolog ULM Sarankan Jaga Jarak Bermedia Sosial

Apabila konten yang kita sukai merupakan hal berbau edukasi, maka lambat laun semakin teredukasilah dirimu tiap harinya. Terlepas dari serangan hoax yang merajalela, konten edukasi adalah target produk yang akan kita konsumsi setiap harinya. Nah bayangkan, kalau seorang pengguna media sosial hobi mengonsumsi konten gossip, prank, bully, kekerasan, bahkan porno, kita tentu dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengannya.

Hal tersebut membuat para pengguna media sosial dewasa ini menjadi terkotak-kotakan. Terkadang, trending pun tidak benar-benar bisa menyatukan para pengguna seluruh dunia, bahkan indonesia. Ketimpangan informasi pun terjadi akibat penerapan algoritma. Semakin rapi sebuah algoritma, maka pola kegiatan dan konten yang terpampang di media sosial pun akan semakin spesifik pada hal yang tertuju. Dan akibatnya, tak jarang informasi tidak benar-benar cepat sampai ke para pengguna tertentu. Tak jarang pula, hoax akan tetap menjadi hoax dan kebenaran hanya pun akan berdiam pada tempatnya.

BACA JUGA : Demokrasi 4.0 dan Media (Kesalehan) Sosial Kita

Zaman modern yang memicu kemajuan teknologi membuat para penggunanya meningkat dengan signifikan, terlebih teknologi  informasi yang selalu menjadi teknologi yang paling mudah diakses oleh setiap kalangan dari berbagai golongan umur. Namun banyak pihak yang masih belum paham bahwa teknologi tersebut walaupun menawarkan kemudahan dan keistimewaan, juga memiliki sisi negatif yang perlu dengan bijak dipahami dan ditanggapi.

Apalagi dengan munculnya modernisasi dan westernisasi dimana budaya Barat lebih digandrungi oleh anak muda ketimbang budaya leluhur. Lihat saja, sudah banyak budayawan yang berumur uzur, namun anak muda tidak tertarik dengan hal yang berbau budaya asli Indonesia. Rasa Nasionalisme para kawula muda lebih condong kepada budaya populer yang menyuguhkan keramaian dan hal yang fana, namun tidak memiliki prospek yang baik kedepannya untuk melahirkan generasi yang siap membela negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

BACA JUGA : Bijak Bersosial Media, Stop Praktik Perundungan

Ini perihal apa yang sebenarnya mereka akses dan dampak apa yang akan didapatkan setelah akses tersebut, terutama bagi anak remaja di bawah umur. Mereka masih sangat perlu bimbingan dan literasi digital yang mendasar agar paham benar dengan apa yang sebenarnya dihadapi, hingga akhirnya bisa mengerti apa yang boleh dan tidak boleh serta apa yang benar dan apa yang salah di internet. Teknologi informasi sangat berpengaruh dengan pembangunan konsep diri pengguna remajanya, sehingga sangat perlu perlakuan bijak akan literasi digital yang benar untuk membimbing mereka dalam mengakses internet.

Contoh konkretnya sungguh sederhana, pengguna media sosial yang isi berandanya penuh dengan topik “Teori Konspirasi bahwa”, “Kelompok A adalah Buzzer” “Pemuka Agama A dan B adalah Pemecah Belah”, pasti mereka terbentuk menjadi sebuah kerumunan daring yang akhirnya kompak menyetujui bahwa informasi yang mereka konsumsi adalah yang paling benar. Hal tersebut saja sudah mengerikan, mari bayangkan apabila hal tersebut nantinya akan tersangkut politik, saat pemilu misalnya.

Bahkan mungkin sebuah perang bisa saja pada akhirnya terjadi hanya karena opini atau informasi yang disalah gunakan oleh pengguna media sosial. Netizen Indonesia pada umumnya menyukai berita negatif dan isu-isu hangat seputar gossip dan keburukan seorang public figure karena menurut pola fikir mereka ‘Bad News is a Good News’. Sehingga memunculkan unsur bela negara dengan mengkonsumsi berita inspiratif dan positif itu menjadi hal yang sulit.

BACA JUGA : Dewan Pers: Perkuat Basis Pembaca Media Online

Mari kita bahas tentang algoritma. Sebenarnya, apa itu algoritma? Algoritma adalah seperangkat aturan yang menentukan bagaimana sekelompok data berperilaku. Nah, gambaran di paragraf sebelumnya merupakan bagaimana cara kerja algoritma di media sosial. Apa yang kita cari, yang kita sukai dan yang kita bagikan, termuat dalam database besar yang terkelola oleh sistem tertentu dan menghasilkan algoritma tertentu.

Jadi, apakah media sosial dikendalikan oleh algoritma? Mungkin iya, tapi bisa jadi bukan. Iya, karena memang terlihatnya seperti itu. algoritma media sosial mampu membuat kita tinggal lebih lama di sebuah media sosial sehingga hal tersebut dapat dimanfaatkan para pengiklan daring untuk menambah porsi jam tayangnya pada beranda. Jadi, algoritma adalah sumber uang bagi siapapun yang bekerja dibalik itu semua.

BACA JUGA : Keniscayaan Aksi Komunikasi Publik Dalam Satgas Covid Mengikuti Bahkan Mendahului Dinamika Sosial

Namun bisa jadi bukan, karena algoritma hanya sistem yang sifatnya lunak dan tentu saja bisa dimodifikasi semau kita. Bila saja kita memanfaatkan media sosial untuk benar-benar menjelajah sehingga konten yang terkonsumsi pun ragamnya banyak, maka algoritma agak kesulitan mengendalikan media sosial kita. Apalagi kalau kita memainkan media sosial tak menghabiskan banyak waktu, maka algoritma tidak akan bisa melakukan pekerjaannya dengan baik.

Jadi, siapa yang mengendalikan media sosial yang sebenarnya? Melihat jawaban algoritma adalah iya, mungkin dengan lantang kita bisa sebut bahwa segalanya adalah uang. Namun kurang puas rasanya apabila pertanyaan tersebut hanya terjawab oleh uang, pasti ada hal lain yang lebih spesifik dan mungkin lebih abstrak untuk dapat kita ketahui.

Namun apabila berpacu pada jawaban tidak, maka artinya manusia itu sendiri yang memegang kendali. Akan tetapi, apabila manusia yang memegang kendali, mengapa manusia mudah sekali terkendali oleh algoritma itu sendiri.

BACA JUGA : Waspadai Berita Hoax dan Paham Radikalisme, Dit Intelkam Polda Kalsel Gelar Sosialisasi ke Ponpes

Mungkin penjelasan panjang di atas tidak dapat benar-benar menjawab rumusan masalah yang tertera, namun setidaknya kita menjadi tahu bahwa media sosial tidak berdiri sendirian, ada yang mengendalikannya yang kita belum tahu siapa dan bagaimana. Bahwasannya, media sosial memegang kendali yang besar dalam kehidupan sosial dewasa ini, walaupun masih diperdebatkan siapa dan bagaimana sebenarnya yang mengelola media sosial.

Hal tersebut menjadi sebuah pertanyaan karena semakin kesini, media sosial pengaruhnya sangat kuat bagi sebuah negara dalam aspek apapun, termasuk identitas negara Indonesia yang memiliki sejarah panjang sebagai negara yang kuat fondasi dalam membela negara.

Hal ini harus menjadi perhatian bagi seluruh aspek karena kontrol sosial media dalam aspek literasi digital adalah dimulai dari lingkungan kecil seperti keluarga, pertemanan hingga diri sendiri. Konsumsi berita sehat juga membuat psikologis anak muda lebih sehat dan tentram, karena dijauhkan dari berita negatif serta hoax.(jejakrekam)

Penulis adalah Dosen CPNS Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin

Peserta Latsar CPNS Angkatan XXIV – PUSLATBANG KDOD LAN Samarinda Tahun 2022.

Tinggal di Banjarbaru

Editor Ahmad Riyadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.