Babaya Kawa Bakaraut

0

Oleh : Noorhalis Majid

BARU bermula mengawali hidup, belajar bagaimana seharusnya hidup – menata dan membangun jalan hidup, karenanya jangan tumpuk beban terlalu berat, nanti malah tidak bergerak. Awal hidup yang berat, membuatnya menjadi sulit, itulah yang dimaksud babaya kawa bakaraut.

BELUM terlalu mampu bergerak, itulah makna harfiahnya. Bakaraut, digambarkan seperti orang yang tidak bisa berjalan – namun sangat ingin berjalan, sehingga berusaha sekuat tenaga, hingga dengan cara merayap – mengerahkan segenap kemampuan dimiliki, agar tubuh bergerak maju. Dipinjam sebagai perumpamaan untuk mengiaskan diri dalam memulai hidup.

Sebagian besar orang yang baru memulai hidup, mesti belajar berbagai hal. Mulai pengelolaan keuangan rumah tangga, hingga menata soal-soal lainnya agar tahapan demi tahapan membentuk jejak hidup yang seharusnya. Banyak teori soal siklus hidup, hanya saja tidak semua siklus tersebut berjalan mulus, bergantung potensi dan beban yang dipikul. Bila potensinya besar dan bebannya ringan, tentu semuanya menjadi sangat mudah, namun bila sebaliknya – potensinya kecil dan bebannya berat, pastilah serba kesulitan.

BACA : Kuliner Banjar; Refleksi di Ujung Lidah, Warisan yang Tak Boleh Luntur

Memulai kehidupan, termasuk berumah tangga, tidak ada ubahnya dengan belajar berjalan. Ketika baru belajar, jangan ada beban pada tubuh. Cukup belajar mengangkat dan menggerakkan tubuh sudah terasa sulit, apalagi bila ditambah beban – mustahil mampu menggerakkan tubuh.

Beban, bisa berupa keinginan. Kurangi banyak keinginan yang tidak penting. Penuhi segala yang dibutuhkan saja, bila ada kelebihan, barulah memenuhi sebagian keinginan yang beririsan dengan kebutuhan. Beban, bisa pula berbentuk persoalan, hindari persoalan yang tidak penting menjadi soal hidup, urus yang pokok-pokoknya saja – tidak perlu hingga ke cabang dan ranting persoalan, kecuali bila potensi sudah mulai ada, bolehlah ikut mengurusi soal-soal yang menjadi cabang dan rating dari pokok persoalan.

BACA JUGA : Teranyar ‘Dijamak Jibril’, Dokumentasikan Paribasa Banjar Berisi Nasihat dalam Tiga Buku

Ungkapan ini memberikan pelajaran, kalau potensi masih sangat minimal, jangan bebani diri dengan hal-hal yang besar, agar lebih mudah bergerak – menjalani hidup. Tidak ada yang memulai hidup dengan langsung berlari, semuanya mesti belajar merangkak. Hindari beban yang tidak penting dan berpotensi menghambat pergerakan, sadari bahwa kondisi setiap yang baru memulai, pasti babaya kawa bakaraut.(jejakrekam)

Penulis adalah Pemerhati Budaya dan Bahasa Banjar

Staf Senior Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin

Editor Ahmad Riyadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.