Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan Lailatul Qadar

0

Oleh : Humaidy Ibnu Sami

GURU besar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Bambang Subiyakto menulis dalam makalahnya mengenai berbagai riwayat hidup Syekh Muhamamd Arsyad Al Banjari.

BERDASAR analisis Bambang Subiyakto bahwa yang sangat menonjol dari Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari adalah karakter religius yang teramat kuat, di samping karakter lainnya.

Wajar, sejak dini, Syekh Muhammad Arsyad ditanamkan karakter religius oleh kedua orangtuanya. Yakni, ayahnya bernama Abdullah (mirip nama ayah Baginda Nabi Muhammad SAW), yang merupakan ulama besar berdarah Hindi, Tionghoa dan Ahlul Bait yang sangat dihormati masyarakat Lok Gabang bahkan oleh Kesultanan Banjar. Sedangkan ibunya bernama Aminah (mirip nama ibu Nabi Muhammad Saw) yang terkenal sebagai perempuan salehah.

BACA : 4 Kontribusi Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari bagi Nusantara

Mereka berdua merupakan pasangan suami istri yang serasi dalam membina rumah tangga yang sakinah, mawadddah warahmah. Saat kehamilan pertama calon anaknya, mereka berdua menginginkan anak yang saleh, berilmu luas dan berbudi luhur.

Jadi, dari dalam kandungan Arsyad sudah diproses dan dibentuk untuk mempunyai karakter religius lewat khidmatnya Abdullah dan Aminah menjalankan ibadah. Tidak hanya yang wajib-wajib saja, tapi juga yang sunat-sunat terutama shalat Tahajjud dan Qiyamullail.  Apalagi di saat bulan Ramadhan yang penuh rahmah, magfirah dan berkah makin inten dan meningkat saja kegiatan ibadahnya.

Diriwayatkan oleh Abu Daudi di dalam suatu bulan Ramadhan bahwa Abdullah dan Aminah mendapat anugerah Lailatul Qadar persis saat Arsyad akan dilahirkan, mereka seraya mendoakan agar anak sulungnya ini menjadi ulama besar.

BACA JUGA : Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari; Perintis Embrio Nasionalisme Indonesia

Demikian pula ketika Arsyad sudah dibawa oleh Sultan Tahlilullah dari kerajaan Banjar untuk dididik di istana. Kembali Arsyad di dalam suatu Ramadhan memperoleh anugerah Lailatul Qadar, kali ini tidak lagi lewat orangtuanya, tapi langsung  hasil upayanya sendiri bertaqarrub ilallah. Beberapa orang melihat tubuh Arsyad terangkat mengambang di udara beberapa meter dari pembaringan atau tempat sujudnya.

Kemudian ketika Arsyad melanjutkan studinya ke Haramain (Makkah dan Madinah), konon menurut riwayat Abu Daudi lagi, beberapa kali ia memperoleh Lailatul Qadar hingga ia menjadi seorang ulama besar.yeng memperoleh ilmu dari belajar dan dari limpahan (ladunni). Arsyad juga sempat berdoa ketika mendapat Lailatul Qadar agar tujuh turunannya menjadi orang alim bahkan sempat juga minta lagi seluruh keturunannya menjadi orang alim.

BACA JUGA : Gelar Al Banjary dan Budaya Lokal dalam Ijtihad Syekh Muhammad Arsyad

Hal yang disebut terakhir ini terbukti sampai sekarang. Hampir ulama-ulama besar yang muncul di sekitar Kalimantan, bisa dipastikan kebanyakan masih punya garis keturunan dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari karena ia sudah sejak dini membangun karakter religiusnya sehingga terus terbina hampir mencapai tingkat sempurna.

Konon, menurut riwayat Abu Daudi lagi, ketika ia berguru tasawuf kepada Syekh Abdul Karim Samman Al-Madani bersama teman-temannya (Syekh Abdussamad Al-Palembani, Syekh Abdurrahman Misty Al-Batawi dan Syekh Abdul Wahab Bugis), dikatakan yang paling sempurna khalwatnya adalah dia hingga mendapat gelar Khalifah.

BACA JUGA : Pengusulan Pahlawan Nasional, Syekh Muhammad Arsyad Dulu, Baru Pangeran Hidayatullah

Demikian juga dalam mengajarkan ilmu, ia tidak hanya mempunyai murid bangsa manusia, tapi juga dari bangsa jin. Salah satu muridnya dari bangsa jin bernama Badakut Almina (Datu Baduk) yang berkhadam kepadanya dan anak cucunya ikut serta pulang ke Martapura dan tak pernah pulang lagi ke Timur Tengah.(jejakrekam)

Penulis adalah Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari

Peneliti senior LK3 Banjarmasin

Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.