Jangan Mambawa Gantang Saurang

0

Oleh : Noorhalis Majid

UNTUK mengukur sesuatu, apalagi terkait nilai (value) – menyangkut baik buruk – norma, mestinya menggunakan ukuran setempat, sesuai apa yang berlaku pada masyarakat tempatan – kaidah umum, tidak sesuka dan semau diri sendiri, apalagi memaksakan ukuran pribadi kepada orang lain, itulah yang dimaksud jangan mambawa gantang saurang.

JANGAN membawa ukuran sendiri, begitu arti harfiahnya. Gantang, adalah alat takar untuk melihat volume beras atau padi. Biasanya, agar tidak ada silang sengketa soal ukuran, disepakati dulu gantang mana yang akan dipakai. Boleh jadi tiap gantang ada perbedaan volume, sehingga perlu kesepakatan agar tidak ada yang dirugikan.

Gantang, dipinjam untuk melihat dinamika kehidupan. Ternyata, ada banyak silang sengketa menyangkut berbagai ukuran di luar benda, terutama terkait nilai-nilai kehidupan bermasyarakat – bergaul, berteman atau berinteraksi dengan banyak orang. Apalagi bila setiap orang menonjolkan nilainya masing-masing, pasti akan runyam.

BACA : Teranyar ‘Dijamak Jibril’, Dokumentasikan Paribasa Banjar Berisi Nasihat dalam Tiga Buku

Idealnya, kita tunduk dan patuh pada nilai-nilai yang sudah berlaku umum, terlebih kalau sudah menjadi kesepakatan masyarakat. Karena, pasti nilai tersebut melalui proses panjang, termasuk perdebatan, pertentangan dan sudah mempertimbangkan baik serta buruknya. Kalau suatu nilai tidak bisa diterima, pasti akan tertolak – bahkan hilang, digantikan nilai lainnya yang lebih bisa diterima.

BACA JUGA : Kuliner Banjar; Refleksi di Ujung Lidah, Warisan yang Tak Boleh Luntur

Jangan memaksakan ukuran atau keyakinan diri sendiri, karena kalau pun dilakukan, akan terasing dari masyarakat. Misal, menutup aurat itu menjadi nilai yang berlaku bagi masyarakat, lalu ada yang tidak mau mempedulikannya.

Sesuka hati tidak mengenakan pakaian yang pantas di muka umum, menganggap hal tersebut urusan pribadi, yang penting tidak merugikan orang lain, tidak mencuri – korupsi dan sebagainya yang dianggap lebih substansi, maka hal tersebut pastilah bertentangan dengan kebanyakan orang.

BACA JUGA : Peribahasa Banjar untuk Kritik Pembangunan di Kalsel

Ungkapan ini memberikan pelajaran, belajarlah memahami, mengikuti dan menyesuaikan nilai yang berlaku umum pada masyarakat. Jangan sekehendak hati, karena kita semua hidup dalam masyarakat yang sudah terikat dengan nilai budaya dan bahkan agama serta keyakinan. Jangan membawa ukuran sendiri, apalagi sampai ngotot dan tidak mau peduli. Kalau ingin diterima masyarakat umum, jangan mambawa gantang saurang.(jejakrekam)

Penulis adalah Pemerhati Budaya dan Bahasa Banjar

Staf Senior Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin

Editor Ahmad Riyadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.