Pawang Hujan dan the Savage Mind

0

Oleh : Nasrullah

APRESIASI diberikan kepada pawang hujan yang mampu mengendalikan atau mengkondisikan curah hujan dari langit untuk pertunjukan balapan di sirkuit Mandalika.

SEGERA momentum ini menjadi viral. Kajian antropologi memang melihat bahwa kepercayaan masyarakat atau praktik pawang hujan itu ada dan dipercayai masyarakat

Ketika aksi pawang hujan ini berlangsung di Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) diliput berbagai media, dan para pejabat negara ada di sana, saya segera teringat The Savage Mind dari Levi Strauss bahwa pemikiran primitif dan modern itu sama saja.

BACA : Gubernur Kalteng Sugianto Berani Bayar Rp 5 Miliar bagi Pawang Hujan

Bahkan aksi seperti pawang hujan ini, malah sudah menjadi ikon pertunjukan. Artinya sampai sekarang pun orang masih percaya terhadap hal-hal berkaitan kepercayaan yang membutuhkan upaya di luar naral.

Bahkan aksi pawang hujan mampu menjadi performance yang menyaingi balapan. Namun, akankah hal tersebut tidak akan lagi menjadi sacral ketika menjadi sebuah pertunjukan dengan riuh rendah tepukan penonton? Lalu bagaimana pula ketika saat bersamaan di berbagai tempat di Nusantara ini, justru hujan deras dan bencana banjir berlangsung. Maka inilah binary oposisi, yang satu sisi hujan bisa ‘dikendalikan’, di sisi lain, terjadi banjir di berbagai tempat.

BACA JUGA : Berbiaya Rp 1 Triliun, BWS Kalimantan III Golkan Proyek Tangkal Banjir Banjarmasin, Ini Daftarnya!

Maka kajian antropologi, berupaya mengungkap logika dari pertunjukkan atau ritual tersebut. Apakah aksi pawang hujan ini sebagai aktivitas tunggal, tanpa ada aksi atau support lain  yang saintis mendahuluinya. Mengapa pemerintah tidak menggunakan jasa pawang hujan untuk menahan hujan di berbagai tempat agar tidak terjadi banjir atau kemarau?

BACA JUGA : Upacara

Terakhir, jika selama ini upacara atau ritual yang sacral itu hanya komunalitas, maka kini, termasuk ritual kendi Nusantara dan aksi pawang hujan di sirkuit Mandalika adalah sebuah pertunjukkan termediasi yang menembus batas geografis.

Maka pertanyaannya ada apa di balik semua ini, apakah hanya sebuah kebetulan saja, atau kah episode ritual ini akan berlanjut dalam moment lain.(jejakrekam)

Penulis adalah Antropolog Universitas Lambung Mangkurat (ULM)

Dosen Program Studi Pendidikan Sosiologi FKIP ULM

Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.