Husairi Abdi

Dari Tabuhan Gamalan Banjar dan Diskusi Ihwal Kopi yang Mewarnai Tradisi Banua

0

TABUHAN gamalam Banjar turut memeriahkan diskusi buku di Rumah Oettara Banjarbaru, Sabtu (12/3/2022). Kedai kopi ini menyuguhkan diskusi buku Biji-biji Kopi yang Bercerita di Bumi Borneo menjadi lebih bermakna.

PERPADUAN gamalan Banjar yang dimainkan para seniman tradisi ini dikoordinir Novyandi Saputra, sang owner Rumah Oettara. Sebab, menurut Novyandi, setiap tanggal 9 Maret diperingati sebagai hari musik nasional. Tentunya, kalangan musisi bunyi-bunyian juga turut memeriahkannya.

“Apalagi, United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (Unesco) telah menetapkan gamelan sebagai salah satu warisan budaya tak benda pada 15 Desember 2021,” kata Novyandi.

Lewat Mailun Gamalan Banjar dari Sanggar Kemilau Intan Kalsel dengan memainkan beberapa reportoar lagu Gamalan Banjar selama satu jam, para pengunjung sekaligus peserta diskusi buku bisa terhibur.

BACA : BTSD, Karya Novyandi Saputra; Bawa Gamalan Banjar ke Ruang Pop Urban

“Kamimengundang para seniman Gamalan Banjar untuk menabuh bersama sebagai bentuk suka cita karena gamalan Banjar menjadi salah satu gamelan yang ikut serta dalam pengakuan dunia tersebut,” kata akademisi sendratasik FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini.

Buku Biji-biji Kopi yang Bercerita di Bumi Borneo, karya Syam Indra Pratama yang dibedah di Rumah Oettara Banjarbaru. (Foto Istimewa)

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Banjarbaru, Ahmad Yani Makkie mengapresiasi kegiatan berkesenian sekaligus diskusi ilmiah soal eksistensi kopi khas Borneo.

BACA JUGA : Menyusuri Kenikmatan Secangkir Kopi dari Borneo Bagian Selatan

“Memang melalui musik tradisional maupun musik modern, kita bisa mengekspresikan diri dengan menuangkan ide dan perasaan,” kata Yani Makkie.

Ketua Harian Dewan Kesenian Kota Banjarbaru ini lewat pelestarian musik tradisi bisa melawan arus globalisasi, apalagi saat ini musik mancanegara sudah merambah ke Indonesia. “Hal ini mengakibatkan musik tradisional semakin terpinggirkan,” ucap Ahmad Makkie.

BACA JUGA : Sapa Penikmat Kopi, Rumah Oettara Koffie Kembali Buka di Banjarbaru

Sementara itu, dalam ngobrol buku Biji-biji Kopi yang Bercerita di Bumi Borneo karya Syam Indra Pratama, turut menghadirkan akademisi sejarah ULM Mansyur. Buku karya wartawan muda ini menceritakan ihwal kedatangan kopi ke Banua, hingga akhirnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kalsel.

Hal ini juga diakuri Mansyur. Dosen muda program studi Pendidikan Sejarah FKIP ULM ini pun mengungkap banyak fakta sejarah soal hadirnya biji kopi yang didatangkan oleh kolonial Belanda, hingga muncul berbagai varietas kopi lokal dari kopi Pengaron, hingga kopi-kopi lainnya.(jejakrekam)

Penulis Sheilla Farazela
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.